(Kiri- kanan) Alfian Fransiskus (Direktur PT Golden Blossom Sumatra), Alfian Fransiskus, Edwin Rosario (Direktur Golden Blossom Sumatra), Irwandy Arif (staf khusus percepatan bidang tata kelola Minerba Kementerian ESDM), Zulfian Mirza (Dirut PT Sumber Energi Sukses Makmur) dan M.Hamza (Direktur Sumber Energi Sukses) berpose usai penandatangan kontrak kerja sama di Jakarta, Kamis (27/2).

Jakarta, Petrominer – PT Sumber Energi Sukses Makmur (SESM), perusahaan energi terintegrasi, menandatangani kontrak kerjasama dengan perusahaan perkebunan sawit, PT Golden Blossom Sumatra. Kedua perusahaan berencana membangun pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) Musi Green Hybrid berkapasitas 10,5 megawatt (MW) di Sumatera Selatan.

“Setelah penandatanganan ini, kami akan mulai proses instalasi yang membutuhkan waktu sekitar 8 bulan sebelum commissioning,” kata Direktur Utama SESM, Zulfian Mirza, usai menandatangani kontrak kerja sama penyediaan fasilitas PLTS Musi Green Hybride 10,5 MW, Kamis (27/2)

Berdasarkan kotrak ini, SESM akan membangun PLTS Musi Green Hybrid 10,5 MW dan mengoperasikannya selama 20 tahun. Golden Blossom berencana memperbesar kebutuhan pasokan listrik hingga 20 MW. Dalam kerjasama ini, Golden Blossom hanya akan membayar biaya produksi listrik yang digunakan, sementara biaya investasi pembangunan PLTS ditanggung sepenuhnya oleh SESM.

Zulfian mengatakan ada sejumlah keuntungan yang diperoleh pelaku industri yang mengaplikasikan PLTS seperti di Sumatera Selatan ini. Pertama, model ini menawarkan biaya yang lebih efisien dibandingkan menggunakan bahan bakar diesel. Dan, PLTS ini juga turut mengurangi emisi karbon dioksida.

Menurutnya, PLTS Musi Green Hybrid 10,5 MW dapat mengurangi hingga 0,9 ton polutan untuk setiap 1 MW listrik yang dihasilkan. Dengan demikian, operasional PLTS ini dapat mengurangi hingga 10 ton karbon dioksida. Selain itu, keuntungan bagi pelaku industri perkebunan sawit adalah akan meningkatkan kandungan green product-nya karena menggunakan energi non-fosil.

Lebih lanjut, Direktur SESM, Muhammad Hamza, menjelaskan bahwa PLTS Musi Green Hybrid 10,5 MW, sebagai pembangkit listrik offgrid, akan menyediakan pasokan listrik yang handal untuk operasional pabrik pengolahan milik Golden Blossom selama 5 jam per hari.

“Listrik yang dihasilkan dipakai sebagai baseload pada siang hari dan dapat disimpan di sistem penyimpanan untuk dipakai di malam hari,” kata Hamza.

Jika dibandingkan pembangkit listrik tenaga diesel, dia mengatakan PLTS bisa lebih hemat biaya bahan bakar sampai 11 persen. Ini tentunya menjadi keuntungan tersendiri bagi pelaku industri yang memiliki keterbatasan akses pada pasokan bahan bakar diesel.

Kontrak baru dengan Golden Blossom ini merupakan salah satu rangkaian proyek SESM untuk membangkitkan listrik sekitar 100 MW listrik dari PLTS pada tahun 2020 ini. Ada beberapa rencana proyek PLTS atap rumah dan PLTS di lahan bekas tambang yang masih dalam tahap negosiasi. Khusus untuk rencana proyek PTLS di lahan bekas tambang, SEMS mengincar proyek berkapasitas 15 MW di wilayah timur Indonesia.

Sementara itu, Staf Khusus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Irwandy Arif, menyampaikan harapannya agar kerjasama dapat berjalan baik, terutama dalam mendukung ketersediaan listrik bagi daerah. Terkait adanya rencana mendorong berkembangnya ladang energi di lahan bekas tambang, Irwandy mengaku bahwa Menteri ESDM sudah berkali-kali mendorong agar perusahaan tambang batubara bisa memanfaatkan lahan tambangnya untuk mendukung kebutuhan energi nasional.

“Pembangkit listrik tenaga surya itu memang sangat disarankan berkali-kali oleh Menteri. Pembangkit listrik tenaga surya itu sebaiknya sudah dirintis sebelum tambang tutup di lahan yang sudah kosong,” ujar pria yang juga menjabat Ketua Indonesian Mining Institute.

Menurut Irwandy, pembangunan PLTS sejak awal bisa digunakan untuk mendukung kebutuhan listrik masyarakat di wilayah sekitar operasi tambang. Kalau tak bisa membangun di lahan bekas tambang yang kosong dan tidak produktif, perusahaan bisa membangun di atap rumah untuk mendukung masyarakat.

Pembangunan PLTS cocok di wilayah remote area dan dapat memberi dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi masyarakat sekitar perkebunan atau wilayah pertambangan. Mengingat listrik merupakan kebutuhan primer bagi perkembangan industri, dia memandang proyek pembangunan PLTS seperti Musi Green Hybrid 10.5 MW yang dikembangkan SESM dapat berkontribusi bagi pengembangan daerah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here