Foto bersama sebagian murid Sekolah Tapal Batas di Pulau Sebatik, Nunukan, Kalimantan Utara. (Petrominer/Pris)

Sebatik, Petrominer – Beroperasi di utara Indonesia, Pertamina EP Asset 5 Tarakan Field (Tarakan Field) berusaha memberikan yang terbaik bagi negeri. Jauh dari keramaian ibukota tidak lantas membuat para pekerja Tarakan Field enggan untuk terus berkarya.

Berkarya bagi negeri dalam bentuk pemberdayaan masyarakat di wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar) menjadi perhatian perusahaan. Salah satunya di Pulau Sebatik, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara. Sebuah pulau kecil di ujung utara dengan ragam keunikan, dan juga ironi.

“Unik, karena Sebatik adalah pulau dengan dua pemerintahan dari negara berbeda, Indonesia dan Malaysia. Ironi, karena ketimpangan sosial justru terjadi di pulau kecil ini,” papar Tarakan Field Legal & Relation Assistant Manager, Enriko R.E Hutasoit, Jum’at (22/11).

Menurut Enriko, program pendidikan mungkin sudah banyak dilakukan oleh perusahaan-perusahaan lain dalam implementasi program corporate social responsibility (CSR). Namun apa yang dilakukan oleh Tarakan Field di Sekolah Tapal Batas di pulau Sebatik jelas berbeda. Apalagi, Sebatik termasuk sebagai wilayah 3T di Indonesia. Selain itu, isu nasional menjadi perhatian utama dalam pelaksanaan program.

Dia menjelaskan, Sekolah Tapal Batas adalah lembaga pendidikan berbentuk madrasah di bawah Yayasan Ar-Rashid yang mendedikasikan diri untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) warga Sebatik, terutama mereka yang tergolong kelompok marjinal. Sudah menjadi rahasia umum apabila banyak penduduk pulau Sebatik yang berprofesi sebagai TKI di perkebunan sawit milik Malaysia. Entah resmi maupun tidak, profesi TKI menjadi harapan mereka untuk mampu mencukupi kebutuhan hidup.

“Namun harapan tinggal harapan. Nyatanya, mereka bahkan tidak mampu dan kesulitan untuk memberikan pendidikan layak bagi anak-anak mereka,” tegas Enriko.

Beruntung, Sekolah Tapal Batas menyediakan pendidikan gratis bagi mereka yang memiliki kemauan bersekolah di level sekolah dasar. Terlebih lagi Tarakan Field hadir untuk mendukung Sekolah Tapal Batas memberikan layanan pendidikan yang terbaik bagi generasi muda bangsa.

Tarakan Field membina Sekolah Tapal Batas sejak tahun 2015, saat kegiatan belajar mengajar masih dilakukan di kolong rumah warga. Kontribusi perusahaan antara lain bantuan perlengkapan sekolah, buku bacaan, serta fasilitas belajar mengajar. Beruntung, tahun 2017 Sekolah Tapal Batas menempati lokasi yang baru, tidak lagi menggunakan kolong rumah warga sebagai ruang kelas.

Di lokasi yang baru di tengah perkebunan sawit, Sekolah Tapal Batas dilengkapi dengan asrama putra dan putri yang dibangun atas bantuan Tarakan Field. Sebelumnya, banyak dari murid-murid yang harus berjalan kaki hingga 4 km hanya untuk mencapai sekolah. Keberadaan asrama tentu saja meringankan langkah mereka untuk menimba ilmu.

Kompleks sekolah semakin lengkap dengan adanya kawasan pertanian terpadu. Kawasan tersebut memiliki ragam fungsi, antara lain sebagai sarana belajar mengajar kurikulum berbasis lingkungan serta memenuhi kebutuhan sayur-mayur murid-murid.

Hj Suraidah S, SKM, pendiri sekaligus Kepala Sekolah Tapal Batas di Pulau Sebatik, Nunukan, Kalimantan Utara. (Petrominer/Pris)

“Bantuan Pertamina (Tarakan Field) sangat berarti. Kami diberi bantuan asrama, seragam sekolah, hingga air bersih,” ujar Suraidah, sosok yang berjasa menjadi pendiri sekaligus Kepala Sekolah Tapal Batas.

Lihat juga: Membangun optimisme di Sekolah Tapal Batas

Menurut Suraidah, bantuan seragam, alat tulis, dan buku bacaan tersebut semakin mendorong semangat anak-anak untuk bersekolah. Apalagi, anak-anak yang tadinya hanya memiliki mimpi ingin menjadi combat (tentara Malaysia), kini mereka berani bermimpi lebih luas.

“Perjuangan agar anak dapat sekolah di sini sungguh luar biasa. Mereka tidak mengenal lagu Indonesia Raya, tidak mengetahui betapa besar dan luasnya bangsa kita ini, sehingga saya berusaha bagaimana caranya agar mereka mencintai negaranya ini, mengenal Indonesia, dan juga Pancasila,” ujar wanita berusia 65 tahun tersebut.

Pensiunan dosen Universitas Hasanuddin Makassar, Sulawesi Selatan, itu memang memiliki jiwa sosial yang tinggi. Dia rela menanggalkan profesinya sebagai dosen aparatur sipil negara (ASN) di Makassar demi mewujudkan mimpi anak-anak di perbatasan negara, Sebatik.

Menurut Enriko, Sekolah Tapal Batas adalah bentuk kepedulian Pertamina akan masa depan generasi muda di Pulau Sebatik. Apalagi, Sebatik adalah teras Indonesia, yang perbatasan dengan Malaysia.

“Jangan sampai kita kalah dengan negeri tetangga. Kami berusaha berkarya bagi negeri, berkarya bagi mereka di ujung negeri yang sering terlupakan,” tegas Enriko.

Dia bercerita bahwa saat pertama kali hadir, murid-murid bahkan tidak mengerti mengenai sejarah Indonesia. Mereka justru lebih hafal lagu nasional Malaysia. Padahal, mereka berasal dari keluarga yang memegang kewarganegaraan Indonesia.

Membangun optimisme di Sekolah Tapal Batas, Pulau Sebatik, Nunukan, Kalimantan Utara.

“Kami terus menanamkan rasa nasionalisme dan cinta tanah air kepada mereka. Setiap tahunnya, kami juga rutin melaksanakan upacara Kemerdekaan di Sekolah Tapal Batas. Momen yang membanggakan dapat menyaksikan murid-murid Sekolah Tapal Batas bertugas saat upacara dan menyanyikan lagu Indonesia Raya,” ujar Enriko.

Untuk mendukung kemajuan sekolah, Tarakan Field juga membangun rumah burung walet. Walaupun pulau kecil dan sebagian wilayahnya dimanfaatkan sebagai perkebunan sawit, Sebatik menyimpan potensi burung walet. Harga sarangnya yang cukup mahal di pasaran diharapkan dapat memenuhi kebutuhan operasional sekolah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here