Jakarta, Petrominer – PT Tectona Mitra Utama (TMU) dipercaya sebagai konsultan dalam pengembangan eksplorasi pertambangan di Kalimantan Selatan. TMU akan melakukan survei geolistrik dan memberikan rekomendasi atas desain tata ruang area pembuangan limbah tambang yang memenuhi standar Good Mining Practice.
Chief Operating Officer TMU, Sanjeev Ratan, mengatakan TMU berkomitmen untuk memanfaatkan teknologi geoteknik canggih dalam mendukung industri pertambangan yang berkelanjutan. Proyek ini semakin mengukuhkan posisi TMU dalam mendukung industri pertambangan dalam menerapkan praktik berkelanjutan melalui mitigasi risiko dan pengelolaan lingkungan yang lebih terencana.
“Proyek ini semakin memperkuat rekam jejak kami dalam mendukung pelaku industri pertambangan dalam menerapkan praktik keberlanjutan melalui mitigasi risiko dan pengelolaan lingkungan yang lebih terencana, memastikan keberlanjutan ekonomi, selaras dengan keberlanjutan lingkungan,” ujar Sanjeev, Senin (24/3).
Lebih lanjut, dia menyebutkan bahwa proyek ini juga menegaskan posisi TMU sebagai penyedia solusi EPC lokal yang terintegrasi (one-stop solution), inovatif dan berstandar internasional untuk mendukung pengembangan sektor industri yang berkelanjutan. Ini sekaligus membuktikan daya saing engineer Indonesia di kancah global.

Dalam perannya ini, menurut Sanjeev, TMU akan melaksanakan survei geolistrik guna menganalisis kondisi hidrogeologi dan geoteknik di area pembuangan limbah tambang (waste dump disposal), dan memberikan rekomendasi atas desain tata ruang area pembuangan limbah tambang yang memenuhi standar Good Mining Practice. Survei ini mencakup 49 jalur dengan total panjang lebih dari 65.000 meter, yang menjadikannya salah satu proyek survei geoteknik berskala besar yang ditangani TMU.
“Tidak hanya itu TMU juga dipercaya untuk melakukan pemetaan hidrologi dan hidrogeologi untuk mendukung mitigasi risiko serta memastikan kondisi geoteknik sebelum proses penambangan dimulai,” ungkapnya.
Survei geolistrik, hidrologi, dan hidrogeologi berperan penting dalam industri pertambangan, khususnya di area pembuangan limbah tambang, untuk memastikan stabilitas tanah, pengelolaan aliran air, dan pencegahan pencemaran lingkungan. Geolistrik digunakan untuk memetakan struktur bawah permukaan guna mengurangi risiko longsor, sementara hidrologi dan hidrogeologi membantu merancang sistem drainase serta mencegah perembesan zat berbahaya ke sumber air.
Hasil survei ini juga mendukung reklamasi pasca-tambang dengan memastikan kondisi tanah tetap aman untuk pemulihan, sehingga area tersebut dapat direhabilitasi secara optimal. Dengan pemetaan yang akurat, dampak lingkungan dapat diminimalkan, mendukung operasional tambang yang lebih bertanggung jawab dan berkelanjutan.
“Dengan alat Geomative GD-20 Multichannel Resistivity, kami dapat mendeteksi kondisi bawah permukaan hingga kedalaman 120 meter dan mengakuisisi data lebih cepat dibandingkan metode konvensional. Kemampuan ini memungkinkan kami menganalisis distribusi resistivitas tanah secara lebih akurat, yang sangat penting dalam pemetaan hidrogeologi dan geoteknik guna meningkatkan efisiensi dan keamanan operasional,” jelas Sanjeev.








Tinggalkan Balasan