Jakarta, Petrominer – Shell mengundang para mahasiswa yang memenangi Shell Eco-marathon Drivers’ World Championship (DWC) 2018 ke markas Scuderia Ferrari S.p.A, divisi balap Formula 1 (F1) milik Ferrari, di Maranello, Italia. Mereka berhasil menjadi juara dalam Grand Finale di London yang digelar bulan Juli 2018 lalu.
Selama satu minggu, pada awal Desember 2018 lalu, para pemenang tersebut diajak tur, antara lain mengunjungi pabrik Scuderia Ferrari, mengikuti workshop, dan berkesempatan berinteraksi secara langsung dengan para insinyur Scuderia Ferrari.
Para mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) yang tergabung dalam ITS Team 2 berhasil menjadi juara pertama kompetisi adu cepat antara mobil-mobil hemat energi terbaik dari seluruh dunia. Juara kedua diaaraih tim mahasiswa dari Sask Eco UC dari Saskatchewan Polytechnic, Kanada. Juara ketiga adalah tim Toulouse Ingénierie Multidisciplinaire dari INSA Toulouse, Prancis. Ketiga group pemenang turut juga hadir dalam kunjungan tersebut.
Sebagai pemenang pertama, Sembilan anggota ITS Team 2 termasuk dosen pembimbing mendapatkan kesempatan melakukan tur eksklusif, di mana mereka dapat mengunjungi pabrik Scuderia Ferrari yang tidak dibuka untuk umum. Di sana, tim mahasiswa itu dapat menyaksikan unit-unit mobil balap Scuderia Ferrari yang baru saja kembali dari F1 Grand Prix di Abu Dhabi yang diadakan pada 25 November 2018 lalu.
Pada kesempatan tersebut, mereka juga dapat mempelajari bagaimana unit-unit mobil balap tersebut dievaluasi dan dilakukan perbaikan-perbaikan guna mengembalikan performa mobil sebagai persiapan mengikuti musim Grand Prix berikut pada bulan Maret 2019 di Melbourne, Australia.
ITS Team 2 merupakan tim mahasiswa Indonesia kedua yang mendapatkan kesempatan istimewa berkunjung ke markas tim balap Scuderia Ferrari. Sebelumnya, ajang Drivers’ World Championship 2016, tim Bumi Siliwangi Team 4 dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, yang merupakan pemenang pertama, juga melakukan kunjungan serupa. Hal ini menunjukkan betapa besarnya potensi anak bangsa Indonesia, oleh karena itu, Shell melalui Shell Eco-marathon berharap program ini dapat menginpirasi lebih banyak lagi putra bangsa untuk terus berkarya.
Shell Eco-marathon pertama kali diselenggarakan pada tahun 1939 di laboratorium penelitian Shell di Amerika Serikat sebagai pertandingan persahabatan antar ilmuwan untuk mengetahui siapa yang dapat menempuh jarak terjauh dengan segalon bahan bakar pada kendaraannya. Pemenang lomba ketika itu hanya mampu menempuh jarak 50 mpg (21 km/l), dan dari sejarahnya yang sederhana ini, pertandingan persahabatan tersebut berkembang menjadi kompetisi yang dikelola dengan lebih rapi.
Pada tahun 1985, di Perancis, lahirlah Shell Eco-marathon seperti yang kita kenal saat ini. Pada April 2007, Shell Eco-marathon Americas diselenggarakan di Amerika Serikat, dan pada tahun 2010, pembukaan Shell Eco-marathon Asia diselenggarakan di Malaysia. Malaysia menjadi tuan rumah penyelenggaraan Shell Eco-marathon Asia sampai dengan tahun 2013. Sejak tahun 2014 hingga 2016, Manila, Filipina, menjadi tuan rumah penyelenggaraan kompetisi ini. Kemudian pada tahun 2017, Singapura mulai menjadi tuan rumah penyelenggaraan Shell Eco-marathon untuk kawasan Asia dan Pasifik.









Tinggalkan Balasan