Punagaya, Petrominer – Setelah sukses menggandeng dua bank sampah, PT PLN (Persero) membidik belasan bank sampah lainnya untuk memasok limbah bonggol jagung sebagai campuran batubara dalam program cofiring Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Punagaya di Jeneponto, Sulawesi Selatan. Pasokan bonggol jagung yang sekarang 15-30 ton per hari diharapkan bisa meningkat jadi 30-50 ton per hari.
General Manager PLN Unit Induk Pembangkitan & Penyaluran Sulawesi, Jarot Setyawan, menjelaskan dua bank sampah binaan PLN Unit Pelaksana Pembangkitan (UPK) Punagaya memasok 15 ton per hari limbah bonggol jagung sejak Agustus 2022. Limbah bonggol jangung dengan kuantitas bahan bakar pengganti ini diperoleh setiap tiga bulan periode panen.
“Bank sampah Sabrina dan Bori’ Matangkasa merupakan binaan dari Program Tanggung Jawab Sosial Lingkungan (TJSL) PLN. Limbah bonggol jagung digunakan dalam cofiring PLTU Punagaya sejak Agustus 2022, dengan perbandingan campuran 1:99,” ungkap Jarot, Senin (26/12).
PLTU Punagaya 2×100 megawatt (MW) berlokasi di Desa Punagaya, Kecamatan Bangkala, Jeneponto, Sulawesi Selatan. Pembangkit listrik ini dibangun sejak Mei 2015 dan mulai beroperasi bulan Juli 2018.
Program cofiring PLTU Punagaya telah berlangsung sejak 10 Februari 2021 dan berhasil memanfaatkan kurang lebih 77,5 ton limbah domestik masyarakat di sekitar PLTU. Dalam menjaga rantai pasok bonggol jagung, PLN bekerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Jeneponto dengan menggandeng masyarakat lokal setempat.
Kehadiran bank sampah dan program cofiring PLTU ini menjadi babak baru bagi para petani. Bonggol jagung yang biasanya dibuang setelah dipipil, kini mulai dikumpulkan dalam karung atau disimpan di suatu tempat atau bank sampah bonggol jagung.
Melalui usaha kreatif pemanfaatan bonggol jagung sebagai bahan bakar pengganti atau campuran batubara (cofiring), limbah bonggol jagung pun termanfaatkan untuk mendukung operasi PLTU Punaga yang lebih ramah lingkungan.
Jarot mengatakan kerja sama antara PLN dengan masyarakat sekitar PLTU Punagaya adalah simbiosis mutualisme yang menguntungkan kedua belah pihak. Karena, kini bonggol jagung yang dulunya sekadar limbah menjadi bernilai ekonomis.
“Kami menjalankan skema rantai pasok yang saling menguntungkan bagi warga sekitar. Mulai dari memberikan bantuan bibit jagung untuk program ladang energi, yang selanjutnya sampah bonggol jagung akan dikumpulkan ke bank sampah dengan gerobak motor bantuan TJSL PLN, dan akhirnya dicacah dan dikirim ke PLTU Punagaya,” ucapnya.
Menurut Jarot, saat ini kemampuan pasok bonggol jagung dari bank sampah mencapai 15 ton per hari selama tiga bulan masa panen. PLN akan terus memperbanyak skema kerja sama bank sampah dan Ladang Energi di sekitar PLTU Punagaya. Dengan begitu, mampu menciptakan ekosistem listrik kerakyatan dan diharapkan mampu memenuhi pasokan bonggol jagung sebesar 25 ton per hari.
“Tahun 2023 nanti kami akan memperluas skema kerja sama bank sampah. Targetnya akan ada tambahan sekitar 10-15 bank sampah yang langsung terintegrasi dengan aplikasi mall sampah. Program ini bertujuan untuk mengurangi ketergantungan pada satu pemasok dan menyediakan sumber-sumber bonggol jagung dari pemasok lain dengan harga yang kompetitif,” jelas Jarot.
Kepala Desa Galesong, H. Amir Guliling, memaparkan bahwa Kabupaten Takalar dan Jeneponto merupakan salah satu lumbung jagung di provinsi Sulawesi Selatan. Potensi jagung di Kabupaten Takalar sangat besar. Rata-rata per hektar bisa menghasilkan 2 ton per masa panen. Dari jumlah tersebut, sekitar setengah ton adalah limbah bonggol jagung.
Namun, adanya kerja sama dengan PLN telah membantu mengatasi masalah limbah tersebut. Pemanfaatan limbah bonggol jagung telah memberikan sumber pemasukan tambahan dan sekaligus mengurangi sampah.
“Kami tentunya menyambut antusias kerja sama pemanfaatan bonggol jagung melalui bank sampah ini. Kerjasama yang digagas PLN ini terbukti mampu memberikan manfaat ekonomis bagi warga sekitar, khususnya pengolahan sampah domestik menjadi bahan yang bernilai ekonomis,” ungkap Amir.








Tinggalkan Balasan