PLTU Cirebon

Jakarta, Petrominer – Konsorsium pembangkit listrik Cirebon Power meraih predikat Proper Hijau dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Penghargaan ini diberikan untuk pembangkit unit pertama Cirebon Power berkapasitas 660 megawatt (MW).

Pembangkit yang beroperasi sejak 27 Juli 2012 ini merupakan salah satu dari dua pembangkit pertama menerapkan teknologi ramah lingkungan super critical (SC) boiler di Indonesia. Proper Hijau menjadi penghargaan di bidang lingkungan yang pertama tahun ini, setelah memperoleh dua penghargaan lingkungan pada tahun lalu.

Penghargaan Proper Hijau diserahkan oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya Bakar, kepada President Director Cirebon Power Hisahiro Takeuchi di Istana Wakil Presiden, Rabu (8/1).

President Director Cirebon Power, Hisahiro Takeuchi, menjelaskan bahwa penghargaan itu diraih berkat kesuksesan PT Cirebon Electric Power melakukan penurunan beban pencemar air (Total Suspended Solid/TSS) secara signifikan dengan mengkonversi rezim All Volatile Treatment (AVT) menjadi Oxigen Treatment (OT) pada fasilitas pengolahan limbahnya (Waste Treatment Processing/WTP).

“Hal ini secara linear menurunkan jumlah limbah B3 yang dihasilkan dan meningkatkan konservasi air. Modifikasi ukuran filter pada vibrating screen cukup efektif dalam menyeleksi ukuran batu bara sesuai spesifikasi boiler sehingga menggantikan penggunaan crusher yang kebutuhan energinya cukup besar,” kata Takeuchi, Kamis (9/1).

Selain itu, jelasnya, Cirebon Power secara rutin menjalankan program lingkungan yang dampaknya dapat langsung dirasakan masyarakat sekitar pembangkit. Salah satunya adalh bank bibit dan penanaman mangrove. Penanaman dan pemeliharaan mangrove secara berkala memberikan dampak lingkungan cukup baik yang dilihat dari kenaikan indeks diversitas setiap tahunnya. Hingga tahun 2019, penanaman mangrove setidaknya dilakukan di areal seluas 13,5 hektar.

“Kegiatan ini selain berhasil mengkonservasi energi juga menurunkan emisi Gas Rumah Kaca dalam rangka menangkis dampak perubahan iklim,” tegas Takeuchi.

Cirebon Power juga menjadi pelopor energi batubara bersih di Indonesia. Perusahaan patungan tiga negara Indonesia, Jepang dan Korea Selatan tersebut berkomitmen terhadap green sustainability. Emisi pembangkit Cirebon Power jauh di bawah ambang batas pemerintah.

“Kami berhasil menekan gas rumah kaca selalu di bawah 1.00 kg CO2 eq/KWh yang ditentukan sebagai nilai optimal dalam industri pembangkitan listrik,” jelas Takeuchi.

Dalam menjalankan green sustainability, Cirebon Power melibatkan masyarakat sekitar pembangkit. Pemberdayaan masyarakat tak hanya tanggung jawab sosial, namun upaya untuk tumbuh dan berkembang bersama masyarakat sekitar.

Cirebon Power merupakan perusahaan konsorsium pembangkit listrik yang mengperasikan PLTU Cirebon 660 MW. Saat ini, perusahaan tersebut sedang membangun PLTU 2 Cirebon dengan kapasitas 1.000 MW yang ditargetkan selesai tahun 2022.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here