Kegiatan well test di Wilayah Kerja Panasbumi Liki Pinangawan Muaralaboh, Solok Selatan, Sumatera Barat. (Supreme Energy)

Jakarta, Petrominer – Indonesia belum berhasil mencapai target kapasitas terpasang Pembangkit Listrik Panasbumi (PLTP) 2.000 megawatt (MW) pada akhir tahun 2018. Pasalnya, ada tiga PLTP yang molor operasionalnya.

Sebelumnya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mematok target kapasitas terpasang PLTP bisa mencapai 2.058,5 MW hingga akhir tahun 2018. Tambahan kapasitas sebesar 100 MW diharapkan bisa didapat menyusul beroperasinya secara komersial (Commercial Operation Date/COD) tiga unit PLTP pada kuartal IV 2018.

Menurut Direktur Panasbumi Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE), Ida Nuryatin Finahari, tiga PLTP tidak jadi melakukan COD pada akhir tahun 2018 karena belum tersedianya jaringan transmisi dari PT PLN (Persero). Ketiga pembangkit listrik tersebut adalah PLTP Lumut Balai Unit I (55 MW) di Sumatera Selatan, PLTP Sorik Merapi unit I (40 MW) di Sumatera Utara, dan PLTP Sokoria Unit I (5 MW) di Nusa Tenggara Timur.

“Target COD ketiga PLTP mundur dari jadwal semua COD pada kuartal IV 2018,” kata Ida, Selasa (8/1).

Untuk tahun 2019, Kementerian ESDM memasang target kapasitas terpasang PLTP sebesar 2.128,5 MW. Ini artinya ada tambahan 180 MW dari kapasitas terpasang tahun 2018 yang sebesar 1.948,5 MW.

“Tambahan tersebut berasal dari tiga PLTP yang COD-nya tidak jadi tahun 2018, ditambah PLTP Muaralaboh Unit I di Sumatera Barat yang akan beroperasi dengan kapasitas 80 MW,” paparnya.

Direktur Panasbumi, Ditjen EBTKE, Ida Nuryatin Finahari. (Petrominer/Fachry Latief)

Selain tambahan kapasitas 180 MW, Kementerian ESDM juga akan melelang 5 Wilayah Kerja Panasbumi (WKP) pada tahun 2019 ini. Kelima Izin Panas Bumi (IPB) tersebut sudah diterbitkan.

Lima WKP baru tersebut adalah WKP Telaga Rabu (10 MW) di Maluku Utara, WKP Lainea (20 MW) di Sulawesi Tenggara, WKP Sembalun (20 MW) di Nusa Tenggara Barat, WKP Kotamobagu (80 MW) di Sulawesi Utara, dan WKP Gunung Wilis (20 MW) di Jawa Timur.

Selain itu, ujar Ida, Kementerian ESDM juga telah menerbitkan Government Drilling untuk WK Waesano (20 MW) di NTT dan WKP Jailolo ((30 MW) di Maluku Utara.

Sementara untuk mencari sumber daya baru, Pemerintah telah menerbitkan empat pelaksana Penugasan Survei Pendahuluan dan Eksplorasi (PSPE) panasbumi. Wilayah penugasan tersebut adalah Bonjol di Sumatera Barat diberikan kepada PT Medco Power Indonesia, Sipaholon Ria-Ria di Sumatera Utara, Pentadio di Gorontalo kepada Star Energy, dan Lokop di Aceh.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here