, ,

Tahun Depan, ICP Dipatok US$ 90 per Barel

Posted by

Jakarta, Petrominer – Dalam Rapat Paripurna DPR RI, Selasa (16/8), Presiden Joko Widodo menyampaikan dua pidato. Pertama dalam rangka Hari Ulang Tahun Ke-77 Republik Indonesia. Kedua, pengantar Rancangan APBN (RAPBN) 2023 dan Nota Keuangannya.

Dalam RAPBN 2023, Pemerintah mematok Indonesian Crude Price (ICP) sebesar US$ 90 per barel. Angka itu naik dibandingkan APBN 2022 yang sebesar US$ 63 per barel. Patokan angka ICP tersebut diharapkan membawa optimisme baru dalam pengelolaan energi ke depan.

“Harga minyak mentah Indonesia ICP diperkirakan akan berkisar pada US$ 90 per barel,” ucap Presiden Joko Widodo

Pada bagian lain, Presiden menargetkan lifting minyak dan gas bumi berada di kisaran masing-masing 660.000 barel per hari dan 1,05 juta barel setara minyak per hari. Sementara asumsi hulu migas tersebut harus diimbangi dengan proyeksi nilai tukar rupiah yang diperkirakan bergerak pada kisaran Rp 14.750 per dolar AS.

Sebelumnya, Presiden menguraikan bahwa belanja negara dipatok sebesar Rp 3.041,7 triliun, yang meliputi belanja pemerintah pusat Rp 2.230 triliun dan transfer ke daerah dan dana desa Rp 811,7 triliun. Sementara belanja subsidi direncanakan Rp 297,1 triliun. Subsdi energi akan mendapat alokasi mayoritas dalam belanja subsidi tersebut.

Pendapatan negara diperkirakan Rp 2.443,5 triliun, didominasi penerimaan perpajakan sebesar Rp 2.016,9 triliun.

Presiden menyampaikan, asumsi dasar ekonomi sebagai landasan penyusunan RAPBN Tahun 2023 dengan mempertimbangkan dinamika perekonomian nasional terkini, agenda pembangunan yang akan dicapai, potensi risiko dan tantangan yang dihadapi. Terkait pertumbuhan ekonomi tahun 2023 yang diperkirakan sebesar 5,3 persen, Pemerintah akan berupaya maksimal dalam menjaga keberlanjutan penguatan ekonomi nasional.

Hilirisasi Mineral

Dalam kesempatan itu, Presiden menyampaikan lima agenda besar nasional. Salah satunya adalah hilirisasi dan industrialisasi sumber daya alam yang harus terus dilakukan. Presiden mencontohkan hilirisasi nikel yang telah meningkatkan ekspor besi baja 18 kali lipat dan menjadikan Indonesia sebagai produsen kunci dalam rantai pasok baterai litium global.

“Setelah nikel, pemerintah juga akan terus mendorong hilirisasi bauksit, hilirisasi tembaga, dan hilirisasi timah. Kita harus berani, kita harus membangun ekosistem industri di dalam negeri yang terintegrasi, yang akan mendukung pengembangan ekosistem ekonomi hijau dunia,” ungkapnya.

Selain itu, Presiden menegaskan bahwa pemerintah akan terus meningkatkan optimalisasi sumber energi bersih dan ekonomi hijau. Salah satunya melalui pembangunan kawasan industri hijau di Kalimantan Utara yang diyakini akan menjadi Green Industrial Park terbesar di dunia.

“Saya optimis, kita akan menjadi penghasil produk-produk hijau yang kompetitif di perdagangan internasional,” ucap Presiden.

Menurutnya, upaya tersebut dapat langsung disinergikan dengan program peningkatan produksi pangan dan energi bio. Saat ini, Indonesia bahkan telah menjadi pemasok terbesar CPO dunia dan mencapai swasembada beras sejak tahun 2019.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *