Kepala PVMBG, Badan Geologi, Andiani.

Bandung, Petrominer – Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah menerbitkan Peta Kawasan Rawan Bencana (KRB) Gunung Semeru, Jawa Timur. Peta dengan skala 1:25.000 ini merupakan hasil pemutakhiran peta sebelumnya.

Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Andiani, mengatakan bahwa pasca krisis Gunung Api Semeru tanggal 4 Desember 2021, Badan Geologi telah melakukan berbagai upaya strategis guna mengurangi risiko bencana yang melibatkan kurang lebih 30 ahli dengan berbagai disiplin kebumian. Hal ini tidak lain karena ingin terus memberikan pelayanan yang terbaik bagi masyarakat.

“Upaya yang telah kami dilakukan meliputi pemantauan yang lebih intensif dengan menerapkan berbagai metoda; mengirim Tim Tanggap Darurat, melakukan pemeriksaan lapangan guna pemutakhiran Peta dan mengetahui situasi lapangan terkini; penguatan dan penambahan peralatan pemantauan gunung api; meningkatkan kolaborasi dan kerjasama, serta diseminasi informasi,” ujar Andini saat me-launching sekaligus sosialisasi Peta KRB Gunung Semeru, Jum’at (14/1).

Dia menjelaskan bahwa Peta KRB Gunung Semeru ini merupakan hasil pemutakhiran karena terjadi perubahan tipe, besaran dan karakteristik erupsi serta perluasan dampak. Hal ini berpengaruh terhadap perubahan dan perluasan Kawasan Rawan Bencana Gunung Semeru

“Situasi Gunung Semeru terkini tersebut merupakan hasil pemantauan paska 4 Desember 2021 hinga hari ini,” ungkap Andiri.

Peta Kawasan Rawan Bencana (KRB) Gunungapi Semeru Sektor Tenggara – 2021, Jawa Timur. (Badan Geologi)

Peta KRB tersebut juga merupakan peta Geologi Tata Lingkungan Gunung Semeru yang memberikan gambaran arahan pemanfaatan ruang kawasan semeru paska erupsi 4 Desember 2021. Masyarakat bisa memantau situasi bencana geologi terkini termasuk bencana erupsi gunung api Semeru melalui Magma Indonesia, yang merupakan aplikasi kebencanaan yang dikembangkan oleh Badan Geologi.

Lebih lanjut, dia menegaskan bahwa Badan Geologi akan merevisi Peta KRB tersebut jika terjadi perubahan pusat erupsi dan morfologi bukaan kawah yang dapat mengubah arah luncuran awan panas dan atau guguran kubah/lava. Revisi juga akan dilakukan jika ada perkembangan ilmu dan teknologi baru dalam mitigasi bencana gunungapi.

“Besar harapan kami Peta KRB Gunung Semeru yang kami launching serta kegiatan sosialisasi hari ini bermanfaat dan menjadi pedoman baik bagi semua stakeholder, para pembuat kebijakan dan pengambil keputusan dalam penataan ruang dan pembangunan kawasan Semeru,” ujar Andini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here