
Jakarta, Petrominer – PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) semakin mengukuhkan posisinya sebagai world leading geothermal producer sekaligus geothermal centre of excellence melalui akselerasi transformasi digital. Hal ini ditegaskan dalam ajang “G-Bionic Mid-Year Achievement 2026” yang digelar di Jakarta, Rabu (8/7).
Dalam kesempatan tersebut, PGE memperkenalkan lima produk inovasi G-Bionic yang dirancang untuk mempercepat pencapaian target optimalisasi aset 3 gigawatt (GW). Inovasi ini juga menjadi bagian dari upaya mendorong transisi energi dan memperkuat ketahanan energi nasional.
Kelima produk ekosistem digital G-Bionic tersebut meliputi G-COMPASS (sistem manajemen kontrak dan pengadaan), PEDAS (dasbor eksekusi proyek pemantauan secara real-time), PIMS Historian (sistem monitoring operasional secara real-time), GENIUS (asisten kerja berbasis kecerdasan buatan/AI), dan G-ENERGYZER (platform asesmen kompetensi terpusat).
Direktur Operasi PGE, Andi Joko Nugrohom menyampaikan urgensi G-Bionic sebagai tulang punggung cara kerja baru PGE. Pengenalan kelima produk ini didukung penuh oleh infrastruktur cybersecurity yang kuat.
“Saat ini, kita sedang bergerak dari tahap inisiasi menuju tingkat maturitas digital yang advanced. Ini bukan sekadar proyek sampingan, melainkan cara baru kita bekerja hari ini dan di masa depan untuk terus berinovasi lebih cepat, bekerja lebih efisien, dan mewujudkan visi sebagai world leading geothermal producer,” ujar Andi.
Tantangan Digital
Menjelang peringatan 100 tahun pengembangan panas bumi di Indonesia, menurutnya, sektor ini masih dihadapkan pada tantangan struktural yang kompleks. Mulai dari tingginya risiko eksplorasi, besarnya biaya pengembangan proyek, hingga kebutuhan untuk mengembangkan sumber pendapatan (revenue stream) baru di luar bisnis kelistrikan konvensional. Padahal, peran panas bumi sebagai energi baseload yang andal dan stabil semakin krusial di tengah dinamika energi global.
“Tantangan inilah yang mendasari kelahiran inovasi G-Bionic pada tahun 2023. Instrumen strategis ini mengintegrasikan seluruh rantai bisnis panas bumi PGE secara end-to-end dengan bertumpu pada tiga pilar utama, yakni People, Process, dan Technology,” ungkap Andi.
Sebagai jawaban atas tantangan tersebut, kelima produk G-Bionic dirancang saling terintegrasi di sepanjang rantai operasi PGE. PIMS Historian dan GENIUS hadir memperkuat pengambilan keputusan berbasis data untuk menekan risiko operasional. G-COMPASS menstandarisasi proses pengadaan dan kontrak untuk mengendalikan biaya pengembangan. PEDAS memberikan visibilitas eksekusi proyek secara real-time. Sementara G-ENERGYZER memastikan kesiapan kompetensi sumber daya manusia.
“Dalam implementasinya, ekosistem G-Bionic ini telah memberikan dampak finansial dan operasional yang terukur,” jelasnya.
Melalui kapabilitas analisis data operasional secara real-time, PIMS Historian sukses mengoptimalkan kinerja hot well pump (HWP) di PLTP Ulubelu. Inovasi ini berhasil mengoptimalkan output produksi pembangkit hingga lebih dari 2 megawatt (MW). Tambahan kapasitas ini menghasilkan penciptaan nilai (value creation) aktual mencapai US$ 312.000 atau setara Rp 5,15 miliar.
Selain efisiensi operasional pembangkit, inovasi G-COMPASS turut mendorong transformasi tata kelola perusahaan (Good Corporate Governance) dan efisiensi birokrasi. Dengan sistem yang lebih efektif, G-COMPASS akan mampu memangkas waktu tinjauan kontrak (contract review lead time) lebih dari 60 persen, serta mempercepat persetujuan dokumen hingga lebih dari 70 persen.
Untuk mendukung kebutuhan riset internal secara cepat dan aman, PGE juga mengimplementasikan GENIUS. Berbeda dengan platform AI publik yang rentan terhadap kebocoran data, GENIUS merupakan asisten AI Enterprise mandiri dengan proteksi keamanan siber tingkat tinggi. Platform ini terintegrasi eksklusif dengan Sistem Tata Kerja (STK) serta data produksi perusahaan, sehingga kerahasiaan informasi PGE tetap terjaga.
Direplikasi
Direktur Utama PGE, Ahmad Yani, menyampaikan bahwa integrasi data dan teknologi ini menjadi tulang punggung operasional yang memastikan PGE dapat bergerak lebih lincah dan efisien dalam mengeksekusi target-target pertumbuhan kapasitas produksi ke depan. Hasil nyata ini merupakan buah dari konsistensi transformasi yang telah dirintis selama tiga tahun terakhir.
Melalui integrasi teknologi yang solid di seluruh lini operasi, PGE memastikan posisinya tetap adaptif, efisien, dan kompetitif dalam memimpin transisi energi berkelanjutan di Indonesia. Inisiatif-inisiatif digital PGE bahkan telah menarik perhatian beberapa pihak untuk direplikasi.
“Apa yang kita capai hari ini membuktikan bahwa perjalanan tiga tahun membangun budaya kerja berbasis data benar-benar menciptakan efisiensi yang terukur di lapangan. Ini adalah komitmen nyata kita untuk tidak hanya dikenal sebagai perusahaan energi hijau, tetapi juga sebagai pemimpin inovasi digital yang siap mengawal transisi energi dan mendukung ketahanan energi nasional,” ujar Ahmad Yani.







Tinggalkan Balasan