Boyolali, Petrominer – Pertamina terus mendorong inovasi energi baru terbarukan melalui Program Desa Energi Berdikari. Ini merupakan bagian dari upaya menghadirkan energi yang bersih dan ramah lingkungan.
Area Manager Communication, Relations, & CSR Regional Jawa Bagian Tengah PT Pertamina Patra Niaga, Brasto Galih Nugroho, mengungkapkan Program Desa Energi Berdikari merupakan salah satu wujud kepedulian terhadap masyarakat dan lingkungan di sekitar lokasi Depot Pengisian Pesawat Udara (DPPU) Adi Sumarmo di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Pertamina bersama kelompok ternak sapi telah mengembangkan inovasi energi baru terbarukan dengan memanfaatkan kotoran sapi sebagai biogas untuk bahan bakar memasak.
“Sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN), kami ingin menunjukkan kepedulian terhadap masyarakat yang ada di sekitar lokasi operasi kami sehingga dapat meningkatkan taraf kehidupan dan ekonominya, salah satunya kepada kelompok tani ternak yang kami bina melalui program CSR,” jelas Brasto, Kamis (11/8).
Dalam program ini, ungkapnya, Pertamina melatih Kelompok Tani Ternak JSN Cengkir Gading di Dukuh Padokan, Desa Sawahan, Ngemplak, Boyolali, untuk mengolah kotoran sapi menjadi biogas yang digunakan sebagai bahan bakar memasak. Pelatihan yang dilaksanakan pada Selasa, 9 Agustus 2022 ini sebagai bagian dari upaya Pertamina meningkatkan ekonomi masyarakat sekaligus mendorong kemandirian energi desa berbasis energi ramah lingkungan.
“Sebelumnya bahan bakar biogas hanya mereka operasikan di lokasi ternak saja, namun saat ini kami memberikan pelatihan bagaimana biogas yang dihasilkan dapat dimasukkan ke dalam suatu wadah agar bisa digunakan di rumah masing-masing untuk memasak, yaitu dengan memanfaatkan bekas ban mobil truk yang tidak terpakai,” papar Brasto.
Selain memberikan dampak perbaikan kualitas lingkungan, pemanfaatan bahan bakar biogas tersebut juga mampu memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat. Selain bahan bakar yang lebih ramah lingkungan, pemanfaatan biogas ini juga menciptakan penghematan biaya kebutuhan rumah tangga yang semula dibutuhkan untuk membeli bahan bakar untuk memasak.
Suranto, selaku Ketua Kelompok Tani JSN Cengkir Gading, menjelaskan bahwa dalam kurun waktu satu terakhir kelompoknya mampu memperoleh penghematan dari penggunaan biogas untuk kebutuhan operasional peternakan setidaknya Rp 144 ribu per bulan.
“Ke depan setidaknya 42 anggota kelompok akan mulai memanfaatkan biogas ini untuk kebutuhan di rumah tangga kami masing-masing,” ungkap Suranto.








Tinggalkan Balasan