Jakarta, Petrominer – Pemerintah terus berupaya mencari potensi untuk mengurangi emisi karbon guna mendukung penyusunan Second Nationally Determined Contribution (2nd NDC). Salah satunya melalui pembatasan routine flaring, pemanfaatan gas suar dan pengembangan Carbon Capture and Storage (CCS)/Carbon Capture Utilization and Storage (CCUS).
Direktur Teknik dan Lingkungan Migas, Mirza Mahendra, mengungkapkan Indonesia menyusun NDC yang pertama pada November 2016, dan target reduksi 314 juta ton CO2 dengan upaya sendiri. Dilanjutkan Enhanced NDC, yang sudah disubmit oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada 23 September 2022.
“Kemudian, sesuai mandat Paris Agreement, paling lambat tahun 2025 akan menyusun Second NDC, sehingga perlu kontribusi subsektor migas untuk masuk ke dalamnya, seperti pemanfaatan gas suar bakar,” ungkap Mirza dalam acara “Green Business Initiatives to Invest in Our Planet,” Senin (13/2) lalu.
Selama ini, upaya mitigasi subsektor migas yang telah tercantum dalam NDC adalah program subtitusi bahan bakar minyak ke rendah karbon. Di antaranya adalah fuel switching BBM transportasi (RON 88 ke RON 92), program konversi minyak tanah ke LPG, penggunaan gas alam sebagai bahan bakar angkutan umum perkotaan dan peningkatan sambungan rumah yang teraliri gas bumi melalui pipa atau jaringan gas rumah tangga.
Sementara pelaksanaan pengelolaan gas suar pada kegiatan usaha migas diatur dalam Permen ESDM Nomor 17 tahun 2021 tentang Pengelolaan Gas Suar pada Kegiatan Usaha Migas. Langkah-langkah yang dilakukan dalam rencana upaya mitigasi dari pemanfaatan gas suar dalam second NDC diantaranya adalah melakukan penyusunan pedoman pelaporan pengelolaan gas suar, penentuan baseline emisi gas suar dan penyusunan metodologi perhitungan mitigasi emisi dari pemanfaatan gas suar.
Mirza menjelaskan penerapan CCS/CCUS merupakan salah satu rencana aksi dalam program pengelolaan emisi CO2 di sektor migas. Teknologi ini memiliki peran penting dalam mendukung target penurunan emisi Indonesia dan pada saat yang sama juga dapat meningkatkan produksi minyak dan gas melalui CO2-EOR atau EGR.
Proses pengaliran CO2 konsentrasi tinggi menjadikan natural gas processing sebagai salah satu aplikasi CCS/CCUS yang paling murah. Berdasarkan data studi Balai Besar Pengujian Minyak dan Gas Bumi LEMIGAS, Indonesia memiliki potensi penyimpanan sekitar 2 Giga Ton CO2 pada reservoir migas dan 10 giga ton CO2 di saline aquifer.
“Dengan kapasitas penyimpanan CO2 yang besar berpotensi mendukung peran CCS/CCUS dalam menurunkan emisi menuju Net Zero Emission,” jelasnya.
Lapangan migas di Indonesia memiliki banyak kandungan CO2 yang tinggi sehingga dengan adanya CCS/CCUS diharapkan dapat menjadi solusi teknologi untuk mengembangkan lapangan tersebut, terutama untuk natural gas value chain di mana lapangan gas dengan konsentrasi CO2 yang tinggi akan memerlukan pemisahan CO2 untuk memenuhi standar pasar gas alam atau LNG.








Tinggalkan Balasan