Ketua Bidang Energi Seknas Jokowi, Tumpak Sitorus. (Petrominer/Sony)

Jakarta, Petrominer — Rencana Menteri dan Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mienral (ESDM) menerapkan sistem gross split untuk kontrak bagi hasil di sektor hulu minyak dan gas bumi (migas) dianggap bertentangan dengan UUD 1945. Tidak hanya itu, rencana ini juga telah mengkhianati program Nawacita Jokowi, di mana negara harus hadir dalam setiap sendi berkehidupan Ber-Bangsa dan Ber-Negara termasuk dalam pengelolaan hulu migas.

“Ada upaya-upaya dari pihak tertentu yang ingin menghilangkan kontrol dan peran Negara dalam pengelolaan strategis sumber daya alam Indonesia melalui penghapusan cost recovery dan menerapkan sistem bagi hasil dengan skema gross split,” Ketua Bidang Energi Seknas Jokowi, Tumpak Sitorus, Rabu (7/12).

Dalam kontrak kerja sama saat ini, yang menggunakan skema bagi hasil dengan cost recovery, regara dalam hal ini diwakili oleh Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) melakukan kontrol, pengawasan dan pengendalian, terhadap setiap rencana kerja dan anggaran yang dilakukan oleh Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) atau perusahaan minyak dan gas asing maupun nasional.

“Dengan sistem bagi hasil menggunakan cost recovery, negara melalui SKK Migas bisa memaksa KKKS menempatkan dananya di bank BUMN, bisa memaksa KKKS mengurangi tenaga kerja asing, bisa memaksa KKKS menggunakan produk-produk Indonesia, bisa memaksa KKKS menggunakan produk pengusaha lokal, bisa memaksa KKKS menggunakan hasil petani lokal, bisa memaksa KKKS membantu mengembangkan kemampuan masyarakat lokal,” tegas Tumpak.

Hal itu berbeda sekali dengan sistem bagi hasil menggunakan skema gross split, di mana KKKS diberi kewenangan penuh mengelola sendiri rencana anggaran dan kegiatan tanpa di kontrol oleh negara. Dengan demikian, sistem pengelolaan hulu migas dengan skema gross split adalah upaya liberalisasi sektor hulu migas di Indonesia.

Saat ini, Menteri dan Wakil Menteri ESDM sedang berupaya membuat Peraturan Menteri ESDM untuk penerapan sistem bagi hasil dengan skema gross split untuk diberlakukan di dalam pengelolaan hulu migas di Indonesia.

“Seknas Jokowi menolak tegas penerapan skema bagi hasil dengan sistem gross split karena bertentangan dengan Nawacita Jokowi. Ini sama saja dengan penghinaan dan pengkhianatan terhadap Presiden Jokowi,” tegasnya.

Seknas Jokowi, kata Tumpak, meminta Menteri dan Wamen ESDM tidak menjalankan kebijakan-kebijakan yang tidak sesuai dengan Nawacita Jokowi. “Kami ingin melanjutkan Pemerintahan Jokowi hingga tahun 2024 sehihgga kami ingin memastikan bahwa pembantu-pembantu Presiden sudah paham dengan langkah dan arah kebijakan Jokowi seperti tertuang dalam Nawacita,” ujarnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here