, , ,

WKP Kamojang, Pusat Inovasi dan Pilar Transisi Energi

Posted by

Kabupaten Bandung, Petrominer – PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) terus memperkuat peran strategis Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Kamojang sebagai penggerak utama industri panas bumi sekaligus pilar penting dalam mendukung transisi energi. Dengan menyeimbangkan pertumbuhan bisnis dan kontribusi sosial, PGE mengembangkan WKP Kamojang menjadi pusat inovasi yang membuktikan bagaimana energi panas bumi dapat memperkuat ketahanan energi.

“Sebagai pionir panas bumi di Indonesia, Kamojang bukan hanya simbol sejarah, tetapi bukti nyata kontribusi Indonesia dalam mewujudkan masa depan energi bersih,” ujar General Manager PGE Area Kamojang, I Made Budi Kesuma Adi Putra, Kamis (6/11).

Made Budi menegaskan komitmen PGE untuk memastikan bahwa pertumbuhan bisnis perusahaan berjalan selaras dengan kesejahteraan masyarakat. Keberadaan PLTP Kamojang tidak hanya memberikan manfaat energi, tetapi juga nilai sosial dan ekonomi bagi masyarakat sekitar.

“Melalui berbagai program pemberdayaan, kami ingin memastikan bahwa setiap langkah pengembangan energi panas bumi juga memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan komunitas lokal,” ucapnya.

Dalam mengembangkan energi bersih, PGE juga aktif memberdayakan masyarakat di sekitar wilayah operasi Kamojang melalui berbagai inisiatif berkelanjutan. Salah satunya adalah program Digital Rangers App, yang menghadirkan berbagai layanan digital, termasuk transportasi, mitra jasa wisata, platform penjualan daring, dan media promosi.

Melalui program ini, masyarakat Kamojang bisa berpartisipasi secara aktif dengan menjadi mitra driver menggunakan motor listrik yang dayanya bersumber dari listrik bersih hasil produksi PLTP Kamojang.

Pemanfaatan panas bumi secara langsung (direct use) juga turut mendorong ekonomi lokal. Melalui inovasi Geothermal Dry House, petani memanfaatkan uap panas bumi dari PLTP Kamojang untuk mempercepat proses pengeringan kopi dari yang sebelumnya memakan waktu 30–45 hari, kini hanya membutuhkan 3–10 hari. Inovasi yang pertama di dunia ini telah meningkatkan pendapatan petani kopi hingga tiga kali lipat dan kopi Kamojang menembus pasar Jepang, Korea, dan Eropa.

Untuk menjaga kelestarian keanekaragaman hayati, PGE bekerja sama dengan BBKSDA Jawa Barat, Raptor Indonesia, dan masyarakat Kamojang untuk melestarikan Elang Jawa (Nisateus bartelsi) yang memiliki penglihatan tajam serta kecepatan hingga 300 km per jam. Kini, Pusat Konservasi Elang Kamojang telah melepasliarkan 153 Elang Jawa dari total 392 ekor yang telah dikonservasi sejak 2014.

Terbaru, PGE tengah menjalankan program GEMAH KARSA singkatan dari Geothermal Empowerment for Maximizing Agriculture through Kamojang Responsible and Sustainable Farming). Program ini  memberdayakan 2.647 penerima manfaat dari kelompok rentan lewat pertanian berkelanjutan berbasis energi panas bumi, penyediaan air bersih, dan produksi pupuk organik.

Berbagai program pemberdayaan yang dijalankan PGE ini telah mendapatkan pengakuan nasional dan internasional, termasuk penghargaan PROPER Emas yang diterima PGE Kamojang dari Kementerian Lingkungan Hidup selama 14 kali berturut-turut.

Area Kamojang merupakan wilayah panas bumi tertua di Indonesia, pertama kali dieksplorasi oleh Belanda tahun 1926. Sementara eksplorasi oleh Pertamina dimulai tahun 1974, dan PLTP Kamojang pertama resmi beroperasi komersial sejak tahun 1983.

Kini, pengelolaan WKP Kamojang dilakukan oleh PGE, dengan lima unit Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) dengan total kapasitas mencapai 235 megawatt (MW). Dengan kapasitas tersebut, PLTP Kamojang mampu memasok listrik untuk lebih dari 260.000 rumah tangga setiap hari selama setahun penuh tanpa bergantung pada sinar matahari, cuaca, atau bahan bakar fosil.

Hingga September 2025, produksi listrik dari Kamojang mencapai 1.326 gigawatt hour (GWh), tertinggi di antara seluruh WKP PGE. Operasi bersih ini juga berkontribusi signifikan terhadap pengurangan emisi karbon hingga 1,22 juta ton CO₂ per tahun, sejalan dengan upaya Indonesia mencapai Net Zero Emission pada 2060.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *