Tanjung, Petrominer – PT Pertamina EP kembali membuat inovasi dalam upaya meningkatkan produksi minyak di wilayah kerjanya. Anak usaha PT Pertamina (Persero) ini mulai menerapkan metode Enhanced Oil Recovery (EOR) di Tanjung Field, Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan.
Dengan kemajuan teknologi yang semakin pesat, terutama di bidang perminyakan, telah diketemukan salah satu metode untuk membantu meningkatkan produksi minyak, yakni EOR. Ini merupakan metode perolehan minyak tahap lanjut dengan cara menambahkan energi berupa dari material atau fluida khusus yang tidak terdapat dalam reservoir minyak.
Umumnya, EOR diterapkan pada lapangan yang telah cukup lama diproduksikan (mature field) dengan tujuan mengambil minyak tersisa yang tidak dapat diproduksikan dengan metode perolehan primer dan sekunder (water flooding). Beberapa teknik EOR yang banyak dikenal hingga saat ini adalah injeksi uap panas (steam flooding), injeksi kimia (chemical flooding), dan injeksi gas (gas flooding).
“EOR yang diterapkan di lapangan minyak Tanjung adalah metode polymer flooding,” ujar President Director Pertamina EP, Nanang Abdul Manaf, usai meresmikan Tanjung Polymer Field Trial di Lapangan Tanjung, Tabalong, Kamis (20/12).
Nanang menjelaskan, proven resources dengan tingkat kesulitan eksplorasi terendah praktis kini telah habis dieksploitasi dan menyisakan tingkat kesulitan yang lebih tinggi. Karena itu, diperlukan teknologi yang lebih canggih. Salah satunya dengan EOR yang dapat meningkatkan jumlah minyak diekstrak dari lapangan minyak mencapai 30-60 persen, dibandingkan 20-40 persen dengan menggunakan primary dan secondary recovery.
Hal senada juga disampaikan oleh Deputi Perencanaan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas (SKK Migas), Jafee Arizon Suhardin. Malahan, dia menegaskan bahwa masih banyak minyak yang belum terangkat dengan menggunakan metode pengambilan biasa.
“Kita kekurangan produksi, bukan kekurangan minyak. Minyaknya ada, tapi kita butuh teknologi untuk mengangkat minyak, salah satunya dengan EOR,” terang Jafee.
Menurutnya, dengan kemajuan teknologi yang semakin pesat terutama di bidang perminyakan, diketemukan salah satu metode untuk membantu meningkatkan produksi minyak. EOR merupakan teknologi yang berhubungan dengan proses di reservoar terkait dengan pengangkatan minyak yang belum bisa terangkat dengan cara pengangkatan primer dan sekunder.
“Pengangkatan primer menggunakan tekanan alamiah dari reservoar, sementara pengangkatan sekunder, menggunakan cara injeksi (air atau gas) sebagai upaya mempertahankan tekanan reservoar yang turun secara alamiah,” kata Jafee.
Nanang menambahkan, pemilihan metode injeksi polymer di Tanjung Field didasarkan pada kriteria-kriteria tertentu dengan mempertimbangkan temperatur reservoar, fluida reservoar dan kondisi geologi. Polymer merupakan salah satu teknik EOR yang sudah terbukti dapat meningkatkan perolehan minyak dan telah banyak digunakan di lebih dari 50 lapangan di dunia.
“Desain pilot injeksi dibuat dengan kebutuhan polymer sebanyak 70 ton, volume larutan polymer yang diinjeksikan adalah 200 ribu barel dengan konsentrasi 2000 ppm dan laju injeksi sebesar 1.000 barel per hari,” ujarnya.
Sejak tahun 2016, Pertamina EP telah melakukan studi laboratorium dengan bantuan pakar-pakar dari Institut Teknologi Bandung (ITB). Uji laboratorium bertujuan untuk mendapatkan polymer yang tepat dan efisien untuk digunakan di Tanjung Field.
Tanjung Field masuk dalam wilayah kerja Pertamina EP Asset 5. Selain Tanjung, empat lapangan lainnya yang dikelola Asset 5 adalah Sangasanga dan Sangatta di Kalimantan Timur serta Tarakan dan Bunyu di Kalimantan Utara.
Untuk realisasi produksi hingga pertengahan Desember 2018, produksi minyak di Tanjung Field mencapai 3.254 BOPD (barel minyak per hari) dan realisasi gas mencapai 1.098,99 MMSCFD (juta standar kaki kubik).
Sedangkan untuk Pertamina EP Asset 5 secara keseluruhan, produksi minyak berada di kisaran 18.252 BOPD dan produksi gas di kisaran 15,81 MMSCFD.








Tinggalkan Balasan