(Kiri ke kanan) Direktur Komersil Leni Roselini, Presiden Direktur Bayu Adiwijaya Soepomo, Direktur Komersil Sani Iskandar, dan Direktur Keuangan Nicodemus.

Jakarta, Petrominer – PT Sucaco Tbk. menyatakan akan membagikan dividen sebesar Rp 350 per lembar saham. Pembagian dividen itu akan dimulai atau cair pada bulan Juni 2019 mendatang.

Demikian disampaikan oleh Presiden Direktur Sucaco, Bayu Adiwijaya Soepono, usai mengikuti Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan Sucaco di Jakarta, Kamis (2/5).

Dalam laporan keuangan tahun 2018 yang disetujui RUPST, jelas Bayu, Sucaco mencatat hasil penjualan tahun 2018 sebesar Rp 5,2 triliun. Jumlah ini naik 16,21 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya Rp 4,4 triliun.

Kenaikan penjualan tersebut tercermin dari tren naik penggunaan tembaga yang mencapai 22.242 metrik ton tahun 2018 lalu. Kinerja tersebut naik 7,33 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 20.242 metrik ton. Sementara pemakaian aluminium juga mengalami peningkatan dari 6.257 metrik ton di tahun 2017 menjadi 6.709 metrik ton tahun 2018, atau naik 7,22 persen.

Dari penjualan tersebut, Sucaco memperoleh laba kotor Rp 610,1 miliar naik 14,80 dari laba kotor tahun sebelumnya yang mencapai Rp 531,5 miliar. Sedangkan laba bersih sebesar Rp 263,2 miliar, turun 2,26 persen dibandingkan laba bersih tahun sebelumnya yang mencapai Rp 269,3 miliar.

“Dengan perolehan laba bersih sebesar itu, Sucaco tahun ini akan membagikan dividen Rp350 per saham. Rencananya, dividen tersebut akan cair pada bulan Juni 2019 mendatang,” papar Bayu.

Untuk tahun 2019 ini, jelasnya, Sucaco mentargetkan menjualan mencapai Rp 5,2 triliun. Sementara laba bersih diperkirakan bisa diraih sebesar Rp 317,6 miliar.

“Seiring peningkatan konsumsi kabel yang terus meningkat, perseroan kini tengah mempersiapkan peningkatkan kapasitas produksi. Namun pelaksanaan dan besarnya modal yang akan diinvestasikan belum bisa dipublikasikan,” tegas Bayu.

Pada tahun 2018 , penjualan terbesar terbesar berasal dari sektor swasta atau hampir mencapai 70 persen. Sedangkan 30 persen sisanya adalah untuk pengerjaan proyek pemerintah. Karena itu Sucaco mengharapkan tahun ini pengadaan proyek pemerintah akan semakin besar, mengingat pemilu telah berlangsung dengan lancar, sehingga pengerjaan proyek infrastruktur akan dapat terus dilaksanakan.

Apalagi, potensi pembangunan sektor kelistrikan Indonesia tahun 2019 masih sangat besar. Sampai akhir tahun 2018 progres dari pembangunan pembangkit listrik 35. 000 MW yang dalam tahap operasi adalah 2.899 MW, tahap konstruksi 18.207 MW, tahap Power Purchase Agreement 11.467 MW, tahap pengadaaan 1.683 MW, dan tahap perencanaan 954 MW.

“Program pembangunan kelistrikan ini merupakan program prioritas pemerintah yang sangat terkait dengan bisnis perseroan,” ujarnya.

Pembangunan infrastruktur yang merupakan pendorong pertumbuhan ekonomi, juga menjadi perhatian penting pemerintah seperti terlihat dalam Anggaran Belanja Pemerintah Pusat tahun 2019. Dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2019, pemerintah mengalokasikan Rp 415 triliun untuk anggaran infrastrktur atau 16,9 persen dari total belanja negara.

Pada APBN 2019, fokus infrastruktur antara lain ditujukan pada sejumlah sektor seperti pembangunan jalan, bandara, pelabuhan, energi dan ketenaga-listrikan, irigasi bendungan, serta embung.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here