Pengembangan energi baru dan terbarukan akan menjadi salah satu prioritas Pertamina untuk menjawab isu lingkungan dan tren transisi energi pada tahun 2030.

Jakarta, Petrominer – PT Pertamina (Persero) mendukung hadirnya Rancangan Undang-Undang mengenai Energi Baru Terbarukan (EBT). Kebijakan baru ini disebutnya dalam rangka memastikan delapan inisiatif strategis program green transition yang telah digagas Pertamina bisa berjalan dengan baik.

Regulasi yang bertujuan untuk mempercepat pemanfaatan EBT di Indonesia ini sedang dipersiapkan DPR RI dan Pemerintah. RUU tersebut tercantum dalam program legislasi nasional (Prolegnas) DPR tahun 2021 dan ditargetkan tuntas tahun ini.

“Beberapa tren pada sektor Oil & Gas serta Power mengalami akselerasi terutama untuk low carbon focus & policies dengan semakin besarnya tuntutan ESG serta green financing yang mendorong percepatan transisi energi menuju EBT,” ujar Direktur Utama Pertamina, Nicke Widyawati, Kamis (29/4).

Sambil menunggu RUU EBT, Pertamina tetap melanjutkan langkahnya dalam pengembangan EBT dengan delapan inisiatif strategisnya.

Pertama, memanfaatkan potensi kelapa sawit yang besar untuk berinvestasi dalam Proyek Green Refinery di Plaju, Dumai dan Cilacap. Melalui proses terbaik, Pertamina menghasilkan Biodiesel 30 dan Green Diesel D-100 dengan bahan baku minyak sawit, minyak terbarukan lainnya, dan minyak jelantah.

Kedua, Pertamina juga mengembangkan proyek biomasa menjadi biogas dan bioethanol di Sei Mangkei. Dengan potensi besar Mikroalga di perairan luas Indonesia dan mampu memproduksi Algae terbesar ke-3 di kawasan ekonomi Asia Pasifik, Pertamina akan menjadikan mikroalga sebagai bahan untuk memproduksi biofuel. Pertamina telah berhasil mengembangkan fasilitas 5.000 liter microalga photobioreactor dan sedang berjalan untuk mencapai skala komersial budidaya dan produksi pada tahun 2025.

Ketiga, Pertamina telah mempelopori pemanfaatan energi panasbumi di Indonesia dengan kapasitas total 1,8 Giga Watt (GW).

Keempat, Pertamina juga menjalankan inisiatif pemanfaatan green hydrogen dengan listrik di area panasbumi yang total potensinya mencapai 8.600 KG per hari. Green hydrogen akan dimulai di Pembangkit Geothermal Ulubelu untuk digunakan di pabrik Polypropylene Kilang Plaju.

Kelima, berkolaborasi dengan BUMN lain yaitu Inalum, Antam dan juga PLN untuk melakukan pengembangan ekosistem dari EV Baterai dalam IBH. Yang akan bergerak dari mining sampai recycling.

Keenam, Pertamina mengoptimalkan pemanfaatan gas untuk kebutuhan transportasi, rumah tangga, dan industri di seluruh Indonesia. Saat ini, Pertamina telah mengembangkan infrastruktur gas yang terintegrasi dengan Floating Storage Refinery Unit (FSRU) dan lebih dari 10.000 km pipa gas di Indonesia yang merupakan saluran pipa terpanjang di Asia Tenggara. Selain itu, Pertamina juga memperkuat gasifikasi di kilang dan pembangkit, termasuk regasifikasi di Cilacap, Terminal Teluk Lamong, LNG Badak, dan 52 pembangkit lainnya. Untuk mendukung pembangkit listrik PLN, perusahaan akan mengonversi pembangkit listrik yang masih menggunakan diesel beralih menjadi gas.

Ketujuh, untuk pembangkit listrik, Pertamina juga terus meningkatkan pemanfaatan energi baru terbarukan melalui solar power plant di berbagai area operasi.

Kedelapan, untuk pendekatan inklusif Circular Carbon Economy, Pertamina akan mengaplikasikan Carbon, Capture, Use and Storage atau CCUS pada beberapa lapangan migas untuk meningkatkan produksi.

“Pertamina memiliki komitmen kuat pada pengembangan EBT. Dalam RJPP, Pertamina telah menetapkan target EBT yang tahun 2035 porsinya mencapai 30 persen. Dengan 8 inisiatif tersebut, kami yakin target dapat tercapai,” ujar Nicke.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here