Jakarta, Petrominer – PT Aneka Tambang (ANTAM) Tbk menargetkan pertumbuhan pada produksi dan penjualan komoditas utamanya di tahun 2018. BUMN tambang ini memproduksi feronikel, emas, bijih nikel dan bijih bauksit.

“Target operasi komoditas utama ANTAM di tahun 2018 lebih tinggi dibandingkan realisasi volume produksi dan penjualan unaudited ANTAM tahun 2017. Melalui ekspektasi peningkatan kinerja operasi ini serta fokus untuk menjaga level biaya tunai produksi tetap rendah, kami berkomitmen untuk terus memberikan imbal hasil yang baik bagi pemegang saham dan pemangku kepentingan,” ujar Direktur Utama ANTAM, Arie Prabowo Ariotedjo, Rabu (7/3).

Untuk feronikel, jelas Arie, pihaknya menargetkan volume produksi tahun 2018 sebesar 26.000 ton nikel dalam feronikel (TNi). Jumlah ini naik 19 persen dibandingkan capaian produksi unaudited tahun 2017 yang sebesar 21.762 TNi.

“Peningkatan target ini sejalan dengan strategi ANTAM untuk meningkatkan utilisasi operasi pabrik Feronikel Pomalaa secara bertahap, hingga mencapai kapasitas terpasang 27.000 TNi,” paparnya.

Sementara untuk komoditas emas, ANTAM menargetkan produksi sebesar 2.201 kg dari tambang emas Pongkor dan Cibaliung dengan tingkat penjualan emas mencapai 24.000 kg. Ini juga naik, hingga sekitar 81 persen dibandingkan capaian penjualan emas unaudited tahun 2017 yang sebesar 13.202 kg.

Menurut Arie, lonjakan tajam ini dipatok seiring dengan ekspektasi peningkatan jangkauan pemasaran produk Logam Mulia ANTAM, baik di pasar domestik maupun ekspor. ANTAM merupakan satu-satunya gold refinery di Indonesia yang memiliki sertifikat London Bullion Market Association (LBMA) yang menjamin kepastian berat dan kemurnian produk emas Logam Mulia ANTAM, sehingga dapat diperdagangkan secara internasional.

Pada tahun 2018, ANTAM menargetkan total produksi bijih nikel sebesar 11,25 juta wmt. Produk ini akan digunakan sebagai bahan baku produksi feronikel ANTAM serta untuk mendukung penjualan bijih nikel.

Pertumbuhan produksi tersebut dipatok seiring dengan didapatkannya izin ekspor bijih nikel kadar rendah (<1,7 %Ni) sebesar 3,9 juta wet metric ton (wmt) dan bijih bauksit tercuci sebesar 850.000 wmt dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Izin itu keluar karena komitmen nyata ANTAM mengembangkan hilirisasi mineral di dalam negeri serta untuk mendukung peningkatan target produksi feronikel,

Total penjualan bijih nikel ANTAM tahun 2018 ditargetkan sebesar 9,30 juta wmt yang ditujukan untuk memenuhi permintaan pasar domestik dan ekspor. Target penjualan bijih nikel 2018 tumbuh 228 peren dibandingkan volume penjualan bijih nikel unaudited tahun 2017 yang sebesar 2,83 juta wmt.

“Volume produksi dan penjualan bijih bauksit tahun 2018 ditargetkan sebesar masing-masing 1,60 juta wmt untuk memenuhi permintaan pasar domestik maupun ekspor,” ujar Arie.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here