Bandung, Petrominer – Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah menyelesaikan uji jalan (road test) penggunaan bahan bakar B40 pada kendaraan bermesin diesel. Selanjutnya, Pemerintah akan mengeluarkan rekomendasi teknis atas kebijakan implementasi B40 dan bisa segera diimplementasikan.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Arifin Tasrif, mengatakan senang dengan performa B40 selama uji jalan. pemakaian Bahan Bakar Nabati (BBN) khususnya biodiesel merupakan salah satu upaya strategis untuk mengurangi impor Bahan Bakar Minyak (BBM) dan sekaligus meningkatkan bauran energi baru terbarukan di Indonesia.
“Pertama saya senang perfoma B40 bisa merespon kebutuhan energi kendaraan. Kedua, emisinya bisa turun ya jelas aja pakai Bioenergi makin tinggi. Jadi, kita patut bersyukur negeri kita ini memberikan potensi sumber energi yang banyak,” ujar Arifin, Selasa (1/11).
Menurutnya, Pemerintah akan terus mendorong pemanfaatan sumber-sumber energi yang ada di Indonesia. Saat ini merupakan waktu yang tepat untuk mengembangan energi baru terbarukkan untuk mencukupi kebutuhan BBM dalam negeri yang selama ini dipenuhi melalui impor.
“Kita bayangkan sekarang produksi minyak kita kira-kira 650.000 barel per hari sedangkan kebutuhan kita 1,3 juta barel per hari. Apa jadinya kalau kita tidak bisa beli yang 650 ribu barel karena tidak ada pasokan. Apalagi kemampuan kita itu cuma 50 persen, Separuhnya kebutuhan kita dipenuhi dari minyak impor,” ungkap Arifin.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan Dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Dadan Kusdiana, menjelaskan bahwa dari 50.000 KM rencana uji jalan B40, tersisa 6.000 KM lagi. Jika sudah selesai, maka akan didapat kesimpulan final hasil test yang menjadi rujukan.
“Road Test B40 tersisa 6.000 lagi. Jadi hasil final untuk kendaraan yang pertama itu akan bisa kita dapat dalam dua minggu ke depan. Hasil final ya,” ungkap Dadan.
Saat ini, didapat hasil dari uji yang sudah berjalan, mobil dapat beroperasi dengan normal dan mulus. Menggunakan bahan bakar solar biasa terbukti tidak terjadi mobil mogok dan juga tidak terjadi blocking di filter bagian utama. Hal ini berbeda dengan uji sebelumnya.
“Hasil test pada bagian-bagian kritis kendaraan dapat beroperasi mulus tanpa mogok, blocking di filter tidak terjadi. Ini agak beda dengan sebelumnya. Sebelumnya kita ikuti aturan tiap 10.000 KM ganti. Jadi ini kita mau tau sebetulnya dia habisnya kapan. Jadi itu diangka 22.000 KM atau 23.000 KM gitu. Jadi ini sudah terbukti tidak ada blocking. Kemudian dari sisi apakah dia tahan dingin, kita udah test di Dieng. Jalan, satu detik langsung hidup. Jadi yang krisis-krisis dingin, kemudian filter blocking, kemudian beroperasi normal ini sudah terbukti,” jelas Dadan.
Selain persiapan teknis di mesin kendaraan untuk bisa diterapkan sebagai bahan bakar B40, Pemerintah juga akan memastikan ketersedian infrastruktur dari Pertamina dan badan usaha lain terkait fasilitas blendingnya mencukupi kebutuhan atau tidak.
“Sekarang kan semuanya didesain di B30, kemudian akan dinaikan menjadi B40, jadi pipanya juga nanti butuh pompa. Ya nambahnya kan 10 persen,” ujar Dadan.








Tinggalkan Balasan