Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian Haris Munandar memberikan pemaparan mengenai penyerapan tenaga kerja di sektor industri manufaktur pada acara diskusi dengan Forum Wartawan Industri di Bogor, Jawa Barat, Rabu (20/12).

Bogor, Petrominer – Sebagai upaya menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara yang kokoh di bidang industri, Pemerintah berupaya keras mengisi bagian-bagian industri yang belum sepenuhnya dapat dikuasai. Misalnya industri hulu di bidang petrokimia.

Beragam upaya pun dilakukan untuk menarik masuk investasi di petrokimia. Salah satunya dengan menawarkan berbagai insentif, seperti tax holiday dan tax allowance.

“Dalam program pendalaman struktur industri, Pemerintah tengah memfokuskan hilirisasi pada tiga kelompok industri pengolahan, yaitu sektor industri besi baja, petrokimia, dan kimia dasar. Ketiga industri tersebut dinilai sebagai driving sector bagi manufaktur lainnya,” ujar Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustria, Haris Munandar, Rabu (20/12).

Menurut Haris, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto pernah menyampaikan bahwa potensi dan peluang untuk mengakselerasi pertumbuhan industri perlu dimanfaatkan secara optimal agar Indonesia dapat mencapai pertumbuhan ekonomi yang semakin berkualitas dan berkesinambungan. “Optimisme dunia usaha dan konsumen dapat menjadi peluang dan kesempatan dalam memacu pertumbuhan industri nasional,” katanya mengutip Airlangga.

Oleh karena itu, Kementerian Perindustrian bersama pemangku kepentingan terkait bersinergi untuk meningkatkan daya saing dan daya tarik investasi di sektor industri, antara lain melalui penciptaan iklim usaha yang kondusif dan kepastian hukum, penggunaan teknologi terkini untuk mendorong peningkatan mutu, efisiensi dan produktivitas, serta pemberian fasilitas berupa insentif fiskal.

Haris mengatakan, dengan jumlah populasi yang sangat besar, Indonesia menyimpan potensi ekonomi digital di masa yang akan datang seiring berkembangnya teknologi dan media sosial. Berdasarkan data Kepios (September 2017), jumlah populasi di Indonesia mencapai 264 juta jiwa, dan merupakan jumlah populasi terbesar di kawasan Asia Tenggara. Dari jumlah tersebut, 55 persen merupakan kaum urban yang tinggal di daerah perkotaan yang notabene sudah sangat melek terhadap perangkat-perangkat digital (digital devices).

Pertumbuhan kelas menengah di Indonesia yang mencapai 174 persen tahun 2016 adalah yang tertinggi dibandingkan negara-negara ASEAN lainnya. Singapura hanya 10 persen; Malaysia 18 persen; Thailand 39 persen; dan Filipina 72 persen. Ini menjadikan pasar Indonesia cukup menarik.

Adapun penetrasi pengguna internet di Indonesia mencapai 133 juta jiwa atau sekitar 50 persen dari total populasi. Sementara pengguna aktif media sosial mencapai 115 juta jiwa atau sekitar 44 persen dari total populasi. Selain itu, penggunaan smartphone sudah mencapai 371 juta atau 141 persen dari total populasi. Artinya, sebagian orang yang menggunakan smartphone berjumlah lebih dari satu unit.

Sedangkan pengguna media sosial aktif dengan menggunakan ponsel mencapai 106 juta atau 40 persen dari pengguna smartphone terdaftar. Dengan iklilm seperti itu, perusahaan retail online akan terus bermunculan dan sedikit demi sedikit akan bertransformasi menjadi salah satu sektor penggerak ekonomi nasional. Dari keadaan tersebut, Indonesia berpeluang menjadi negara ketiga terbesar di dunia setelah China dan Amerika yang memiliki pendapatan dari bisnis online.

Berdasarkan riset Michael Page tahun 2016, perkembangan industri digital yang marak belakangan ini di Indonesia, menjadi pemicu bertumbuhnya jumlah lowongan pekerjaan di sektor ini hingga 60 persen dalam setahun terakhir. Adapun segmen perusahaan yang diprediksi akan menyumbang lowongan pekerjaan terbesar di sektor teknologi digital ini, antara lain e-commerce, teknologi keuangan (fintech), logistik, dan big data.

Strategi Kemenperin

Karena itulah, Kemenperin tidak hanya mengajak pelaku industri berskala besar, tetapi juga industri kecil dan menengah (IKM) untuk ikut menangkap peluang dalam pengembangan era digital seperti kemajuan teknologi artificial intelligent, robotic, dan 3D printing.

“Pemerintah juga sudah menyiapkan pembangunan Nongsa Digital Park (NDP) di Batam, yang akan menjadi basis sejumlah pelaku industri kreatif di bidang digital seperti pengembangan startup, web, aplikasi, program-program digital, film, dan animasi,” tutur Haris.

Sejauh ini, upaya strategis yang telah dilakukan Kemenperin dalam rangka mendorong implementasi ekonomi digital antara lain melakukan pemilihan sektor industri yang sudah siap untuk di-upgrade secara masif menuju sistem Industry 4.0. Sektor tersebut, di antaranya adalah industri makanan dan minuman, industri elektronik, dan industri otomotif.

Terkait penelitian dan pengembangan sistem dan teknologi Industry 4.0, Kemenperin telah menjajaki kerja sama untuk melakukan kolaborasi riset dengan Tsinghua University dari China dan Institute of Technical Education (ITE) dari Singapura.

Kemenperin juga telah mencanangkan program e-Smart IKM dalam mendorong para pelaku IKM nasional agar tidak tertinggal di era digitalisasi yang sedang dihadapi saat ini. Program ini akan memanfaatkan platform digital melalui fasilitasi kerja sama antara IKM dengan perusahaan start-up di Indonesia, khususnya yang bergerak di bidang e-commerce dan perusahaan ekspedisi.

“Manfaat program ini bagi pelaku IKM adalah dapat memperluas akses pasar, mendapatkan promosi online, mengurangi biaya promosi dan pemasaran, serta berkesempatan mendapatkan pembinaan dari pemerintah,” tutur Haris.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here