Jakarta, Indonesia – Tampaknya jalan hidup Runa Maidepa sudah jelas. Setelah kerja praktik selama tiga bulan di PT Freeport Indonesia untuk skripsinya di bidang geologi, wajar bila dia berpikir setelah lulus dari Universitas Gadjah Mada akan berkarir di perusahaan pertambangan tersebut.
Pria bernama lengkap Reformator Usom Nathaniel Anthonius Maidepa ini pun digadang-gadang bakal jadi ahli geologi pertama dari Papua di Freeport. Apalagi superintendent nya kala itu sudah meminangnya untuk bergabung.
Namun itu semua berubah setelah seorang adik kelasnya di UGM, yang juga karyawan bp, menelepon dan bercerita tentang kesempatan kerja di sebuah perusahaan minyak dan gas bumi (migas) yang akan mendirikan kegiatan operasi di kampung halaman ayahnya, Teluk Bintuni. Keputusan yang diambil dari sebuah panggilan telepon itulah yang kemudian membawanya bergabung dengan bp untuk bekerja di Proyek Tangguh LNG di Teluk Bintuni, Papua Barat. Malahan, dia sempat mendapat penugasan di operasi bp di Trinidad dan Tobago, sebuah negara kepulauan kecil di laut Karibia.
“Ayah saya berasal dari Distrik Idoor di Teluk Bintuni, dan banyak paman dan sepupu saya yang masih tinggal di Babo. Jadi saya merasa mereka pasti akan bangga jika saya bekerja di Teluk Bintuni,” ujar Runa (50 tahun) dalam sesi wawancara beberapa waktu lalu.
Pada awal tahun 2000, bp secara aktif merekrut penduduk asli Papua untuk dilatih sebagai operator untuk kilang Tangguh LNG yang sedang dikembangkan saat itu. Pada tahun 2002, Runa menjadi satu dari delapan orang Papua di Batch 3 yang dilatih secara intensif sebagai operator trainee dalam Papuan Development Trainee Programme.
Dalam pelatihan selama dua setengah tahun tersebut, Runa dan rekan-rekannya digembleng bekerja untuk kegiatan operasional di fasilitas bp di Laut Jawa, di mana dia bekerja di Bravo Central Station (BCS).
“Setelah itu saya ditawari posisi sebagai ahli geologi di tim Eksplorasi. Saya hanya bertahan kurang dari dua bulan sebelum akhirnya saya minta untuk kembali ke operations,” kata Runa.
Rupanya setelah bekerja di BCS, dia merasa pekerjaan di operations jauh lebih menarik.
Segera setelah Tangguh LNG mendapatkan keputusan investasi akhir pada tahun 2004, Runa dan para trainee lainnya dikirim untuk belajar menjadi operator kilang LNG di PT Badak NGL di Bontang, Kalimantan Timur, di mana mereka tinggal selama dua setengah tahun. Pada tahun 2006, saat konstruksi Tangguh sudah jauh lebih maju, Runa, sebagai bagian dari tim Gas Production Facility (GPF), dikirim ke Tangguh untuk membantu mempersiapkan kedatangan anjungan VRB yang baru dibangun dari Cilegon, Banten.

“Pengalaman saya yang paling berkesan adalah saat pertama kalinya saya mengalirkan gas dari sumur VRB-01. Sejak saya bekerja di Offshore North West Java saya mengimpikan saat ketika Tangguh memiliki fasilitas lepas pantai dan saya menjadi orang pertama yang mengoperasikan sumurnya,” kata Runa.
Tangguh mulai beroperasi tahun 2009, dan sejak saat itu, Runa mengambil beragam peran mulai dari teknisi lapangan, operator ruang kontrol, pengawas sumur, hingga peran ganda sebagai manajer instalasi lepas pantai dan pemimpin tim pasokan gas yang bertanggung jawab atas anjungan dan fasilitas penerima di darat.
Mau Bekerja Keras
Runa pun tertarik dengan posisi di bp Trinidad dan Tobago (BPTT) saat Tangguh Area Operations Manager saat itu, yang juga mentor Runa, menyebutkan kemungkinan adanya kesempatan baginya untuk berkarir di sana. Sebelumnya, Runa memang mencantumkan minatnya akan penugasan internasional di dalam rencana pengembangan diri. Dengan adanya proyek pengembangan Tangguh, maka ini dirasa saat yang tepat untuk mengambil kesempatan tersebut.
Runa memulai tugasnya di BPTT pada Juli 2016 sebagai Operations Team Leader. Dia memimpin tim di berbagai anjungan, dengan anggota pekerja multinasional yang berjumlah delapan hingga 10 orang, tidak termasuk kontraktor. Sebagian waktunya pun dihabiskan bekerja di kantor BPTT di Queen’s Park, Port of Spain.
“Hal yang paling sulit adalah bahasa. Orang di sana berbahasa Inggris, tapi dengan aksen yang sangat kental yang biasa disebut ‘Trini-English’. Mereka juga sering memperpendek kata, sama seperti yang dilakukan orang Papua, sehingga membuat orang luar lebih sulit untuk mengerti,” katanya.
Tugas Runa di BPTT berlangsung hingga tahun 2018, dengan rotasi kerja setiap empat minggu.
“Saya suka bila ada banyak pekerjaan yang harus dilakukan, waktu sepertinya terbang dan tiba-tiba sudah waktunya pulang. Jika banyak waktu luang, saya merasa berat karena waktu akan terasa lambat,” katanya.
Kini, Runa telah kembali bekerja di Tangguh LNG. Posisinya pun lumayan tinggi, yakni sebagai Project Operations Site Manager.
“Hidup saya penuh berkah, saya diberkati dengan keluarga saya, dan diberkati untuk bertemu dengan orang-orang yang semuanya berperan dalam hidup saya, dari sejak saya muda hingga sekarang. Anda selalu bisa belajar dari orang yang Anda temui,” kata Runa.
Untuk generasi muda Papua, dia menegaskan bahwa tidak ada cara lain untuk maju dalam hidup selain dengan belajar dan belajar. Apalagi, selalu ada sesuatu yang baru untuk dipelajari.
Bagi mereka yang ingin bergabung dengan industri migas, Runa pun berpesan bahwa ini adalah industri berisiko tinggi, membutuhkan orang-orang yang berkomitmen dan memiliki keterampilan tinggi. bp memiliki standar yang tinggi dan bagaimana cara memenuhi standar itu adalah untuk memulainya dengan belajar secara tekun.
“Jika Anda mendapat kesempatan, jangan disia-siakan. Itu adalah kesempatan emas, tidak akan datang dua kali. Jadi jika sejak awal Anda tidak yakin, lebih baik tidak mengambilnya dan beri kesempatan kepada orang lain. Industri ini membutuhkan orang yang mau bekerja keras dan profesional,” ujar Runa.









Tinggalkan Balasan