Jakarta, Petrominer — Federasi Serikat Pekerja Pertamina Bersatu (FSPPB) menggelar Musyawarah Nasional Luar Biasa (munaslub). Tema yang diusung adalah “Bangun Konsistensi Semangat Kejuangan Pekerja Dalam Mempertahankan Kelangsungan Bisnis Pertamina Dari Rongrongan Internal/Eksternal.”
Ketua Dewan Penasehat Federasi Serikat Pekerja Pertamina Bersatu (FSPPB) Ugan Gandar menyatakan bahwa dirinya dan seluruh anggota Serikat Pekerja Pertamina siap pasang badan terhadap rongrongan antek neo liberalis yang ingin mengkerdilkan dengan membuat skema unbundling.
“Kami pekerja ini kan di Pertamina masa kerjanya lebih panjang dari daripada Direksi. Direksi paling lama mungkin hanya sekitar 10 tahunan. Untuk itu kalau Direksi ada agenda terkait masa depan Pertamina maka sebaiknya dibicarakan dahulu dengan kami. Jangan main teken saja,” tegas Ugan, Selasa (22/3).
Sebab, katanya, Pertamina adalah representastif bangsa. Maka sebagai perusahaan minyak dan gas maka tentunya banyak pihak yang ingin mengkerdilkan Pertamina dari luar atau dalam. Salah satu indikasinya adalah upaya unbundling yaitu strategi memecah perusahaan Pe menjadi Pertamina menjadi anak-anak perusahaan yang kecil-kecil.
“Strategi ini pastinya nanti efektif untuk pihak asing bisa menguasai Pertamina dikarenakan mereka juga mempunyai modal besar,” katanya.
Ketika ditanya Petrominer akan konsep apa yang menurutnya bagus agar kerjasama dengan investor bisa terlaksana, Ugan menjawab; “Tetap pakai konsep bermitra saja. Ini sudah sangat cukup. Kita terbuka kalau untuk ini,” katanya.
Ia mengaku tidak alergi terhadap berbagai investor dari domestik dan asing asalkan mitra tersebut tidak boleh menekan Pertamina utamanya untuk kepemilikan saham.
Senada dengan Ugan, Pengamat Ekonomi Ichsanudin Noorsiy juga menyatakan bahwa pihak-pihak Neolib sudah lama terindikasi ingin menggerogoti dan menghancurkan Pertamina. Ini terindikasi dari berbagai dokumen diplomatik yang dirahasiakan.
Selain para diplomat ada juga Lembaga Keuangan Internasional yang ingin memecah dan mengkerdilkan Pertamina dengan dalih perbaikan didalam dokumen-dokumennya.
“Dokumen-dokumen itu menggunakan gaya bahasa semantik yang besayap. Artinya banyak penipuan dan kedok dalam upaya perbaikan itu. Karena fakta nya justru sebaliknya. Mereka menjadi rentenir justru ingin mengusai sumber daya alam kita dan memiskinkan Negeri kita ini. Apa kita mau jadi babu mereka?” tukas Noorsy ketika menjadi pembicara di Munaslub FSPBB.








Tinggalkan Balasan