Menurut JATAM, tumpahan minyak mentah di Teluk Balikpapan bisa menyebabkan punahnya biota laut yang hidup di perairan seperti ikan, Pesut, serta terumbu karang.

Jakarta, Petrominer – Kasus tumpahan minyak mentah di Teluk Balikpapan, Kalimantan Timur, memasuki babak baru. Saat pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan, PT Pertamina (Persero) melayangkan gugatan perdata kepada pemilik dan operator kapal MV Ever Judger sebagai penyebab kerusakan pipa pengangkut minyak yang mengakibatkan tumpahan tersebut.

Kuasa Hukum Pertamina Otto Hasibuandi menyatakan, Pertamina sebagai perusahaan profesional dan dimiliki oleh negara bertanggung jawab untuk melakukan upaya hukum apabila ada kerugian yang timbul pada perusahaan. Inilah yang menjadi alasan diajukannya gugatan atas kerugian yang dialami.

Meski begitu, Otto belum bersedia menyebutkan besaran ganti rugi. Begitu pula, kapan gugatan tersebut akan diajukan.

“Pemilik dan operator Kapal MV Ever Judger diduga sebagai pemilik jangkar penyebab patahnya pipa pengangkut minyak milik Pertamina,” paparnya, Kamis (26/4).

Namun sebelum melayangkan gugatan perdata, perusahaan bakal melayangkan somasi kepada pemilik dan operator kapal MV Ever Judger untuk membicarakan perhitungan ganti rugi. Pasalnya, Otto menyadari proses peradilan bakal memakan waktu dan biaya.

“Siapa tahu dalam somasi dia bersedia mengganti rugi tanpa melalui pengadilan,” tutur Otto.

Jika tak digubris, perusahaan akan melayangkan gugatan perdata. Namun, masih belum diputuskan akan dilakukan di Indonesia atau di negara asal tergugat.

Berdasarkan informasi yang dikumpulkan oleh Tim Kuasa Hukum Pertamina, Kapal MV Ever Judger dimiliki oleh Ever Judger Holding Company Limited, British Virgin Island. Kemudian, operator kapal adalah Fleet Management Ltd, Hong Kong.

Pertamina juga telah membuat laporan kepada Kepolisian Daerah Kalimantan Timur dengan Nomor LP/181/IV/POLDA KALTIM/SPKT II pada 13 April 2018. Dengan dugaan tindak pidana pengrusakan fasilitas khusus atau aset negara milik Pertamina dan atau ikut serta melakukan pengrusakan yang tercantum dalam Pasal 406 KUHP Jo. Pasal 408 KUHP dan atau Pasal 55 KUHP.

Berdasarkan hasil pemeriksaan PT Dewi Rahmi (Derra Diving) dan didukung informasi dari Pusat Hidrografi dan Oseanografi TNI Angkatan Laut (Pushidrosal), pengrusakan pipa milik Pertamina Refinery Unit V Balikpapa diduga karena MV Ever Judger menjatuhkan jangkar di daerah terlarang yang disertai tarikan, sehingga membuat pipa patah.

Dugaan semakin kuat mengingat jangkar Kapal MV Ever Judger saat ini telah disita oleh pihak kepolisian. Selain itu, berdasarkan laporan media massa, pihak berwajib juga telah mencekal nakhoda dan Anak Buah Kapal (ABK).

Menurut Otto, Pertamina merupakan korban atas kejadian naas ini. Pipa transfer yang patah dalam kondisi laik operasi. Hal itu dibuktikan dengan Sertifikat Kelayakan Penggunaan Peralatan (SKPP) yang diterbitkan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Selain itu, perairan Teluk Balikpapan telah dilengkapi dengan rambu-rambu, dimana di lokasi tersebut merupakan daerah terlarang untuk menjatuhkan jangkar.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here