Dengan semangat Go Green, Subholding Upstream Pertamina siap dukung Net Zero Emission Indonesia tahun 2050.

Jakarta, Petrominer – Sejalan dengan semangat Go Green Pertamina, Subholding Upstream juga turut mendukung komitmen the 26th UN Climate Change Conference of the Parties (COP-26) yang baru saja digelar di Glasgow, Skotlandia. Beberapa langkah pun dilakukan dalam mendukung Pemerintah Indonesia untuk mengurangi emisi hingga 29 persen tahun 2030 dan mencapai emisi nol bersih (net zero emission) pada tahun 2050.

Direktur Pengembangan dan Produksi PHE, sebagai Subholding Upstream Pertamina, Taufik Aditiyawarman, menyebutkan pihaknya telah melakukan efisiensi energi di beberapa lapangan migas melalui penggunaan gas sebagai pengganti diesel engine, dan penggunaan jaringan listrik PLN untuk mendukung operasi di lapangan. Selain itu, Subholding Upstream juga mengimplementasikan penggunaan PLTS dengan kerja sama dengan PT Pertamina Power Indonesia dan penerapan CCS (Carbon Capture Storage) dan CCUS (Carbon Capture Utilization and Storage) di lapangan penghasil gas CO2.

“Langkah lain yang dilakukan Subholding Upstream Pertamina dalam mewujudkan road to net zero emission antara lain melalui program Carbon Capture Utilization and Storage – Enhanced Gas Recovery (CCUS-EGR) Project di lapangan Gundih dan lapangan Sukowati,” ujar Taufik, Jum’at (19/11).

Untuk implementasi CCUS, saat ini tengah dilaksanakan joint study untuk mengetahui potensi pemanfaatan gas CO2 dari yang sebelumnya diabaikan untuk kemudian dapat dimanfaatkan guna mendukung operasi. Sebelumnya, sejak tahun 2016 Pertamina bekerja sama dengan Exxon Mobil Cepu Limited telah mengimplementasikan injeksi gas CO2 ke lapisan reservoir sebagai bagian program CCUS di Blok Cepu.

“Jumlah Gas CO2 dari Central Processing Plant (CPP) Gundih yang belum dimanfaatkan sebanyak 15 MMSCFD. Potensi Abatement atau yang terbuang sebesar 300,000 tCO2 per tahun atau sebesar ±3 million tCO2 untuk 10 Tahun. Melalui CCUS, Gas CO2 akan dimanfaatkan dan berpotensi untuk menambah produksi gas hingga 36 BSCF Gas & menambah produksi kondensat hingga 382,7 MSTB,” jelas Taufik.

Sementara untuk implementasi program CCUS di lapangan Sukowati, saat ini telah mencapai tahapan study dengan Lemigas dan Japex. Melalui salah satu langkah program tersebut, Pertamina mendapatkan beberapa benefit. Secara operasi produksi bisa meningkat, dan secara pengelolaan lingkungan dapat mengurangi emisi yang dihasilkan dari Gas CO2.

“Kami paham bahwa ini sebuah proses panjang dan berkelanjutan. Maka dari itu kami terus melakukan berbagai upaya lanjutan,” ungkapnya.

Upaya lanjutan juga ditujukan dengan komitmen dalam pengurangan emisi dari beberapa Wilayah Kerja di lingkungan Subholding Upstream, meliputi program efisiensi energi, pengurangan Flare/Zero Flaring dan penggunaan renewable energy.

Sejalan dengan implementasi Environmental, Social, and Governance (ESG), Subholding Upstream juga menyusun Road Map Emission Reduction & Decarbonization hingga tahun 2030. Ini meliputi Road Map Zero Routine Flaring, Efisiensi energi hingga 2030 dan peningkatan Bauran Energi dengan penggunaan Low Carbon Energy or Renewable Energy hingga minimal 30 persen dari total penggunaan energi yang telah didiskusikan dan disetujui. Konsep ini juga merupakan upaya awal dalam mitigasi langkah dukungan menuju Net Zero Emission Indonesia tahun 2050.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here