Pulau Saparua, Petrominer – Banyak cara yang bisa dilakukan dalam mendistribusikan bahan bakar minyak (BBM). Masing-masing lokasi dan daerah tidak sama dan punya keunikan tersendiri.
Jika di kota-kota besar, khususnya Pulau Jawa dan Sumatera, pendistribusian BBM biasa dilakukan dengan mobil tangki dari Terminal BBM (Depo) ke SPBU. Beda dengan wilayah yang terdiri dari banyak kepulauan. Misalnya di wilayah Maluku, tepatnya di Pulau Saparua.
Bagi warga Pulau Saparua, yang merupakan tempat kelahiran pahlawan nasional Thomas Matulessy atau yang biasa dikenal Pahlawan Pattimura, kedatangan perahu pengantar BBM menjadi sesuatu yang ditunggu-tunggu. Proses pengangkutan BBM dari perahu ke daratan pun menjadi pemandangan yang unik dan patut dijadikan bahan pembelajaran.
Berikut cerita singkat tentang perjalanan BBM ke Pulau Saparua yang dipasok dari Terminal BBM Wayame di Ambon, yang terjadi pada Selasa (3/10).
Waktu menunjukkan pukul 14.30 WIT, ketika Perahu Galilea menepi di pantai Desa Nolot, Pulau Saparua, Maluku. Kapal ini membawa sekitar 18 drum BBM jenis Premium dengan total volume 5.000 Liter.
BBM yang berasal dari Terminal BBM Wayame ini diangkut dengan mobil tangki berkapasitas 5 Kilo Liter (KL). Setelah perjalanan sekitar 1 jam, mobil tangki tiba di Dermaga Tulehu untuk memindahkan isi tangkinya ke belasan drum yang sudah siap menanti di pinggir dermaga.
Setelah pengisian selesai, BBM dibawa dengan Perahu Galilea ke Pulau Saparua dengan waktu perjalanan sekitar 3 jam di atas laut.
Begitu perahu sampai di dekat pantai, sekitar delapan orang langsung turun ke air dan menunggu di bawah perahu. Rupanya mereka menunggu drum-drum BBM itu diturunkan dan dicemplungkan ke air.
Setelah drum mengambang di air, barulah mereka mendorongnya ke daratan dan menggelindingkannya ke tempat yang mudah dijangkau truk. Selanjutnya, truk akan membawa BBM tersebut ke satu-satunya lembaga penyalur di pulau ini yaitu Agen Premium Minyak dan Solar (APMS) di pusat keramaian Pulau Saparua.
Ya, memang unik. Beginilah cara warga Pulau Saparua mendapatkan BBM. Perjalanan yang panjang dan butuh bantuan banyak pihak. Dan semuanya tidak gratis.
Untuk sekali proses penurunan BBM hingga siap diangkut truk, pengusaha APMS harus merogoh kocek sekitar Rp 180.000 per perahu. Dalam sehari, ada tiga kali pengantaran dengan perahu. Biaya tersebut belum termasuk biaya pengantaran dengan kapal dan truk ketika tiba di Pulau Saparua.
Jarak dari dermaga tempat drum BBM diturunkan ke air hingga ke APMS memakan waktu sekitar 1 jam dengan jalur yang melewati hutan dan tebing.








Tinggalkan Balasan