Badan Geologi Rekomendasikan Lokasi Pengungsian

0
478
Kiri ke kanan: Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Eko Budi Lelono, dan Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Andiani.

Jakarta, Petrominer – Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyampaikan Peta Kawasan Rawan Bencana (KRB) kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lumajang guna membantu upaya mitigasi, evakuasi dan keselamatan masyarakat. Peta ini merupakan upaya mitigasi dari Badan Geologi terkait dengan potensi bahaya dari Gunungapi Semeru.

“Hari ini, kami melakukan koordinasi secara langsung dengan Wakil Bupati Lumajang Indah Amperawati, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati, dan juga BPBD Lumajang, terkait upaya mitigasi, evakuasi, dan keselamatan masyarakat,” ujar Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Eko Budi Lelono, pada Konferensi Pers Update Terkini Erupsi Gunungapi Semeru yang dilakukan secara virtual, Senin (6/12).

Menurut Eko, mereka mendiskusikan langkah-langkah ke depan, apa yang akan dilakukan. Badan Geologi juga kembali menyampaikan peta KRB yang merupakan upaya mitigasi dari Badan Geologi terkait dengan potensi bahaya dari Gunungapi ini. Pada peta KRB Semeru dapat terlihat daerah yang rawan bencana dan daerah yang aman dari bencana. Peta tersebut penting karena kondisi saat ini sangat membutuhkan data terkait jalur evakuasi dan lokasi pengungsian yang aman dari potensi bahaya erupsi.

“Jadi dari situ (peta KRB Semeru) dapat dilihat area mana saja yang rawan terhadap bencana dan area mana saja yang relatif aman dari bencana. Itu penting karena sekarang dengan kondisi saat ini di mana ada masyarakat yang terdampak erupsi kemarin jadi memerlukan data-data terkait jalur evakuasi dan juga tempat-tempat relokasi atau penampungan pengungsi sementara yang aman. Kami juga sudah jelaskan apa saja yang ada di situ dan kelihatannya akan ditindaklanjuti oleh Ibu Wakil Bupati, sebagai upaya untuk keselamatan masyarakat di sini,” jelasnya.

Dari pertemuan tersebut, Wakil Bupati Lumajang menyatakan akan menindaklanjuti rekomendasi Badan Geologi, antara lain dengan memindahkan lokasi pengungsian ke daerah lain yang aman menurut peta KRB. Selain itu, Pemerintah Kabupaten Lumajang juga akan membuat papan peringatan kawasan bencana pada daerah rawan bencana, di mana pada area tersebut tidak boleh ditinggali untuk menetap dalam jangka waktu yang lama, juga diusulkan pula adanya pemasangan sirine tanda bahaya untuk dapat memberikan peringatan kepada masyarakat.

Peta KRB ini bisa menjadi acuan untuk menentukan lokasi-lokasi yang rawan untuk ditempatkan sebagai lokasi pengungsian. Masyarakat juga dapat melihat peta KRB ini melalui aplikasi MAGMA Indonesia dan website PVMBG, http://vsi.esdm.go.id.

Eko didampingi Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Andiani, bertolak ke Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, guna memantau langsung kondisi daerah terdampak erupsi. Mereka hadir di Pos Pengamatan Gunungapi Semeru untuk merespons apa yang terjadi dua hari lalu, terkait erupsi Semeru.

“Dilaporkan juga tadi pagi terjadi erupsi berupa Awan Panas Guguran (APG) yang intensitasnya sedikit lebih kecil dari sebelumnya,” ungkap Andiani.

Dia juga menjelaskan bahwa ke depan masih terdapat potensi bahaya awan panas guguran (APG) dan banjir lahar dingin. Oleh karena itu Badan Geologi masih terus melakukan pengamatan terhadap aktivitas Gunungapi Semeru selama 24 jam setiap harinya.

“Potensi terjadinya APG masih ada tetapi kami sulit untuk menentukan waktu terjadinya. Maka dari itu kami melakukan monitoring, jadi ketika menjelang APG terjadi, kami memiliki alat-alat yang dapat mencatat getaran-getaran, dan setelah alat tersebut mencatat getaran segera kami sampaikan melalui grup WhatsApp untuk segera disebarluaskan kepada masyarakat,” jelas Andiani.

Selain itu, menurutnya, ada juga potensi bahaya banjir lahar, karena di daerah hulu atau bagian puncak gunung masih ada material hasil erupsi dengan volume yang cukup banyak. Sehingga apabila dengan curah hujan yang saat ini masih cukup tinggi, sesuai laporan dari Kepala BMKG tadi, tentunya potensi lahar juga masih tinggi, utamanya adalah pada bukaan kawah yang mengarah ke bagian selatan dan tenggara, di antaranya melalui sungai Besuki-Kobokan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here