
Talaud, Petrominer — Indonesia akan segera memiliki pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berskala kecil pertama. PLTU Talaud 2×3 MW di Sulawesi Utara, yang sedang dikebut pembangunannya oleh PT PLN (Persero) akan beroperasi pada kuartal IV 2017 nanti.
Unit I pembangkit listrik itu, yang berlokasi di desa Tarun, kecamatan Melonguane, Kabupaten Kepulauan Talaud, akan commercial operating date (COD) pada kuartal IV 2017. Kepastian operasional PLTU Talaud itu dijanjikan oleh PLN sebagai komitmennya untuk mempercepat penyelesaian pembangunan PLTU.
“Kami targetkan PLTU Talaud 2×3 MW yang berada di daerah paling Utara di Indonesia ini menjadi PLTU skala kecil pertama di Indonesia yang akan beroperasi. Unit pertama akan COD di kuartal IV tahun 2017, ” ujar Direktur Bisnis Regional Sulawesi dan Nusa Tenggara PLN, Machnizon Masri, di sela kunjungannya untuk melihat progress pembangunan PLTU Talaud 2×3 MW, Selasa sore (21/3).
Machizon melakukan kunjungan itu dengan didampingi Kepala Divisi Konstruksi PLN Sulawesi dan Nusa Tenggara, Hakim Nawawi, GM PLN UIP Sulawesi Bagian Utara, Octavianus Padudung dan GM PLN Wilayah Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah dan Gorontalo, Baringin Nababan.
“Ini menjadi komitmen PLN dalam mendukung pembangunan dan pertumbuhan ekonomi, yaitu menghadirkan infrastruktur ketenagalistrikan tidak hanya di pulau-pulau besar saja, tapi juga hingga ke pulau terdepan yang menjadi beranda Indonesia,” papar Machnizon.
Sementara itu, GM PLN UIP Sulawesi Bagian Utara, Octavianus Padudung menyebutkan bahwa progres pembangunan PLTU Talaud yang dikerjakan oleh Kontraktor PT. Bousted Maxiterm Industries ini telah mencapai 85%.
“Hingga Kuartal I Tahun 2017 ini, progres pekerjaan di lapangan telah mencapai 85%. Kami optimis dapat mencapai target COD di kuartal IV Tahun 2017,” ujar Octavianus.
Nantinya, PLTU Talaud 2×3 MW akan beroperasi untuk memenuhi kebutuhan listrik masyarakat yang berada di sistem Karakelang, yang meliputi Beo & Melonguane, ibukota kabupaten Kepulauan Talaud dengan jumlah pelanggan yang dilayani mencapai 13 ribu pelanggan. Beban puncak di sistem Karakelang saat ini mencapai 3,5 MW.


























