,

Rp 1 Miliar Untuk Gajah Sumatera dan Elang Bondol

Posted by

Jakarta, Petrominer – PT Pertamina (Persero) mengalokasikan dana donasi sebesar Rp 1 miliar untuk konservasi Gajah Sumatera dan Elang Bondol. Dana ini berasal dari sebagian hasil penjualan tiket Eco Run 2018, yang telah berlangsung di BSD, Tangerang Selatan, Minggu pagi (9/12).

Pertamina melalui Eco Run 2018 mengajak para peserta untuk bersatu dan bersinergi untuk menunjukkan kepeduliaanya kepada lingkungan. Salah satu caranya adalah dengan melakukan penggalangan dana untuk membantu konservasi Gajah Sumatera dan Elang Bondol yang terancam punah.

“Pertamina berterima kasih kepada para peserta Eco Run 2018 yang sudah berpartisipasi memberikan donasi, karena sebagian dana hasil penjualan tiket Eco Run 2018 didonasikan untuk konservasi hewan-hewan khas Indonesia yang terancam punah,” ujar Vice President Corporate Communication Pertamina, Adiatma Sardjito.

Lihat juga: Upaya Lestarikan Negeri Lewat Pertamina Eco Run

Menurut Adiatma, total donasi terkumpul dari hasil penjualan tiket Pertamina Eco Run 2018 untuk pelestarian satwa Elang Bondol dan Gajah Sumatera itu mencapai lebih dari Rp 1 Miliar. Selanjutnya, dana tersebut akan disalurkan masing-masing sekitar Rp 549 juta untuk pelestarian Elang Bondol dan sekitar Rp 549 juta untuk pelestarian Gajah Sumatera.

Selain itu, sebagai bentuk dukungan nyata terhadap pelestarian lingkungan dan masyararakat, pada event Eco Run 2018 ini Pertamina juga menyerahkan bantuan donasi mencapai lebih dari Rp 65 miliar yang diserahkan kepada para penerima manfaat program Kemitraan dan Bina Lingkungan Pertamina.

Manfaat tersebut meliputi pelestarian Terumbu Karang di Karang Asem, pengelolaan 15 Rumah Kreatif BUMN (RKB), bantuan Kemitraan kepada 514 peternak udang dan 70 peternak sapi di Lampung, dan bantuan Masjid Baitul Muttaqin di Pidie, Banda Aceh.

Gajah Sumatera

Gajah Sumatera (Elephas Maximus Sumatranus) termasuk sebagai sebagai Hewan dilindungi karena hilangnya habitat akibat aktivitas penebangan hutan. Hilangnya habitat Gajah memaksa mereka masuk ke kawasan berpenduduk sehingga memicu konflik manusia dan Gajah, berujung pada kematian Gajah, selain juga Gajah Sumatera diburu dan dilakukan perdagangan liar.

Pertamina bekerjasama dengan Balai Litbang LH dan Kehutanan Aek Nauli melakukan program konservasi tumbuhan dan satwa dilindungi di area kawasan hutan dengan tujuan khusus (KHDTK) Aek Nauli, di seputaran area Danau Toba, yang diinisiasi hampir satu tahun yang lalu dengan gerakan bernama EcoMOR1mpact.

Program kerjasama konservasi Gajah ini meliputi pengembangan sarana dan prasarana pendukung, baik pakan hingga obat-obat-obatan klinik Gajah. Untuk penanaman pakan Gajah, ditanam di lahan seluas 1 hektare. Adapun jenis tanaman pakan gajah meliputi rumput Gajah, tebu, nanas, pisang dan pepaya. Sedangkan konservasi tumbuhan meliputi kegiatan penanaman pohon pada lahan kritis seluas 1,5 hektare di KHDTK Aek Nauli dengan metode pembangunan hutan tanaman Macadamia Integrifolia terintegrasi dengan pohon buah hutan khas Batak (Rukam, Kapundung, Sotul, Biwa, Jontik-jontik).

“Program konservasi ini kami lakukan secara bertahap mulai dari bekerjasama dengan penanaman pakan Gajah, pemberian edukasi dan informasi, hingga pemberdayaan ekonomi kader kelompok peduli Gajah. Harapan kami tujuan utama dari program ini tercapai yaitu Tercipta ekosistem yang ideal untuk Gajah berkembang biak” jelas Adiatma.

Burung elang di Pusat Konservasi Elang Kamojang, Garut, Jawa Barat.

Elang Bondol

Jika Gajah Sumatera termasuk Hewan yang dilindungi, maka Elang Bondol (Haliastur Indus), si maskot Kota Jakarta ini merupakan satwa yang hampir punah karena perburuan dan penangkapan illegal di Indonesia.

Satwa yang memilih Habitat ideal di area tepi laut yang berlumpur seperti hutan mangrove, muara sungai, dan pesisir pantai hanya tersisa 25 ekor di kepulauan Seribu dan Jakarta.

Adiatma menjelaskan, sejak tahun 2016, Pertamina Bekerjasama dengan Jakarta Animal Aid Network (JAAN) yang fokus pada konservasi Elang Air, memberikan dukungan berupa fasilitas untuk pelestarian Elang seperti kandang sanctuary, pusat edukasi, dan fasilitas umum lainnya.

“Kami berharap dengan fasilitas yang lebih lengkap maka proses edukasi dan konservasi Elang Bondol di sini bisa berjalan dengan lebih optimal. Peserta yang ikut acara ini juga bisa membantu menyebarkan informasi mengenai Elang Bondol ke lingkungan yang lebih luas,” tambahnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *