Jakarta, Petrominer – Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) menyatakan upaya pemerintah dalam memperkuat energi nasional akan terus ditingkatkan. Salah satunya dengan mempercepat pemanfaatan energi baru terbarukan berupa energi nuklir. Pemerintah juga aktif membangun komunikasi dengan negara-negara pengguna pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN), salah satunya Jepang.

Akhir Maret 2019 lalu, Kelompok Kerja Sektor Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) KEIN melakukan kunjungan kerja ke Jepang. Didampingi beberapa perwakilan dari lembaga, antara lain DPD-RI, Dewan Energi Nasional (DEN), Kementerian Ristekdikti, BATAN, PLN, Pemerintahan Provinsi Kalimantan Barat serta kalangan akademisi, KEIN mengunjungi industri-industri yang terkait pengembangan nuklir.

“Dari kunjungan ke Jepang ini, kami melihat bahwa potensi ini lah yang harus dicontoh. Bagaimana keberhasilan Jepang baik dalam mempersiapkan pembangunan sampai melaksanakan pembangunan PLTN. Ada Proses yang mereka tempuh. Ini merupakan sebuah contoh proses memulai hingga keberhasilan dan kesuksesan dari Jepang,” kata Ketua Pokja ESDM KEIN, Zulnahar Usman, Minggu (7/4).

Menurut Zulnahar, teknologi nuklir yang ada sekarang sudah berteknologi dengan generasi teknologi yang sangat aman. Nuclear security factor-nya luar biasa aman, sehingga tidak perlu dipersoalkan mengenai faktor keselamatan. Bahkan, tingkat efisiensi PLTN sudah semakin baik sehingga dapat menghasilkan energi yang murah sekaligus bisa bersaing dengan pembangkit energi lainnya.

Sumber daya manusia (SDM) di Tanah Air pun sudah mumpuni dan layak untuk diberikan kepercayaan untuk mengembangkan energi nuklir. Sikap positif harus diambil sehingga bisa mengambil pelajaran atau semacam ilmu.

“Ahli nuklir kita padahal sudah banyak, bahkan ahli-ahli nuklir kita sudah dipakai oleh mereka (Jepang). Tinggal keputusan politik yang harus segera diambil oleh Indonesia,” tegasnya.

Selain itu, menurut Zulnahar, Indonesia juga harus belajar dengan Jepang bagaimana cara mengkomunikasikan program ini kepada masyarakat. Pihak-pihak terkait harus mampu meyakinkan masyarakat bahwa PLTN telah memiliki keselamatan yang tinggi sehingga tidak perlu menimbulkan kekhawatiran yang berlebihan apalagi ketakukan.

Masyarakat juga harus diberikan pemahaman bahwa energi listrik yang digunakan sekarang justru berbahaya karena bisa mencemarkan lingkungan. Apalagi bahan baku energi fosil ini sudah terancam habis. Dengan begitu, pemanfaatan energi nuklir menjadi solusi yang paling mungkin untuk memperkuat energi nasional.

“Energi yang kita gunakan adalah energi polluted yang mencemarkan. Pada saat yang sama juga terancam habis dalam waktu yang tidak terlalu lama. Sementara, energi alternatif seperti air, angin, dan matahari diperkirakan belum memadai untuk kapasitas industri. Kalau pemerintah berdiam diri, kita terancam short of energy yang bisa berdampak negatif pada kegiatan ekonomi dan kehidupan masyarakat. Untuk itulah kita memerlukan nuklir sebagai teknologi yang paling tepat untuk meningkatkan ekonomi dan industri,” jelasnya.

Terkait dengan hasil kunjungan ke Jepang, sejumlah lokasi yang dikunjungi delegasi Indonesia antara lain yaitu, kantor Hitachi GE (salah satu contoh kerjasama Jepang dan Amerika dibidang transfer teknologi) yang memberikan penjelasan teknologi Advanced Boiling Water Reactor (ABWR), Boiling Water Reactor (BWR) serta strategi lokalisasi untuk pembangunan industri PLTN. Para pejabat di Indonesia juga mendatangi lokasi Nuclear Power Station (NPS) di Shimane, Matsue.

Delegasi juga diajak berkunjung ke Fukui Atomic Information Center At Home, yakni berupa tempat edukasi bagi anak-anak yang didirikan oleh Pemerintah Daerah. Tempat yang berdiri sejak April 1972 berlokasi di Tsuruga City, Provinsi Fukui. Di kota yang sama, rombongan juga menyisihkan waktu untuk melihat Environment Radiation Research and Monitoring.

Selain Jepang, pemerintah dalam hal ini Pokja ESDM KEIN juga telah menjajaki serta membangun komunikasi dengan beberapa negara lain pengguna energi nuklir. Misalnya, kunjungan ke Amerika Serikat pada November 2017, Rusia pada Mei 2018, dan Perancis pada Oktober 2018 silam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here