Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto (paling kanan) saat melakukan kunjungan kerja ke proyek Jimbaran Tiung Biru (JTB) di Bojonegoro, Sabtu (7/3).

Bojonegoro, Petrominer – Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) terus meningkatkan pengawasan terhadap proyek-proyek strategis nasional di sektor migas. Hal ini dilakukan agar proyek migas tersebut dapat selesai pada waktu yang telah ditetapkan, dan bahkan bisa dipercepat.

Salah satu protek strategis nasional di sektor migas adalah proyek Jimbaran Tiung Biru (JTB) di Bojonegero, Jawa Timur. Proyek ini secara keseluruhan bernilai US$ 1,53 miliar dan diperkirakan akan onstream bulan Agustus 2021 mendatang.

Untuk mengawal agar proyek Jimbaran Tiung Biru (JTB) dapat direalisasi sesuai target, Kepala SKK Migas, Dwi Soetjipto, melakukan kegiatan Management Work Through (MWT) di proyek strategis nasional tersebut, Sabtu (7/3). Penyelesaian proyek ini akan memberi kontribusi yang signifikan bagi penambahan produksi migas nasional.

Menurut Dwi, realisasi proyek-proyek hulu migas yang akan mendukung peningkatan produksi mendapat perhatian khusus dari Presiden Joko Widodo.

“Pada Rapat Terbatas 4 Maret 2020 dengan salah satu agenda peningkatan produksi migas nasional, Presiden Joko Widodo telah meminta proyek strategis nasional dapat segera diselesaikan. Untuk itu, SKK Migas akan meningkatkan pengawasan agar proyek strategis nasional sektor migas dapat selesai pada waktu yang telah ditetapkan, bahkan kalau bisa bisa dipercepat,” jelasnya.

Dwi mengatakan, peningkatan pengawasan akan ditunjukkan SKK Migas melalui kunjungan lapangan oleh manajemen SKK Migas setiap akhir pekan. Langkah ini untuk memastikan agar proyek dapat selesai sesuai jadwal dan biaya yang efisien.

Proyek JTB dioperasikan oleh Pertamina EP Cepu (PEPC). Selain memberikan kontribusi yang besar pada tambahan gas nasional, selama pelaksanaan proyek ini telah memberikan dampak positif bagi Pemerintah Daerah dan masyarakat lokal.

Berdasarkan data SKK Migas, per Pebruari 2020, jumlah tenaga kerja yang terserap di proyek JTB sekitar 4.470 orang. Adapun dalam rangka mendukung ekonomi daerah dan peningkatan kapasitas pengusaha lokal, SKK Migas telah mewajibkan pengadaan barang dan jasa bernilai sampai Rp 10 miliar agar dilaksanakan oleh pengusaha daerah, sehingga pengusaha lokal memiliki kesempatan untuk berkembang dan menciptakan lapangan kerja.

Dalam kesempatan itu, Dwi menyampaikan apresiasi atas kerja keras dari PEPC dan Rekayasa Industri (Rekin). Pasalnya, dari empat proyek strategis nasional hulu migas, proyek JTB adalah satu-satunya yang dilaksanakan oleh perusahaan Indonesia yaitu KKKS Pertamina EP Cepu dan Kontraktor Engineering Procurement Construction (EPC) REKIN. Keduanya adalah perusahaan Merah Putih.

“Keberhasilan proyek JTB akan turut memberikan kebanggaan bagi bangsa Indonesia. Bahwa anak bangsa mampu mengemban tugas besar dan siap pula untuk menorehkan prestasi tingkat dunia. Mari tunjukkan perusahaan merah putih mampu menjadi tuan rumah di negeri sendiri dan bersiap menjadi pemain hulu migas tingkat global,” ungkap Dwi.

Kejar Keterlambatan

Sebelumnya, Direktur Utama PEPC, Jamsaton Nababan, memaparkan bahwa proyek JTB memiliki tantangan yang sangat besar. Pasalnya, kontraktor sebelumnya yang membangun EPC mengundurkan diri, sehingga aktivitas proyek sempat terhenti beberapa bulan.

“Terima kasih kepada SKK Migas yang telah membantu melewati masa sulit tersebut, sehingga pada akhirnya pembangunan EPC JTB dapat dilanjutkan oleh kontraktor baru yaitu Rekayasa Industri,” ujar Jamsaton.

Untuk mengawal agar proyek berjalan lancar, Pertamina mengintensifkan koordinasi dengan kontraktor EPC dan menempatkan inspektur pengawas di workshop milik vendor. Mekanisme ini diterapkan untuk mengejar keterlambatan target, dan proyek tetap dapat dibangun dengan kualitas terbaik dan mendukung kehandalan operasi kilang JTB saat nanti berproduksi.

Sementara Direktur Utama Rekin, Jakub Tarigan, menyampaikan bahwa sejak ditunjuk sebagai kontraktor EPC, pihaknya telah bekerja keras dan koordinasi yang intensif dengan SKK Migas dan Pertamina. Dengan begitu, keterlambatan proyek per Pebruari 2020 bisa diperpendek hanya 0,66 persen, atau ada percepatan sebesar 19,3 persen.

“Capaian ini luar biasa, di tengah tantangan hujan cukup ekstrim saat ini. Kami sudah siapkan sembilan pompa untuk memastikan maksimal dua jam lokasi proyek sudah kering sehingga aktivitas pekerjaan menjadi normal,” jelas Jakub.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here