, ,

Minggu Depan, PHR Implementasikan CEOR Skala Komersial di Minas

Posted by

Jakarta, Petrominer – PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) menghadirkan penerapan teknologi Chemical Enhanced Oil Recovery (CEOR) sebagai solusi inovatif di hulu migas. Dengan memanfaatkan bahan kimia khusus, teknologi ini menjadi harapan baru bagi upaya peningkatan produksi minyak nasional. Langkah ini sekaligus mendukung target pemerintah untuk menjaga ketahanan energi di tengah tantangan pengelolaan lapangan tua (mature).

Vice President Secondary & Enhanced Oil Recovery (VP S-EOR) PHR Regional 1, Syaiful Ma’arif, menjelaskan teknologi ini dirancang untuk meningkatkan produksi dan perolehan minyak dari lapangan tua yang masih menyimpan cadangan namun sulit dikeluarkan dengan teknologi konvensional seperti injeksi air biasa.

“Program ini bukan sekadar inovasi teknologi, melainkan bagian dari strategi nasional untuk menjaga ketahanan energi. Dengan memaksimalkan cadangan minyak di lapangan tua, teknologi CEOR diharapkan mendekatkan Indonesia pada target produksi 1 juta barel per hari pada 2030,” ujar Syaiful, Kamis (18/12).

Teknologi ini juga membawa nilai keberlanjutan dalam rangka memaksimalkan perolehan minyak lapangan tua yang telah terbukti cadangan minyaknya. Dengan semaksimal mungkin memanfaatkan infrastruktur yang sudah ada, pelaksanaan proyek dapat dilakukan secara lebih efisien.

Perwira Pertamina

Sebagai pelopor dalam penerapan teknologi CEOR skala komersial di Indonesia, PHR menggunakan bahan yang merupakan kombinasi dari tiga bahan kimia, yaitu alkali, surfaktan, dan polimer (ASP). Bahan ini diinjeksikan ke dalam reservoir untuk menyapu minyak keluar dari pori-pori batuan.

Surfaktan sebagai bahan utama ini berperan untuk melepaskan ikatan minyak dari reservoir dengan menurunkan tegangan antar muka antara minyak dan air. Polimer berfungsi sebagai penyapu minyak yang telah terlepas dari reservoir. Sedangkan alkali akan membantu mengurangi penyerapan surfaktan dan polimer oleh batuan reservoir, sehingga sisa minyak yang terperangkap lebih mudah mengalir.

“Dengan penerapan metode ini, produksi minyak diharapkan dapat meningkat secara signifikan,” tegas Syarif.

Yang menarik, bahan kimia utama racikan surfaktan yang digunakan PHR merupakan inovasi perwira Pertamina sendiri di laboratorium PHR, berbasis petroleum sulfonate. PHR pun bersinergi dengan PT Pertamina Lubricant (PTPL) sebagai mitra teknis dalam pengadaan bahan baku, proses blendingquality assurance/control, hingga pengiriman ke lokasi proyek. Bahan surfaktan ini telah diuji coba di laboratorium dan di lapangan.

Uji coba lapangan dilakukan pada Proyek Surfactant Extended Stimulation (SES) di lapangan Balam South Kabupaten Rokan Hilir, Riau. Surfaktan telah sukses diinjeksikan pada Juli 2025, dan memberi peningkatkan produksi yang signifikan.

Skala Komersial

Lapangan Minas di Wilayah Kerja Rokan telah berproduksi sejak tahun 1952, dan termasuk dalam kategori lapangan tua. Meskipun demikian, lapangan minyak ini masih menyisakan potensi cadangan yang besar di bawah permukaan yang memungkinkan diperoleh dengan teknologi CEOR.

Penerapan teknologi CEOR di lapangan Migas adalah bagian dari upaya PHR dalam berkontribusi menjaga ketahanan energi nasional sesuai amanah program Asta Cita Presiden Prabowo Subianto. Tingkat perolehan minyak diperkirakan bisa bertambah 12-16 persen dari Original Oil in Place (OOIP).

“Kebehasilan implementasi CEOR di lapangan Minas akan membuktikan bahwa teknologi mampu memperpanjang usia produksi lapangan tua sebagai kontribusi terhadap produksi migas nasional,” ujar Syaiful.

PHR akan melaksanakan injeksi perdana ASP skala komersial pada 23 Desember 2025. Peningkatan produksi diperkirakan mulai terlihat pada pertengahan tahun 2026 mendatang, dengan target tambahan mencapai 2.800 barel per hari pada puncak produksinya.

Agar penerapan skala penuh teknologi ini dapat dilakukan, dibutuhkan dukungan dari semua pihak dengan kerjasama yang baik, terutama antara Pemerintah Pusat dan Daerah, Pertamina, serta masyarakat.

“Keberhasilan proyek CEOR di lapangan Minas ini akan menjadi tonggak penting, dan membuka jalan bagi penerapan teknologi serupa di lapangan-lapangan lain di Indonesia. PHR membuktikan bahwa inovasi lokal mampu menjawab tantangan nasional,” ujar Syarif.

Satu tanggapan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *