, ,

Optimalisasi Gas Bumi dan Agresivitas Eksplorasi, Kunci Kedaulatan Energi

Posted by

Jakarta, Petrominer — Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI, Eddy Soeparno, mengatakan kemandirian energi tidak bisa ditawar lagi. Memasuki usia ke-81 tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, kedaulatan dan ketahanan energi nasional menjadi pilar mutlak yang perlu terus diperkuat.

Menurut Eddy, momentum ini juga penting bagi Indonesia dalam mempercepat eksplorasi hulu minyak dan gas bumi (migas) guna menekan ketergantungan impor minyak mentah dan Bahan Bakar Minyak (BBM), sekaligus mengoptimalkan gas bumi sebagai alternatif energi rendah emisi. Untuk itu, agresivitas dalam mencari cadangan baru dan meningkatkan produksi adalah langkah yang wajib ditempuh pemerintah.

“Ketahanan energi merupakan hal yang sangat penting, sehingga kita harus mempercepat, memperkuat eksplorasi untuk melakukan peningkatan dari lifting migas kita, agar kita bisa mengurangi impor minyak mentah dan BBM yang selama ini kita lakukan, termasuk juga memenuhi kebutuhan gas di dalam negeri,” katanya kepada wartawan, Kamis (20/8).

Pemenuhan gas domestik juga memiliki peran yang sangat strategis. Di tengah tuntutan global untuk menurunkan emisi karbon, gas bumi memegang peranan krusial sebagai jembatan transisi energi karena sifatnya yang jauh lebih bersih dan rendah emisi dibandingkan energi fosil lainnya. Hal ini menempatkan sektor hulu migas tetap relevan dan menjadi tulang punggung bagi ketahanan energi masa depan.

“Sejauh ini kolaborasi KKKS dengan SKK Migas sudah cukup bagus, tapi saya kira perlu ada perhatian terhadap masukan yang diberikan oleh asosiasi KKKS yang berada di bawah Indonesian Petroleum Association (IPA) yang menekankan pada tiga hal, yaitu penguatan terhadap kepastian hukum, konsistensi kebijakan, dan insentif fiskal,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Eddy turut menyoroti pentingnya dampak langsung industri migas terhadap ekonomi akar rumput. Dia mengapresiasi transformasi pertambangan migas yang dapat dikelola oleh rakyat dan kini ditarik dari wilayah abu-abu menjadi sah dan legal. Meskipun nilainya tidak sesignifikan eksplorasi proyek besar, namun langkah ini dinilai efektif untuk memaksimalkan lapangan-lapangan migas marginal.

“Jadi ini saling mengisi, saling menunjang, tetapi yang paling penting, ini adalah sebuah kegiatan yang bisa dilaksanakan oleh masyarakat oleh rakyat yang tadinya ilegal menjadi legal, yang tadinya masyarakat sulit mendapatkan pekerjaan, bisa mendapatkan pekerjaan, dan yang sedianya belum ada pemasukan asli daerah dari aspek pertambangan atau eksplorasi migas rakyat, sekarang ada untuk daerah,” terang mantan Anggota Komisi XII DPR RI tersebut.

Tepat Sasaran

Pada kesempatan terpisah, Direktur Eksekutif ReforMiner Institute, Komaidi Notonegoro, menyebutkan bahwa langkah SKK Migas yang menerapkan strategi dengan mengejar proyek laut dan melegalkan sumur rakyat merupakan taktik yang tepat sasaran.

Menurut Komaidi, eksplorasi di laut adalah salah satu upaya untuk meningkatkan cadangan energi dalam jangka panjang. Sementara sumur rakyat bertujuan membantu target produksi nasional.

“Saya kira ini langkah strategis yang harus dilakukan dan ini sudah dilakukan oleh SKK Migas. Saya kira perlu kita apresiasi,” katanya

“Ketika POD-nya bisa dipercepat, nanti masa monetisasi atau eksploitasi atau produksinya juga bisa dipercepat. Kalau itu bisa dipercepat, ya semuanya akan untung,” tegasnya.

Mewujudkan mega proyek laut dalam dan memangkas waktu produksi menuntut kapasitas teknologi, finansial, dan sumber daya manusia yang luar biasa. Di sinilah peran strategis KKKS berkelas dunia sangat krusial.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *