Direktur Keuangan ABM Investama Adrian Erlangga memberi penjelasan mengenai masa depan bisnis ABM usai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan 2018 di Jakarta, Selasa (8/5). (Petrominer/Pris)

Jakarta, Petrominer – PT ABM Investama Tbk menyatakan akan fokus memperkuat bisnis pertambangan dan penjualan batubara di tahun 2018. Strategi ini sejalan dengan konsolidasi yang dilakukan perusahaan sebagai supply chain bisnis batubara terdepan di Indonesia.

“Strategi ini diterapkan berkenaan dengan momentum kenaikan harga batubara, yang akan dioptimalkan untuk semakin memperkuat kinerja keuangan perusahaan,” ujar Direktur Utama ABM, Andi Djajanegara, usai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan 2018, Selasa (8/5).

Menurut Andi, sejak kuartal II 2016 hingga saat ini, harga batubara di pasar global terus menunjukkan tren penguatan. Hal ini didukung oleh berbagai faktor, antara lain kebijakan China sebagai produsen dan konsumen batubara terbesar di dunia selama tahun 2017 untuk mengurangi produksi batubara domestiknya.

Sementara di level domestik, konsumsi batubara juga terus meningkat sejalan dengan beroperasinya sejumlah pembangkit listrik baru berbasis batubara. Begitu pula Harga Acuan Batubara (HBA) tahun 2017 yang sebesar US$ 85,9 per metrik ton, naik 39 persen dibandingkan HBA tahun 2016 sebesar US$ 61,8 per metrik ton. Sementara mengacu pada index Newcastle, harga batubara global di akhir April 2018 sudah menembus level US$ 100,10 per metrik ton.

“Penguatan harga batubara yang terus terjadi merupakan momentum yang akan dioptimalkan ABM. Tahun lalu, kinerja perusahaan tumbuh secara positif dan tahun ini kami optimistis hasilnya akanlebih baik lagi,” paparnya.

Sebagai upaya untuk memperkuat bisnis batubara, pada tahun 2017 ABM telah menerbitkan Global Bond sebesar US$ 350 juta. Penerbitan surat utang global pertama kali yang berlangsung sukses itu telah memberikan ruang pendanaan yang cukup besar bagi perusahaan. Penerbitan Global Bond ini semakin memperkuat ruang ekspansi ABM di industri batubara.

“Kami dalam proses akuisisi tambang baru untuk memperkuat bisnis ini dalam jangka panjang,” jelas Andi.

Laba Naik

Sementara itu, Direktur Keuangan ABM Adrian Erlangga menjelaskan, pada tahun 2017 ABM berhasil membukukan pendapatan bersih sebesar US$ 690,73 juta, naik 16,94 persen dibandingkan tahun 2016 yang sebesar US$ 590,70 juta. Perusahaan juga berhasil meningkatkan laba bruto hingga 18,36 persen dari US$ 127,91 juta tahun 2016 menjadi US$ 151,39 juta.

Kenaikan permintaan batubara secara global juga mendorong volume penjualan batubara di tahun 2017. Penjualan tahun lalu mencapai 7,9 juta ton, naik 25 persen dibandingkan tahun 2016 yang sebanyak 6,35 juta ton.

“Kinerja keuangan yang positif ini menunjukkan bahwa perusahaan berhasil mengoptimalkan momentum kenaikan harga batubara. Kami akan terus mengontrol standar biaya operasi agar dampak kenaikan harga batubara ini dapat memberikan manfaat lebih besar dalam jangka panjang,” jelas Adrian.

Supply Chain Batubara

Dia juga menjelaskan bahwa pada tahun ini, ABM Investama akan memperkuat posisinya sebagai supply chain batubara melalui integrasi dan sinergi anak usahanya secara end-to-end. Sinergi ini melibatkan anak usaha di bidang kontraktor tambang, logistik, maintenance services, hingga trading batubara.

Dengan model bisnis yang dimiliki, ABM terbukti berhasil mengembangkan dan mengelola secara efisien. Contohnya adalah pengelolaan tambang batubara di Kalimantan yang berkapasitas produksi sekitar 5 juta ton per tahun menghasilkan EBITDA sebesar US$ 108 juta.

“Kompetensi ABM selama bertahun-tahun adalah di sektor pertambangan khususnya batubara. Oleh karena itu dengan didukung SDM dan sistem operasi yang handal, ABM akan terus memperluas dan memperkuat bisnis batubara,” ujar Adrian.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here