
London, Petrominer – Pemanfaatan energi terbarukan sepanjang tahun lalu telah mendorong penurunan tahunan terbesar pembangkit listrik berbahan bakar fosil di kawasan Asia pada abad ini. Capaian ini dipicu oleh rekor lonjakan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS).
Menurut laporan terbaru dari lembaga think tank energi global EMBER, peningkatan pembangkit listrik tenaga angin dan surya memenuhi hampir seluruh pertumbuhan permintaan listrik di Asia, yang mencapai 94 persen. Digabung dengan sumber energi terbarukan lainnya, pertumbuhan listrik bersih bahkan melampaui kenaikan permintaan listrik di Asia sepanjang tahun 2025 lalu.
“Pembangkit listrik berbahan bakar fosil turun sebesar 0,9 persen. Penurunan ini juga terjadi di beberapa negara Asia, termasuk China dan India, meskipun permintaan listrik di negara-negara tersebut terus meningkat,” tulis EMBER dalam laporannya bertajuk “Global Electricity Review 2026,” yang diperoleh PETROMINER, Selasa (21/4).
Sementara di tingkat global, tenaga surya dan angin memenuhi 99 persen pertumbuhan permintaan listrik. Pertumbuhan gabungan semua sumber pembangkit listrik bersih ini turut mendorong penurunan pembangkit listrik berbahan bakar fosil sebesar 0,2 persen.
Laporan tersebut menyebutkan bahwa Asia menjadi pendorong utama tren ini. Penurunan pembangkit listrik berbahan bakar fosil di China (-56 TWh, -0,9 persn) dan India (-52 TWh, -3,3 persen) membantu mengimbangi kenaikan kecil di AS, UE, dan di kawasan-kawasan lainnya. Tahun 2025 juga untuk pertama kalinya pada abad ini pembangkit listrik berbahan bakar fosil menurun secara bersamaan di China dan India.
Pada tahun 2025, tenaga angin dan surya menyumbang 17 persen dari total pembangkitan listrik di Asia, sejalan dengan rata-rata global (17 persen).

Lonjakan Tenaga Surya
Lonjakan tenaga surya yang mencetak rekor menjadi pendorong utama pertumbuhan listrik bersih, baik di Asia maupun seluruh dunia. Secara global, pembangkit listrik tenaga surya meningkat 30 persen pada tahun 2025, yang merupakan laju pertumbuhan tercepat dalam delapan tahun terakhir.
Sementara di Asia, pertumbuhannya bahkan lebih tinggi, mencapai 36 persen. Ini merupakan laju tahunan tercepat sejak tahun 2018.
Secara keseluruhan, Asia menyumbang dua-pertiga dari peningkatan pembangkit tenaga surya global pada tahun 2025. China sendiri berkontribusi lebih dari setengah (53 persen) pertumbuhan global, sementara India menyumbang 8 persen.
Di Asia, pembangkit listrik tenaga surya menghasilkan 1.623 TWh (terra watt hours) atau 10 persen dari total listrik pada tahun 2025, dengan besar produksi hampir empat kali lipat sejak tahun 2020. Pada tahun tersebut, negara dengan pangsa tenaga surya tertinggi adalah Pakistan (19 persen) dan Sri Lanka (16 persen).
Pakistan juga merupakan salah satu negara dengan pertumbuhan tenaga surya tercepat di Asia. Listrik tenaga surya meningkat 84 persen pada tahun 2025, hingga mencapai rekor 37 TWh. Pakistan kini menjadi produsen tenaga surya terbesar ke-12 di dunia, naik lima peringkat dari tahun 2024, dan melampaui negara seperti Prancis dan Belanda.
Thailand juga mencatat pertumbuhan pesat. Pembangkit listrik tenaga surya meningkat 72 persen pada tahun 2025 menjadi 9 TWh, melampaui Portugal dan Swiss. Tenaga surya kini menyumbang 5 persen dari bauran listrik Thailand.
“Tenaga surya adalah pendorong utama perubahan sistem kelistrikan global,” kata Direktur Eksekutif Ember, Aditya Lolla.
Menurut Aditya, jika digabung dengan penyimpanan baterai, tenaga surya membuka jalan menuju listrik bersih yang dapat berkembang pesat dan tersedia sepanjang waktu. Asia memimpin dalam penambahan kapasitas tenaga surya. Empat dari sepuluh produsen tenaga surya terbesar di dunia, yaitu China, India, Jepang, dan Korea Selatan, berada di Asia. Negara-negara Asia lainnya juga berkembang pesat.

Data Indonesia Belum Tersedia
Laporan dari Ember yang mengulas perkembangan ketenagalistrikan ini merupakan edisi tahun ketujuh. Laporan ini memberikan gambaran komprehensif pertama mengenai sistem tenaga listrik global pada 2025 berdasarkan data tingkat negara.
Laporan ini diterbitkan bersama kumpulan data terbuka yang mencakup 91 negara dan mewakili 93 persen permintaan listrik global, serta data historis dari 215 negara.
Pembangkit listrik bersih di Asia tumbuh sebesar 718 TWh pada tahun 2025, cukup untuk memenuhi pertumbuhan permintaan sebesar 618 TWh. Berkat hal itu, pembangkit listrik berbahan bakar fosil turun 0,9 persen. Hal ini menjadikan tahun 2025 sebagai tahun ketiga sepanjang abad ini di mana tidak terjadi pertumbuhan pembangkit listrik berbahan bakar fosil di seluruh Asia.
Pertumbuhan PLTS dan pembangkit listrik energi terbarukan lainnya di China dan India menjadi pendorong terbesar tren penurunan pembangkit listrik berbahan bakar fosil di seluruh Asia. Bahkan di ASEAN, di mana tenaga surya dan angin masih rendah (pangsa 5 persen dari bauran listrik), pembangkit listrik berbahan bakar fosil tetap turun (-0,2 persen), seiring dengan kenaikan pembangkit listrik terbarukan secara keseluruhan (+5,5 persen).
Pembangkit listrik tenaga air pada 2025 (239 TWh) menjadi kontributor terbesar terhadap pembangkit listrik energi terbarukan di ASEAN (369 TWh).
Namun angka-angka ini masih bersifat sementara, karena data resmi tahun 2025 untuk Indonesia, sektor listrik terbesar di ASEAN, belum tersedia secara publik.
Analis Energi Senior EMBER untuk Asia, Dinita Setyawati, mengatakan transisi listrik di Asia terus berlanjut dengan penurunan pembangkit energi fosil di seluruh kawasan. Meski pertumbuhan permintaan yang melambat turut berperan, pembangkit energi terbarukan terus meningkat.
“Ke depan, investasi untuk memperkuat infrastruktur jaringan agar mampu menampung energi terbarukan yang lebih bervariasi dalam sistem, serta interkonektor dan penyimpanan untuk memanfaatkan sumber daya terbarukan secara optimal, akan sangat penting untuk terus mempercepat transisi ini,” ujar Dinita.








