Sepanjang 2024, Sektor Energi Dominasi Pertumbuhan CCUS

0
743
Karbon harus disimpan atau dimanfaatkan melalui teknologi penangkapan dan pemanfaatan karbon (carbon capture utilizaion and storage/CCUS).

Jakarta, Petrominer – Penangkapan, pemanfaatan, dan penyimpanan karbon (carbon capture, utilization, and storage/CCUS)) dengan cepat muncul sebagai sebuah solusi utama dalam transisi energi. Teknologi ini menawarkan jalur realistis untuk mendekarbonisasi sektor-sektor yang sulit dikurangi seperti industri semen, baja, penyulingan (kilang), dan pembangkit listrik batubara (PLTU).
trwin
Menurut GlobalData, perusahaan minyak dan gas bumi (migas) memainkan peran utama dalam pengembangan dan penerapan CCUS. Pada tahun 2024, lebih dari 70 persen fasilitas CCUS yang beroperasi dan direncanakan selalu terkait dengan aset-aset energi. Hal ini menunjukkan komitmen yang semakin besar dari sektor energi untuk mengurangi intensitas emisinya melalui inovasi dalam teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon.

Dalam laporan terbarunya bertitel “Carbon Capture and Storage,” perusahaan data dan analitik ini mengungkapkan bahwa lebih dari 50 proyek penangkapan karbon skala komersial telah aktif di sektor energi saja di tahun 2024. Jumlah ini mewakili kapasitas penangkapan karbon kumulatif sekitar 45 juta ton per tahun (mtpa).

“Dengan asumsi semua proyek yang diusulkan beroperasi, kapasitas penangkapan karbon global di sektor energi dapat meningkat hingga hampir 316 mtpa pada tahun 2030 mendatang,” tulis laporan intelejensi strategis GlobalData yang diperoleh PETROMINER, Kamis (17/7).

Analis Migas GlobalData, Ravindra Puranik, mengatakan tidak seperti tren energi bersih yang didorong oleh konsumen, adopsi CCUS sebagian besar dipengaruhi oleh kerangka regulasi dan ekonomi, dengan visibilitas yang terbatas bagi pengguna akhir. Kebijakan seperti Sistem Perdagangan Emisi (Emissions Trading System/ETS) Uni Eropa, mekanisme penetapan harga karbon di Kanada, serta kredit pajak 45Q di AS telah berperan penting dalam membuka peluang komersial bagi pemanfaatan CCUS.

“Kerangka kerja ini telah membantu mengimbangi tingginya biaya modal dan operasional penerapan CCUS, terutama di industri yang padat energi, dan mendorong munculnya proyek-proyek skala besar secara global,” jelas Puranik.

Perusahaan migas terkemuka seperti ExxonMobil, Occidental Petroleum, dan Equinor telah mengambil inisiatif awal dalam pemanfaatan CCUS. Langkah ini didukung oleh perusahaan-perusahaan teknik dan jasa penunjang seperti Technip Energies, Mitsubishi Heavy Industries (MHI), dan Schlumberger (SLB). Perusahaan-perusahaan ini telah memanfaatkan keahlian mereka dalam pelaksanaan proyek skala industri untuk mengembangkan dan menjalankan strategi penangkapan karbon di seluruh operasi hulu dan hilir.

Menurut laporan GlobalData, terdapat 17 proyek penangkapan karbon dalam tahap pengembangan lanjutan yang diperkirakan akan mulai beroperasi akhir tahun ini. Selain itu, sekitar 460 proyek penangkapan karbon lainnya sedang dikembangkan secara global di berbagai industri. Tentunya, hal ini akan menghasilkan pertumbuhan kapasitas yang signifikan hingga tahun 2030.

Meskipun memiliki momentum, CCUS masih menghadapi berbagai tantangan yang mengancam akan memperlambat peningkatan skalanya. Salah satu tantangan utamanya adalah biaya awal yang tinggi, kurangnya infrastruktur transportasi dan penyimpanan CO₂ yang dikembangkan secara menyeluruh, dan terbatasnya aplikasi komersial untuk CO₂ yang ditangkap.

Selain itu, renovasi fasilitas yang ada seringkali menambah kompleksitas. Tentunya, ini menyulitkan keekonomian proyek tanpa dukungan kebijakan yang konsisten.

“Selain itu, ketidakpastian regulasi seputar proses perizinan, transportasi CO₂ lintas batas, dan liabilitas jangka panjang atas karbon yang tersimpan terus menimbulkan risiko bagi investor. Skeptisisme publik juga masih ada, dengan beberapa kritikus memandang CCUS sebagai strategi untuk memperpanjang umur bahan bakar fosil, alih-alih sebagai alat yang sah untuk mengurangi emisi. Ketiadaan standardisasi dan sifat rantai nilai CCUS yang terfragmentasi semakin membatasi kemampuan untuk menerapkan solusi yang terintegrasi dan terukur,” ujar Puranik menyimpulkan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here