
Lhokseumawe, Petrominer – Tidak sedikit perempuan terpaksa menjadi tulang punggung atau kepala keluarga. Biasanya, kondisi ini muncul karena tuntutan keadaan. Pada akhirnya, stigma masyarakat yang menganggap peran ibu sekadar merawat anak dan mengurus rumah tangga pun kian memudar.
Hal ini menjadi landasan atas upaya pemberdayaan perempuan kepala keluarga harus berjalan beriringan dengan pengentasan kemiskinan. Seperti yang selama ini diimplementasikan PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) dalam program-program pengembangan masyarakat (CSR).
Manager Community Involvement and Development (CID) Pertamina Hulu Rokan (PHR) Regional 1, Iwan Ridwan, Faizal menyampaikan bahwa program pemberdayaan yang dilakukan PHR Zona 1 sejalan dengan program pengetasan kemiskinan yang dicanangkan pemerintah. Berbagai program pemberdayaan didasarkan pertimbangan sosial dan ekonomi. Sehingga bisa meningkatkan kapasitas diri dan kemandirian ekonomi.
“Dengan peningkatan ekonomi, diharapkan dapat memberikan perubahan bagi lingkungan sekitarnya,” ujar Iwan.
Inong Balee
Implementasi ini telah terbukti mampu membantu dan menghasilkan beberapa perempuan tangguh sebagai kepala keluarga. Setiap hari, mereka berjuang demi menafkahi keluarganya.
Salah satunya adalah Nurhasanah, yang sehari-hari menjalani hidup sebagai petani kakao di Gampong (Desa) Blang Pante, Kecamatan Paya Bakong, Aceh Utara. Wanita sepuh ini saban hari berjuang dari pukul enam pagi sampai petang. Dia menyusuri jalan setapak demi setapak untuk mencapai kebun.
“Beberapa tahun lalu, kami belum tahu cara menanam yang benar. Hasil panen tidak menentu dan hasil panen tidak berkualitas baik,” ujarnya ketika diitemui beberapa waktu lalu.
Nurhasanah merupakan satu dari 19 perempuan yang menerima bantuan pelatihan Program Kelompok Tani Kepala Rumah Tangga bantuan dari Pertamina Hulu Energi (PHE) North Sumatera Offshore (NSO). Kelompok perempuan kepala keluarga yang diberi nama Inong Balee ini diajarkan teknik budidaya dan peremajaan tanaman kakao.
Sebelum PHE NSO melakukan pemberdayaan perempuan kepala keluarga, hasil panen kebun kakao menurun. Apalagi, pohon-pohon kakao sudah melewati usia produktif.
“Dulu kami panen, langsung jual. Tidak tahu soal kualitas,” ungkapnya.
Nuhasanah mengaku tidak pernah menyerah dengan keadaan. Selama bertahun-tahun kemiskinan telah menjadi teman hidupnya. Suaminya tewas saat terjadi kontak senjata di desanya beberapa tahun lalu.
Kala itu, anaknya masih duduk di sekolah dasar. Dia pun memutar otak melakukan pekerjaan kasar demi memenuhi kebutuhan hidup.
“Saya dulu menjadi buruh tani agar anak tetap bisa makan. Sebab, hasil kebun peninggalan suami tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup,” ujar Nurhanah sambil mengingat-ingat.
Tidak hanya sebagai buruh tani, dia juga kerap memanggul batu ke dalam truk di Sungai Krueng Kereuto. Upah dari pekerjaan kasar itu hanya cukup untuk menutupi kebutuhan sehari-hari.
“Saya sangat bersyukur adanya program pemberdayaan dari PHE NSO. Kami diajarkan berbagai cara untuk meningkatkan hasil panen. Seperti, praktik pertanian kakao yang baik,” katanya.
Saat ini, program Inong Balee berhasil merestorasi empat hektar laham kritis perkebunan kakao. Adapun penanaman bibit mencapai 600 bibit baru dan peremajaan lebih dari 1700 pohon kakao.
Pelatihan dan Pendampingan Perawatan Kakao dilaksanakan melalui metode sekolah lapang. Peningkatan produktivitas tanaman kakao pun mulai terlihat dari awalnya satu pohon maksimal panen satu kilogram kakao dengan harga Rp 13.000 kini satu pohon menghasilkan sekira tiga sampai lima kilogram kakao.
Baronang Crispy
Semangat tidak jauh berbeda ditunjukkan Sabariah, dari Desa Pasar Rawa, Kecamatan Gebang, Kabupaten Langkat. Dia bersama ibu-ibu anggota Kelompok UMKM Kuliner Maju Bersama sukses mengembangkan inovasi baru.
Mereka mengubah ikan baronang yang dulunya hanya dijadikan pakan ternak menjadi cemilan bergizi. Hmm….terbayang gurihnya.
Melalui dukungan dari PT Pertamina EP Pangkalan Susu Field, yang juga bagian dari Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona 1, para ibu-ibu mendapat berbagai pelatihan. Mereka diajarkan mengolah ikan baronang menjadi berbagai jenis cemilan dan makanan tambahan untuk balita.
“Program ini membantu kami, ibu rumah tangga berpenghasilan dan punya keterampilan baru,” ujarnya.
Menurut Sabariah, hasil dari olahan ikan ini juga ikut berkontribusi dalam menurunkan resiko stunting. Dari makanan olahan tersebut, ibu-ibu kini punya penghasilan untuk menambah kebutuhan keluarga.
“Alhamdulillah saat ini penghasilan dari penjualan cemilan mencapai 6 juta perbulan. Tiap bulan laku terjual 400 pcs dengan harga satuan Rp 15 ribu per pcs,” ungkapnya.







