Direktur Jenderal Mineral dan Batubara (Dirjen Minerba), Bambang Gatot Aryono. (Petrominer/Sony)

Jakarta, Petrominer — Sektor pertambangan mineral dan batubara (minerba) nasional mungkinkah masih lesu? Pasalnya, realisasi kinerja sektor minerba selama semester I 2017 masih jauh di bawah target. Ini bisa dibaca dari delapan indikator kinerjanya.

Kedelapan indikator kinerja sektor minerba adalah produksi batubara, DMO batubara, reklamasi, smelter, penerimaan negara, investasi minerba, amandemen KK dan PKP2B dan Penataan IUP. Sampai Juli 2017, hampir semua kinerja tersebut tidak ada yang bisa mencapai separuh dari target yang ditetapkan untuk tahun 2017. Hanya penerimaan negara saja yang bisa melebihi batas 50 persen.

Direktur Jenderal Mineral dan Batubara, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bambang Gatot Aryono menyampaikan bahwa penerimaan negara dari sub sektor minerba pada semester I 2017 telah mencapai 56 persen (Rp 18,27 triliun) dari target sebesar Rp 32,4 triliun pada akhir tahun 2017. Meski begitu, angka tersebut juga masih jauh di bawah realisasi penerimaan negara tahun 2016 lalu, yang sebesar Rp 27,21 triliun.

“Penerimaan negara dari sub sektor minerba mencapai 56 persen dari target tahun ini. Capaian ini merupakan bagian dari peningkatan kepatuhan pembayaran kewajiban perusahaan pertambangan,” ujar Bambang ketika memaparkan capaian kinerja sub sektor minerba pada semester I tahun 2017, Rabu malam (9/8).

Selain penerimaan negara, Dirjen Minerba juga memaparkan capaian pembangunan fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter). Saat ini, pembangunan smelter telah mencapai 50 persen dari target 2017 yaitu 2 unit per tahun dengan targetnya 4 unit per tahun.

“Target 2017 berbeda dengan target 2016. Pada sisa 2 target smelter di tahun 2016 akan selesai di tahun 2017, dan akan tetap dihitung sebagai kinerja untuk tahun 2016,” jelas Bambang.

Sementara capaian investasi sektor minerba baru mencapai US$ 2,5 miliar atau 36 persen dari target hingga akhir tahun sebesar mencapai US$ 6,9 miliar.

Meski begitu, Bambang menyakini realisasi investasi 2017 akan meningkat setelah Kontrak Karya (KK), Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B) menyelesaikan kewajibannya. Apalagi kalau Freeport selesai, menurutnya, akan luar biasa tambahan investasinya.

Selanjutnya, untuk reklamasi, dari target 6.800 ha, tercapai 28 persen yakni 1.921 ha. Bambang menjelaskan bahwa tren reklamasi biasanya selesai saat akhir semester II.

“Bentuknya J curve, jadi di akhir akan selesai secara tajam,” ujar Bambang.

Produksi batubara mencapai 139 juta ton atau 29 persen dari target 2017 sebesar 477 juta ton. Menurut Bambang, produksi batubara dikendalikan dalam rangka konservasi, optimalisasi ekspor dan peningkatan pemanfaatan domestik untuk peningkatan kedaulatan energi.

Sementara pemanfaatan batubara domestik (DMO) hingga bulan Juli 2017 sebesar 30,8 juta ton, atau 29 persen dari target 2017 sebesar 108 juta ton. Hal ini untuk menjamin pasokan kebutuhan sumber energi primer dan bahan baku di dalam negeri.

Dalam kesempatan itu, Bambang juga menyatakan bahwa landmark pengelolaan minerba saat ini berorientasi pada kemakmuran rakyat, antara lain untuk meningkatkan pendapatan negara, menciptakan lapangan kerja bagi rakyat Indonesia, menumbuhkan ekonomi daerah dan nasional, menciptakan iklim investasi yang kondusif, serta memastikan divestasi mencapai 51 persen.

Smelter Eksisting

Hingga kini, ujar Bambang, smelter untuk komoditas nikel yang telah beroperasi mencapai 13 smelter di enam lokasi yang tersebar.

Di wilayah Banten, PT Indoferro, PT Century Mentalindo, dan PT Bintang Timur Steel. Di Jawa Timur, PT Gebe Industry Nikel. Di Sulawesi Tengah, PT Vale Indonesia (KK), PT Sulawesi Mining Investment, dan PT Indonesia Guang Ching Nikel and Stainless Steel. Di Sulawesi Selatan, PT Titan Mineral. Di Sulawesi Tenggara, PT Antam Pomala, PT Cahaya Modern Metal Industri, dan PT Macika Mineral Industri. Serta di Maluku Utara, PT Fajar Bhakti Lintas Nusantara, dan PT Megah Surya Pertiwi.

Sedangkan smelter untuk komoditas lainnya sudah beroperasi sebanyak 6 smelter di empat lokasi.

Di Jawa Barat, PT Indotama Ferro Alloy (Mangan). Di Jawa Timur, PT Smelting (Tembaga). Di Kalimantan Barat, PT Indonesia Chemical Alumina (CGA), dan PT Well Harvest Wining Alumina Refinery (SGA). Di Kalimantan Selatan, PT Delta Prima Steel (Bijih Besi), dan PT Meratus Jaya Iron & Steel (Bijih Besi).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here