Alimuddin Baso, Direktur Perencanaan dan Pembangunan Infrastruktur Migas. (Petrominer/Fachry Latief)

Jakarta, Petrominer – Pemerintah, melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), menargetkan pembangunan jaringan distribusi gas bumi untuk rumah tangga (jargas) mencapai 4 juta sambungan rumah (SR) hingga tahun 2024 mendatang. Namun karena terbatasnya anggaran negara, badan usaha baik milik negara maupun swasta didorong untuk ikut berpartisipasi dalam pembangunan infrastruktur tersebut.

“Kalau kita lihat APBN, pembangunan infrastruktur bukan hanya di subsektor migas saja. Pemerintah paling hanya bisa berkontribusi sekitar 15-20 persen dari total biaya pembangunan jargas. Selebihnya diharapkan dari badan usaha,” ujar Direktur Perencanaan dan Pembangunan Infrastruktur Migas, Direktorat Jenderal Migas, Kementerian ESDM, Alimuddin Baso, Jum’at (21/2).

Menurut Alimuddin, biaya pembangunan satu sambungan di daerah yang belum tersedia fasilitas bisa mencapai Rp 11 juta. Namun untuk wilayah yang fasilitas telah tersedia, dana yang dibutuhkan sekitar Rp 7 juta.

“Soal biaya ini tergantung daerahnya, juga tingkat kerapatan penduduknya karena biaya material itu yang utama,” jelasnya.

Pemerintah berupaya agar biaya pembangunan jargas dapat lebih ditekan, sehingga badan usaha tertarik untuk berinvestasi. “Kalau biayanya di bawah Rp 7 juta, mungkin sebagian badan usaha bisa (investasi). Kita akan cek dulu karena selama ini biayanya yang kita dorong supaya lebih murah,” tegas Alimuddin.

Studi mengenai pembangunan jargas oleh badan usaha tengah dilakukan. Pemerintah mengharapkan dapat diperoleh kajian yang komprehensif, serta rekomendasi yang tepat.

Salah satu badan usaha yang telah menyatakan siap membangun jargas adalah PT PGN Tbk. Konsep untuk kerja sama tersebut, masih dalam pembahasan.

“Kita sedang cari konsep yang tepat seperti apa. Tim kami sedang membicarakannya dengan PT PGN,” ungkapnya.

Pemerintah mengharapkan dukungan dari semua pihak, sehingga tujuan gas bumi digunakan sebagai modal pembangunan, penyediaan energi bersih dan murah untuk masyarakat serta peningkatan pemanfaatan sumber daya alam, dapat terwujud.

“Kalau misinya menjadi pionir dalam pemanfaatan gas bumi, (kerja sama) bisa jalan. Tapi kalau semata-mata keekonomian, berat juga,” ujar Alimuddin.

Dengan menggunakan dana APBN, sejak tahun 2009 hingga 2019 atau satu dekade, telah dibangun jargas sebanyak 400.269 SR. Untuk tahun 2020, rencananya akan dibangun 266.070 SR di 49 lokasi. Jumlah ini berarti tiga kali lipat dibandingkan tahun 2019 yang hanya sebanyak 74.496 SR di 16 kabupaten/kota.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here