Jakarta, Petrominer – Pemerintah seharusnya dapat mendorong agar harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dalam negeri diturunkan. Penurunan harga ini dinilai perlu dilakukan menyusul anjloknya harga minyak mentah sejak Maret 2020 lalu.

Anggota Komisi VII DPR RI, Saadiah Uluputty, memaparkan bahwa harga minyak mentah dunia jatuh hingga pada level US$ 30 per barel. Harganya itu separuh dari asumsi harga minyak Indonesia atau ICP dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2020 yang ditetapkan US$ 63 per barel.

“Harga minyak mentah yang meluncur turun pada level US$ 30 per barel ini dapat menjadi pijakan untuk membuat perhitungan ulang dalam menetapkan harga baru BBM non subsidi yang lebih rendah dari harga saat ini,” ujar Saadiah, Jum’at (18/4).

Anggota DPR dari Fraksi PKS ini menilai, turunnya harga minyak dunia akan menurunkan biaya impor dalam neraca migas. Apalagi, sejak tahun 2013, neraca migas Indonesia selalu negatif.

“Kita menyandang status net importer minyak. Harga Minyak dunia mempengaruhi harga BBM non subsidi. Turunnya harga minyak berdampak linier terhadap harga BBM non subsidi,” ungkapnya.

Saadiah menegaskan, Pemerintah dapat melakukan hitungan untuk itu. Walaupun nilai rupiah terhadap dolar AS melemah dibandingkan asumsi nilai kurs dalam APBN yang ditetapkan Rp 14.400 per US$. Namun harga minyak mentah yang cukup rendah menjadi argumen yang kuat untuk harga BBM non subsidi dapat didorong turun.

Menurutnya, dengan mencermati variabel pembentuk harga BBM yakni harga dasar, margin dan pajak, maka dipastikan harga keekonomian BBM saat ini jauh lebih rendah. Apalagi, harga keekonomian BBM saat ini akan jauh lebih rendah dibandingkan harga keekonomian BBM dengan asumsi yang dipakai dalam APBN 2020.

“Maka wajar adanya, jika kebijakan menurunkan harga BBM menjadi opsi yang rasional,” tegasn Saadiah.

Dia beralasan, selama ini Pemerintah selalu sigap menaikan harga BBM ketika perubahan harga minyak mentah dunia menanjak. Langkah serupa juga harus dilakukan, saat komponen pembentuk harga BBM menurun.

“Itu sikap proporsional. Jangan hanya sumringah saat menaikan harga BBM, tapi respons rendah untuk menurunkan harganya,” kritiknya.

Dalam kondisi di mana dampak wabah virus Corona menyebabkan darurat ekonomi, kebijakan menurunkan harga BBM bisa menjadi stimulan bagi perekonomian. Malahan, turunnya harga BBM akan memperkuat daya beli masyarakat.

“Ini stimulasi yang positif di tengah perekonomian nasional yang goyah karena pandemi Corona,” katanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here