, ,

Pasar Batubara ASEAN Tak Mampu Redam Penurunan Ekspor ke China

Posted by

Jakarta, Petrominer – Rencana Indonesia untuk mengalihkan ekspor batubara ke Pasar Asia Tenggara (ASEAN) hanya akan menjadi solusi sementara di tengah penurunan permintaan dari China. Malahan, Indonesia bakal menghadapi Australia, Rusia dan Afrika Selatan yang juga mengincar pasar di kawasan ini, seperti Malaysia, Filipina, Thailand, dan Vietnam.

Untuk itu, Pemerintah perlu memikirkan strategi jangka panjang yang bisa diadaptasi untuk menekan dampak tren penurunan ekspor yang terus berlanjut. Meski permintaan batubara di dalam negeri diperkirakan meningkat tahun ini, dunia usaha dan produsen batubara masih enggan mengalihkan ke pasar domestik, terutama untuk pembangkit listrik.

Demikian diungkapkan oleh Energy Shift Institute (ESI) dalam laporan terbarunya bertajuk Indonesia’s coal exports: courting Southeast Asia is a stop-gap measure,” yang diperoleh PETROMINER, Senin (1/12).

Dalam laporan tersebut, ESI menyatakan Indonesia mungkin akan berhadapan dengan Australia, Rusia dan Afrika Selatan yang juga mengincar kawasan ASEAN sebagai pasar tujuan ekspornya. Selain itu, meski strategi subtitusi pasar ini dapat menjaga arus pendapatan jangka pendek untuk industri batubara Indonesia, namun pengalihan ekspor ke negara-negara di ASEAN dipandang belum mampu menutup penurunan volume impor batubara China.

Berdasarkan data konsolidasi yang dihimpun International Trade Centre (Intracen) dan ESI, ekspor batubara Indonesia ke China pada semester I-2025 mencapai 84 juta ton. Kinerja ini turun 21 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sementara total ekspor ke empat negara di kawasan ASEAN tersebut hanya 55 juta ton.

“Sebagai perbandingan, penurunan impor batubara China dari Indonesia sebesar 23 juta ton dari periode yang sama di tahun 2024 saja setara dengan 43 persen dari total ekspor Indonesia ke keempat negara ASEAN tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa skala konsumsi batubara dan sistem energi China tidak tertandingi,” kata Pemimpin Transisi Batubara ESI, Hazel Ilango.

Selain itu dari sisi potensi tambahan permintaan batubara untuk pertumbuhan sektor ketenagalistrikan, apabila menggabungkan Indonesia, Vietnam, Filipina, Thailand dan Malaysia, total volumenya kurang dari 25 gigawatt (GW). Sebaliknya, potensi peningkatan kebutuhan batubara China untuk sektor ketenagalistrikan totalnya bisa mencapai 484 GW.

Perkembangan ekspor batubara Indonesia ke enam negara di Asia dalam lima tahun terakhir menurut perhitungan International Trade Centre (Intracen) dari data Badan Pusat Statistik (BPS).

Rendahnya daya serap batubara di kawasan ASEAN juga dipengaruhi oleh arah kebijakan diversifikasi ke energi bersih, seiring dengan komitmen iklim. Pemanfaatan energi terbarukan dan gas menjadi pilihan untuk menggantikan porsi Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di negara-negara tersebut. Sebagai contoh, Vietnam telah menghentikan PLTU batubara yang tidak efisien dan membatasi proyek-proyek batubara baru.

Menurut Hazel, Pemerintah Indonesia perlu memikirkan strategi jangka panjang yang bisa diadaptasi untuk menekan dampak tren penurunan ekspor yang terus berlanjut. Sebab, meski permintaan di dalam negeri diperkirakan meningkat sekitar 14 juta ton atau 6 persen tahun 2025, dunia usaha dan produsen batubara masih enggan mengalihkan ke pasar domestik, terutama untuk pembangkit listrik. Karena dianggap kurang menarik dengan adanya kebijakan Domestic Market Obligation (DMO).

“Tanpa adanya strategi diversifikasi ekonomi yang lebih dalam, maka pendapatan dari penurunan ekspor ini  berpotensi terus menyusut,” ungkap Hazel.

Dia menyarankan, keuntungan sementara dari pasar ASEAN dapat digunakan sebagai modal transisi ke kegiatan ekonomi yang lebih berkelanjutan, baik melalui pengembangan energi bersih, infrastruktur pendukung transisi, maupun diversifikasi industri di daerah penghasil batubara. Tanpa adaptasi tersebut, keuntungan dari pasar ASEAN ini hanya akan menunda penurunan struktural.

“Tentunya, kondisi ini membuat industri dan Pemerintah Indonesia rentan terhadap guncangan pendapatan dan menyusutnya pasar batu bara global,” tegas Hazel.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *