Jakarta, Petrominer – Sejumlah negara dalam Conference of the Parties (COP) 26 di Glasgow, Skotlandia, sepakat untuk mencapai net zero emissions selambat-lambatnya tahun 2050. Hal itu penting dilakukan untuk menurunkan suhu bumi guna menghindari pemanasan global. Mereka juga komitmen untuk memangkas penggunaan energi fosil, terutama batubara dan minyak bumi, yang kerap dituduh sebagai penyumbang emisi karbon terbesar.
Pencapaian net zero emissions bagi Indonesia menjadi masalah sendiri, mengingat dalam bauran energi nasional persentasenya masih didominasi oleh batubara dan minyak. Bahkan hingga tahun 2025 nanti, di mana EBT ditargetkan bisa mencapai 23 persen, kebutuhan energi fosil juga bakal meningkat meskipun secara persentase berkurang.
Padahal, tak dapat dipungkiri sektor hulu migas masih merupakan sektor vital yang membantu perputaran roda perekonomian nasional maupun daerah, bahkan di tengah hantaman pandemi Covid-19. Ini bisa dilihat dari kinerja tahun 2020, di mana kontribusi hulu migas ke penerimaan negara mencapai Rp 122 triliun atau 144 persen dari target APBNP 2020. Sementara hingga Agustus 2021, penerimaan negara dari sektor hulu migas sudah mencapai Rp 125 triliun atau 125 persen dari target APBN 2021.
Kepala SKK Migas, Dwi Soetjipto, menyebutkan bahwa upaya pengurangan emisi tidak mengurangi semangat para pelaku industri hulu migas untuk mencapai target produksi. Malahan, pengurangan emisi telah dijadikan salah satu pilar utama pada usaha peningkatan produksi sebesar 1 juta bopd dan 12 BSCFD gas pada tahun 2030.
“SKK Migas sebagai lembaga negara yang mengawasi dan mengendalikan kegiatan usaha hulu migas memastikan terlindunginya lingkungan dalam operasi hulu migas sejak tahap eksplorasi hingga produksi. Langkah ini telah ditetapkan dalam rencana strategis Indonesia Oil and Gas 4.0 tahun 2020–2030. Salah satu target yang hendak dicapai adalah memastikan keberlanjutan lingkungan,” ujar Dwi dalam acara Temu Media Nasional 2021 dengan tema “Masa Depan Industri Hulu Migas” yang dilakukan secara daring, Rabu (10/11).
Untuk mendukung pencapaian tersebut, SKK Migas meluncurkan dua program utama, yaitu Decommisioning dan Low Carbon Initiative.
Menurutnya, upaya mewujudkan keberlanjutan lingkungan ini justru telah memberikan dampak positif dalam penghematan biaya operasional hulu migas. Contohnya pemanfaatan flare gas yang tercatat dapat menghemat biaya bahan bakar sebesar 66,8 persen dan juga menambah penjualan gas.
Langkah terkini yang dilakukan oleh SKK Migas dan KKKS adalah menerapkan carbon capture utilisation and storeage (CCUS). Melalui penerapan teknologi ini, maka dapat memperpanjang rantai penggunaan limbah dari sektor perekonomian dengan tetap mengendalikan neraca emisi CO2 secara global, serta meningkatkan kesejahteraan sosial masyarakat.
“Rencana CCUS di sektor hulu migas diterapkan pada CO2-Enhanced Oil Recovery yang saat ini masih dalam bentuk kajian dan persiapan pilot project di Lapangan Gundih, Sukowati, Limau-Niru, dan Tangguh. CCUS EOR Lapangan Sukowati berpotensi menyimpan 15 juta tCO2. CCUS EOR Lapangan Tangguh berpotensi menyimpan 30 juta ton CO2,” ungkap Dwi.
Langkah lain yang dilakukan oleh industri hulu migas dalam mewujudkan program lingkungan berkelanjutan adalah berkontribusi dalam upaya menjaga Indonesia agar tetap menjadi salah satu paru-paru dunia dengan melakukan penanaman pohon. Selain itu, juga dilakukan rehabilitasi daerah aliran sungai (DAS), berkoordinasi dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.
“SKK Migas meminta setiap KKKS melakukan penanaman pohon di wilayah kerjanya secara masif, yang antara lain dilakukan melalui program pengembangan masyarakat,” tegasnya.
Strategi MedcoEnergi
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Utama PT Medco Energi Internasional Tbk (MedcoEnergi), Hilmi Panigoro, menyampaikan bahwa MedcoEnergi selalu memerhatikan aspek keberlanjutan usaha yang selaras dengan kelestarian lingkungan dalam segenap kegiatan operasionalnya. Termasuk dengan melakukan berbagai upaya dalam proses transisi menuju energi bersih yang sejalan dengan antisipasi perubahan iklim.
“Dengan atau tidak adanya COP 26, kita sudah melakukan ini,” tegas Hilmi.
Menurutnya, langkah-langkah untuk mengantisipasi perubahan iklim sejatinya sudah dilakukan MedcoEnergi sejak tahun 2016 lalu. Terkini, MedcoEnergi telah menetapkan target Emisi Net Zero untuk Scope 1 dan Scope 2 pada tahun 2050 serta Emisi Net Zero untuk Scope 3 tahun 2060.
Scope 1 adalah emisi Gas Rumah Kaca (GRK) yang langsung. Scope 2 merupakan emisi GRK dari konsumsi energi tidak langsung. Sementara Scope 3 adalah emisi GRK tidak langsung lainnya dari value chain dalam proses produksi yang dilakukan.
Hilmi menjelaskan bahwa pada tahun 2020, MedcoEnergi telah memutakhirkan metodologi perhitungan dan pengumpulan data emisi dengan menggunakan Perangkat Perhitungan Emisi Udara & GRK. Sementara di tahun 2021, perusahaan melaporkan data 2018-2020 dalam pengungkapan pertama melalui platform CDP (Carbon Disclosure Project) yang sesuai dengan rekomendasi TCFD (Task Force for Climate-related Disclosures).
“Selain melaporkan emisi Scope 1, kami mulai melaporkan emisi Scope 2 untuk migas dan ketenagalistrikan sejumlah 11.329 ton CO2e. Sebagai upaya perbaikan berkesinambungan, kami juga telah memasukkan data sumber emisi bergerak di dalam laporan emisi GRK Scope 1 periode 2018–2020 dan data-data emisi Scope 1 dan 2 telah dijamin oleh pihak ketiga (third party limited assurance),” paparnya.
Terkait strategi dalam proses transisi menuju energi yang lebih bersih, MedcoEnergi melakukannya dengan pengoptimalan sektor ketenagalistrikan berbasis energi terbarukan.
Saat ini, perusahaan ini telah memiliki kapasitas terpasang IPP (Independent Power Producer) sebesar 939 Megawatt (MW) serta O&M (Operation & Maintenance) sekitar 1.965 MW. Selain itu, pembangkit listrik berbasis gas sebagai energi fosil paling bersih juga tetap menjadi andalan mengingat sekitar 84 persen sumber daya migas MedcoEnergi adalah gas bumi.
“Fokus kita adalah membangun tenaga listrik yang bersih dan renewable,” tegas Hilmi.
Beberapa portofolio energi bersih lainnya yang tengah dikerjakan MedcoEnergi lewat anak usahanya, Medco Power Indonesia, antara lain proyek pembangkit listrik tenaga gas uap (PLTGU) Riau dengan kapasitas 275 MW. Lalu bersama Kansai Electric dari Jepang, MedcoEnergi membangun aliansi untuk mengembangkan pembangkit listrik berbahan bakar gas serta memperluas bisnis O&M di Indonesia.
Dari proyek panasbumi, MedcoEnergi sedang mengebor sumur keenam untuk pengembangan pembangkit listrik tenaga panasbumi (PLTP) dengan kapasitas 100 MW di Blawan Ijen, Jawa Timur. Sementara untuk energi dari sinar matahari, sedang dibangun pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di Sumbawa dengan kapasitas 26 Megawatt peak (MWp) dan PLTS di Bali dengan kapasitas 50 MW.
“Kemudian yang baru saja kita tandatangani di bulan yang lalu adalah pembangkit listrik tenaga surya yang mungkin terbesar di Indonesia yaitu 670 Megawatt peak di Pulau Bulan (Kepulauan Riau) untuk diekspor ke Singapura,” ujar Hilmi.
Tiga Pilar ESG
Dalam kesempatan itu, Hilmi juga memaparkan tiga pilar Environmental, Social and Governance (ESG) yang mendukung fokus keberlanjutan, yakni kepemimpinan dari dan oleh pekerja, pengembangan sosial dan lingkungan hidup, serta pemberdayaan masyarakat lokal.
Di tahun 2020, MedcoEnergi melakukan investasi US$ 2,4 juta untuk pengembangan pekerja dan 21 persen peran tata kelola dipimpin wanita. Tidak hanya itu, MedcoEnergi juga komitmen terhadap Anti Korupsi dengan sertifikasi ISO 37001 untuk Anti-Bribery Management System di aset migas maupun ketenagalistrikan
Dalam pengembangan sosial dan lingkungan hidup, MedcoEnergi berhasil menurunkan konsumsi energi sebesar 11 persen dari tahun 2019-2020 dan intensitas emisi Scope 1 sebesar 15 persen dari tahun 2018 hingga Semester I-2021 di operasi migas. Perusahaan juga telah melakukan investasi beragam untuk program keanekaragaman hayati, dan lebih dari 172 ha hutan telah ditanami di sekitar wilayah operasi selama periode 2018-2020.
Dalam pemberdayaan masyarakat lokal, MedcoEnergi telah menginvestasikan US$ 1,8 juta dalam program pemberdayaan masyarakat. Realisasinya di antaranya berupa penyediaan akses sanitasi, air bersih dan listrik kepada masyarakat di area operasi, serta program budidaya lebah madu dan pembinaan koperasi penjahit perempuan yang terukur menggunakan Social Return on Investment (SROI).










Tinggalkan Balasan