, ,

Usai Workover dengan Rig PDSI, Produksi Gas Melonjak

Posted by

Jakarta, Petrominer – Rig milik PT Pertamina Drilling Services Indonesia (Pertamina Drilling) kembali mencatatkan keberhasilan. Melalui rig PDSI#34.1 berkapasitas 350 HP, pekerjaan workover sumur L5A-309 di lapangan Limau, Prabumulih, Sumatera Selatan, berhasil diselesaikan lebih cepat dari rencana. Bahkan, sumur yang dikelola PT Pertamina EP (PEP) Zona 4 ini menghasilkan produksi gas enam kali lipat di atas target. 

Direktur Utama Pertamina Drilling, Avep Disasmita, mengatakan penyelesaian pekerjaan workover sumur L5A-309 yang lebih cepat ini menunjukkan komitmen perusahaan dalam menghadirkan layanan pengeboran dan well services yang unggul untuk mendukung target produksi minyak dan gas bumi (migas) nasional.

“Penyelesaian pekerjaan yang lebih cepat dari rencana, disertai peningkatan produksi yang melampaui target, merupakan hasil kolaborasi, kompetensi perwira Pertamina Drilling, serta penerapan standar keselamatan dan operasional yang konsisten,” ungkap Avep saat dijumpai di kantornya, Jum’at (10/7).

Dalam pekerjaan tersebut, tim melakukan perpindahan lapisan produksi dengan memasang plug untuk mengisolasi lapisan TAF-W4, kemudian melakukan perforasi pada lapisan TAF-W3 di interval 1.594–1.600,5 meter measured depth (mMD). Strategi ini diterapkan untuk mengoptimalkan potensi reservoir yang belum dimanfaatkan secara maksimal.

Hasilnya, berdasarkan uji produksi pada 6 Juli 2026, sumur L5A-309 mampu menghasilkan gas 4,8 juta kaki kubik standar per hari (MMSCFD), jauh melampaui target awal sebesar 0,8 MMSCFD. Sumur tersebut juga dapat langsung dioperasikan dengan skema Put on Production (PoP) setelah pekerjaan selesai.

Selain mencatat peningkatan produksi yang signifikan, pelaksanaan pekerjaan juga menunjukkan efisiensi biaya. Total biaya workover terealisasi sekitar 67,8 persen dari anggaran yang telah disiapkan.

Sebelum dilakukan workover, sumur L5A-309 memproduksi minyak dari lapisan TAF-W4 pada interval 1.619–1.622 mMD menggunakan Electric Submersible Pump (ESP). Namun produksi minyak hanya mencapai 2,6 barel per hari (BOPD) dengan kandungan air (water cut) mencapai 98 persen. Kondisi tersebut mendorong dilakukannya penutupan lapisan lama dan pengalihan produksi ke lapisan baru yang terbukti memiliki potensi gas lebih besar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *