, ,

ITS dan UNAIR Dukung Program Keberlanjutan Lingkungan SKK Migas

Posted by

Surabaya, Petrominer – SKK Migas menggandeng dua perguruan tinggi asal Surabaya, yakni Universitas Airlangga (UNAIR) dan dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), untuk mendukung pencapaian program keberlanjutan lingkungan. Bersana UNAIR, SKK Migas akan menggarap program low carbon initiatives. Sementara dengan ITS, akan menggarap proyek carbon capture and storage (CCS) atau carbon capture utilization and storage (CCUS), serta appraisal atas estimasi biaya abandoned and site restoration (ASR).

Rencana kerjasama ini dituangkan dalam sebuah nota kesepahaman (MoU) yang ditandatanganai SKK Migas dengan UNAIR dan ITS di sela-sela kegiatan rapat koordinasi SKK Migas perwakilan yang dilaksanakan di Surabaya, Kamis (18/8).

“Selain untuk mendukung pencapaian program keberlanjutan lingkungan, kerjasana ini sekaligus menjalin link and match yang lebih kuat untuk membantu perguruan tinggi sebagai center of excellence dan penghasil sumber daya manusia (SDM) yang akan melanjutkan estafet pembangunan nasional di masa yang akan datang,” ujar Plt. Kepala Divisi Program dan Komunikai SKK Migas, Mohammad Kemal.

Menurut Kemal, kerjasama ini menunjukkan keterbukaan SKK Migas untuk menggandeng pihak-pihak yang memiliki kompetensi untuk berkolaborasi dalam membangun Indonesia pada sektor hulu migas.

“Melalui kerja sama ini diharapkan secara waktu dan kualitas, program keberlanjutan lingkungan dapat ditingkatkan melalui keterlibatan perguruan tinggi, sekaligus menjadi sarana untuk saling meningkatkan kemampuan sumber daya manusia yang ada di industri hulu migas maupun para dosen dan mahasiswa yang terlibat dalam pelaksanaan dari MOU tersebut,” jelasnya.

Lebih lanjut, Kemal menyampaikan bahwa dengan MOU tersebut nantinya tidak hanya jangka pendek yang diharapkan terkait bisa diselesaikannya program-program dalam low carbon initiative, tetapi dalam jangka panjang, MOU ini adalah bagian dari upaya SKK Migas mendukung peningkatan SDM perguruan tinggi dengan keterlibatan melakukan kolaborasi pada industri.

“Meskipun masih memiliki stigma di masyakarakat umum sebagai industri fosil penghasil emisi karbon, industri hulu migas memiliki komitmen yang nyata dalam upaya memulihkan lingkungan di sekitar wilayah operasi dan sekaligus menangkap emisi karbon dari udara. Misalnya penanaman pohon sebagai bentuk dari komitmen terhadap keberlanjutan lingkungan,” paparnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *