PLTB Sidrap I dengan kapasitas 75 MW.

Jakarta, Petrominer – Pemerintah diminta mengkaji ulang target pencapaian energi baru terbarukan (EBT) dalam bauran energi (energy mix). Lambatnya pertumbuhan EBT diyakini bakal ikut mempersulit pencapaian target tersebut yang telah ditetapkan dalam Rencana Umum Energi Nasional (RUEN).

Menurut Bimasena Energy Executive Team, Ari Soemarno, target bauran EBT dalam RUEN sebesar 23 persen pada 2025 tidak realistis. Apalagi, jelasnya, sejauh ini tidak ada penjelasan dari Pemerintah tentang bagaimana kebijakan dan strategi untuk mencapai target tersebut.

“Tidak bisa dipaksakan. Sementara tidak ada kebijakan, bagaimana langkah, serta strategi capai target bauran EBT,” ungkap Ari usai tampil dalam acara BP Energy Outlook 2019, Rabu (16/10).

Lebih lanjut, dia menegaskan bahwa dalam RUEN juga tidak dijelaskan skema pembiayaan untuk mencapai bauran EBT sebesar 23 persen pada tahun 2025. Hal itu membuatnya pesimistis target akan tercapai.

“Perlu dilihat kembali dan saya rasa kita enggak akan mencapai. Buat kebijakan energi yang komprehensif konsepnya, dasarnya, kebijakan, rencana pencapaian, strategi pencapaian, dan pembiayaannya,” tegas Ari.

Mengutip data BP statistical review 2019, dia menyebutkan bahwa kontribusi EBT hanya 5,5 persen dari total pembangkit listrik yang ada di Indonesia pada tahun 2018. Angka tersebut naik tipis dibandingkan tahun 2017 yang sebesar 5,3 persen.

“Review target tersebut. Buat kajian yang lebih komprehensif, mulai dari tujuan, cara, strategi, pembiayaan, dan lainnya. Jangan cuma keinginan saja,” ujarnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here