
Batangtoru, Petrominer — PT Agincourt Resources sebagai pengelola Tambang Emas Martabe baru saja menerbitkan Laporan Keberlanjutan 2016. Ini merupakan tahun ketiga penerbitan laporan tersebut, yang merupakan refleksi langsung dari nilai-nilai perusahaan GREAT yakni Growth, Respect, Excellence, Action dan Transparency.
Menurut Presiden Direktur Agincourt Resources, Tim Duffy, kesuksesan jangka panjang Tambang Emas Martabe sangat bergantung pada dukungan dan kepercayaan dari komunitas, baik masyarakat maupun pemangku kepentingan lainnya, di sekitar wilayah operasional tambang.
“Kehadiran kami harus mampu memberikan dampak positif jangka panjang kepada para pemangku kepentingan. Dengan kata lain, semua sangat bergantung pada seberapa baik dan efektif kami mengimplementasikan prinsip-prinsip keberlanjutan,” ujar Tim Duffy, Kamis (13/7).
Sepanjang tahun lalu, Tambang Emas Martabe terus membuat progres signifikan untuk pembangunan dan pengembangan berkelanjutan. Pencapaian di beberapa sektor pun diperoleh seperti untuk keselamatan, proteksi lingkungan, pengembangan masyarakat dan dampak ekonomi.
Dari sisi performa keselamatan, selama 2016, Tambang Emas Martabe berhasil mencatatkan tidak ada kecelakaan kerja. Pengembangan sistem manajemen keselamatan Tambang Emas Martabe terus dilakukan, bahkan telah mendapatkan skor 91% SMKP Minerba atau setara dengan peringkat Emas. Kendati demikian, Tambang Emas Martabe menyadari sepenuhnya bahwa risiko terjadinya kecelakaan tidak pernah dapat dieliminasi. Oleh karena itu, pengelolaan sistem manajemen keselamatan harus terus ditingkatkan.
Untuk performa pengelolaan lingkungan, Tambang Emas Martabe membukukan penguatan kinerja pada tahun lalu. Untuk kedua kalinya berturut-turut, perusahaan diganjar peringkat Biru PROPER dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.
Untuk rehabilitasi lahan operasional, Tambang Emas Martabe telah melakukannya terhadap total 12,1 hektare lahan. Total bibit pohon yang telah ditanam yakni 4.653 dan terdapat sisa 2.696 bibit pohon.

Tidak hanya itu, perusahaan tambang itu juga terus meningkatkan dukungan pengembangan masyarakat. Salah satunya dengan memberikan kesempatan kepada masyarakat setempat untuk bekerja di Tambang Emas Martabe.
“Sejak awal proyek, perusahaan menargetkan mempekerjakan 70% tenaga kerja lokal untuk penempatan site. Pada akhir tahun lalu, terdapat total 1.672 pekerja lokal atau sudah mencapai 70,4%,” jelas Tim Duffy.
Hingga akhir tahun lalu, Agincourt Resources mempekerjakan 730 orang di Tambang Emas Martabe dan 29 orang di kantor pusat, di Jakarta. Sebagai tambahan, 1.615 karyawan kontraktor dipekerjakan di Tambang Emas Martabe sehingga total terdapat 2.374 orang yang bekerja di site. Perusahaan juga memiliki komitmen untuk keberagaman gender dengan target 25% perempuan pada akhir 2019. Adapun, pada akhir 2016, total tenaga kerja perempuan mencapai 16%, atau naik 3% dari 2015.
Dalam bidang pengembangan masyarakat, Tambang Emas Martabe telah mengalokasikan US$1,16 juta atau naik dari 2015 US$1,27 juta. Alokasi terbesar yakni untuk membangun infrastruktur publik seperti penyelesaian dan menyerahterimakan Mesjid Raya Al-Jihad di Kecamatan Muara Batangtoru, pembangunan sistem air bersih dengan panjang pipa 16 km untuk 24 lokasi, serta Rambin Pulogodang sepanjang 174 meter.
Tidak hanya itu, All In Sustaining Cost (AISC) mencapai US$ 429 per ounce, sebuah pencapaian dari Martabe Improvement Program (MIP). Program eksplorasi sepanjang 2016, juga menambah cadangan ore dari 2,8 juta ounce menjadi 3,2 juta ounce emas atau menambah 2 tahun umur operasional tambang. Umur tambang saat ini adalah 10 tahun.
Hingga akhir tahun lalu, sumber daya Tambang Emas Martabe mencapai 7,5 juta ounce emas dan 67 juta ounces perak. Pencapaian ini semakin menegaskan Tambang Emas Martabe sebagai tambang dengan deposit mineral kelas dunia dan dikelola oleh tim eksplorasi terampil dan berpengalaman.
























