Jakarta, Petrominer — Tidak lama lagi, Bandara Soekarno-Hatta (Soetta) akan memenuhi kebutuhan energi listrik sendiri, tanpa mengandalkan pasokan dari luar. Sebuah Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) akan dibangun di bandara itu yang berlokasi di Cengkarang, Tangerang, Banten.
Kepastian pembangunan PLTG senilai Rp 1 triliun dengan kapasitas 50-60 megawatt (MW) ini dicapai menyusul ditandatanganinya Perjanjian Kerjasama Pembangunan Pembangkit Listrik Bandara Soekarno-Hatta di Jakarta, Rabu (11/5). Ini merupakan bagian dari program sinergi dari tiga badan usaha milik negara (BUMN), yakni PT Angkasa Pura II (AP II), PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN) dan PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA).
Untuk merealisasikan kerjasama itu, ketiga BUMN sepakat membentuk tim kerja untuk mempercepat realisasi dari kerjasama dimaksud. Ketiga perusahaan juga akan membentuk anak usaha dengan 51% saham dimiliki oleh AP II dan sisanya WIKA serta PGN.
Penandatanganan perjanjian kerjasama tersebut dilakukan oleh Presiden Direktur AP II Budi Karya Sumandi, Direktur Utama PGN Hendi Prio Santoso dan Direktur Utama WIKA, Bintang Perbowo, di kantor Kementerian BUMN. Acara penandatangan itu disaksikan oleh Deputi Menteri BUMN Bidang Usaha Konstruksi dan Sarana dan Prasarana Perhubungan Pontas Tambunan, Deputi Menteri BUMN Bidang Usaha Energi, Logistik, Kawasan dan Pariwisata Edwin Hidayat Abdullah dan para direksi dari AP II, PGN dan WIKA.
Berdasarkan kerjasama itu, ketiga BUMN akan mengembangkan sumber daya yang dimiliki untuk mengembangkan bisnis PLTG di Bandara Soetta. PGN sebagai BUMN gas akan memasok kebutuhan gas bumi bagi pembangkit listrik tersebut. Sementara WIKA, sebagai BUMN konstruksi akan melakukan proses pengadaan jasa konsultan penyusunan feasibilty study dan mengkoordinasikan dengan pihak lainnya. AP II yang merupakan pengelola Bandara Soetta akan menjadi pengguna utama dari produksi listrik yang dihasilkan oleh PLTG tersebut.
Presiden Direktur Angkasa Pura II Budi Karya Sumadi menjelaskan, sinergi yang melibatkan tiga BUMN ini merupakan solusi yang tepat untuk mewujudkan pembangunan pembangkit listrik yang sangat dibutuhkan oleh Bandara Soetta.
“Kami menyambut baik kerjasama dan sinergi ini untuk memenuhi kebutuhan listrik di Bandara Soetta yang terus meningkat. Operasionalisasi pembangkit listrik tenaga gas bumi ini merupakan bagian dari program AP II untuk memperkuat posisi Bandara Soetta sebagai pintu gerbang utama Indonesia,” jelas Budi.
Dia mengungkapkan, proyek pembangunan PLTG ini diharapkan bisa tuntas pada tahun 2017 mendatang. Pada saat itu, Bandara Internasional Soekarno-Hatta akan menjadi satu-satunya bandara di Indonesia yang memiliki PLTG sendiri guna memenuhi kebutuhan listrik.
Sementara Direktur Utama PGN Hendi Prio Santoso mengatakan, pembangunan pembangkit listrik di Bandara Soetta merupakan terobosan untuk mendorong pemanfaatan gas bumi di Indonesia. Sebagai BUMN gas, PGN terus berusaha dan mengambil inisiatif untuk memperluas penggunaan gas bumi di berbagai sektor ekonomi di Indonesia.
“Kami gembira dapat ikut berpartisipasi dalam program pembangunan pembangkit listrik tenaga gas ini. Sebagai energi yang sumbernya masih sangat besar di Indonesia, gas bumi dapat menjadi bagian dari solusi untuk memenuhi kebutuhan energi nasional, termasuk di Bandara Soetta,” kata Hendi.
Sementara itu Direktur Utama WIKA, Bintang Perbowo, menyatakan akan memberikan dukungan penuh bagi terwujudnya proyek PLTG ini. Melalui sinergi ketiga BUMN, proyek pembangunan pembangkit listrik Bandara Soetta dapat berjalan maksimal.









Tinggalkan Balasan