PLTSa Surakarta, Jawa Tengah.

Surakarta, Petrominer – Kota Solo ternyata sudah memiliki Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa). Fasilitas ketenagalistrikan tersebut dibangun di lingkungan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Putri Cempo, Desa Mojosongo, Surakarta, Jawa Tengah.

PT PLN (Persero) pun berkomitmen mendukungan pengembangan PLTSa Surakarta ini. Apalagi, PLTSa ini bisa menjadi pilot project bagi pemanfaatan sampah untuk listrik di kota lainnya. Ini sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 35 Tahun 2018 mengenai Percepatan Pembangunan Instalasi Pengolah Sampah Menjadi Energi Listrik Berbasis Teknologi Ramah Lingkungan.

“Sebagai BUMN yang bergerak di bidang kelistrikan, PLN akan selalu mengedepankan pelayanan pelanggan dengan menyediakan energi listrik yang handal dan terjangkau, salah satu wujudnya adalah melalui PLTSa,” ujar Senior Manager General Affairs PLN Unit Induk Jawa Tengah dan D.I. Yogyakarta, Elly Oktaviani Ciptati, Rabu (11/9).

Elly menjelaskan, sebagai realisasi dukungan bagi PLTSa Surakarta, PLN telah menandatangani perjanjian jual beli tenaga listrik (Power Purchase Agreement) dengan PT Solo Citra Metro Plasma Power pada akhir Desember 2018 lalu. Pembangunan PLTSa Surakarta dilakukan dalam dua tahap dengan kapasitas masing masing 5 megawatt (MW), artinya setelah rampung total kapasitasnya menjadi 10 MW.

“Melalui kerja sama tersebut PLN siap memanfaatkan energi baru terbarukan dengan membeli energi listrik dari PT Solo Citra Metro Plasma Power sesuai ketentuan yang telah disepakati,” tegasnya.

Setelah beroperasi, PLTSa ini akan mampu melistriki kurang lebih 4.585 pelanggan dengan asumsi pemakaian kWh rata-rata perbulan sebesar 275 kWh untuk pelanggan rumah tangga daya 1300 VA.

Tidak hanya menyediakan listrik yang berbasis energi baru terbarukan, pembangunan PLTSa Surakarta juga diharapkan dapat membantu pemerintah daerah dalam mengurangi masalah sampah. Pembangkit EBT ini memanfaatkan sampah dari TPA Putri Cempo dengan total kebutuhan sampah sekitar 276 ton/hari. Komposisi tersebut meliputi sampah baru yang diprioritaskan untuk diolah sebesar 200 ton/hari dan sampah lama dengan ketersediaan 1.800.000 ton hingga saat ini.

Proyek pembangunan tahap pertama pembangkit tersebut ditargetkan rampung tahun 2019 ini bersamaan dengan tiga PLTSa yang berada di Kota Surabaya, Bekasi, dan Jakarta. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral telah mencanangkan setidaknya ada 12 PLTSa yang siap beroperasi hingga tahun 2022 mendatang. Pembangkit tersebut mampu menghasilkan listrik hingga 234 MW dari sekitar 16.000 ton sampah per hari.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here