Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita.

Jakarta, Petrominer – Kementerian Perindustrian sedang mengupayakan agar semua industri bisa menikmati harga gas khusus sebesar US$ 6 per MMBTU. Langkah strategis ini dilakukan sebagai bagian dari upaya mengakselerasi pemulihan ekonomi nasional akibat imbas pandemi Covid-19.

Menurut Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, Pemerintah akan memperluas cakupan industri yang akan menikmati harga gas khusus. Sebelumnya, hanya tujuh sektor industri yang mendapat harga khusus dalam program yang telah dimulai berlangsung sejak sebelum terjadinya pandemi Covid-19 di tahun 2020.

“Kami sudah berkoordinasi dengan Bapak Menteri ESDM agar semua sektor industri, tidak hanya 7 sektor industri yang selama ini menikmati harga gas di bawah US$ 6 per MMBTU, tetapi diperluas kepada seluruh sektor industri yang membutuhkan gas sebagai bahan baku. Jadi kami berikan kesempatan semua industri, menikmati kebijakan ini,” ujar Agus, Jum’at (7/5).

Langkah strategis ini, jelasnya, bertujuan agar produk-produk industri memiliki daya saing tinggi. Kemenperin mengharapkan berbagai insentif yang diberikan akan membawa dampak positif terhadap percepatan pertumbuhan industri manufaktur. Misalnya industri baja, semen, kaca, keramik, dan industri lainnya.

Dalam rangka penguatan industri, Pemerintah juga telah mendorong berbagai bentuk kebijakan lainnya. Antara lain melalui implementasi izin operasional dan mobilitas kegiatan industri (IOMKI), relaksasi Pajak Penjualan atas Barang Mewah Ditanggung Pemerintah (PPnBM-DTP) bagi kendaraan bermotor, serta perluasan sektor yang akan menikmati harga gas industri US$ 6 per MMBTU sebagai bahan bakunya.

Stimulus tersebut berdampak positif terhadap geliat sektor industri. Hal ini terlihat dalam sepanjang enam bulan terakhir, sejak kuartal IV tahun 2020 hingga kuartal I-2021, tren pertumbuhan industri manufaktur menunjukkan perbaikan. Bahkan angka pertumbuhannya lebih baik dibandingkan angka pertumbuhan ekonomi secara kuartalan.

Sektor-sektor yang menjadi prime mover dari pertumbuhan kuartalan ini adalah industri kimia, farmasi dan obat tradisional. Kemudian diikuti industri furnitur, industri logam dasar, industri karet, barang dari karet dan plastik, industri mesin dan perlengkapan, serta industri makanan dan minuman.

“Bila kita lihat secara year on year, industri nonmigas masih menunjukkan angka kontraksi 0,71 persen, tetapi apabila kita lihat angka kontraksi tersebut berada di atas pertumbuhan ekonomi, yaitu minus 0,74 persen,” ungkap Agus.

Dia menyebutkan, industri yang bertumbuh positif secara tahunan adalah industri kimia, farmasi dan obat tradisional sebesar 11,46 persen, disusul industri furnitur 8,04 persen, industri logam dasar 7,71 persen, industri karet, barang dari karet dan plastik 3,84 persen, industri mesin dan perlengkapan 3,22 persen, serta industri makanan dan minuman 2,45 persen.

“Saat ini, belanja masyarakat masih rendah, sehingga mempengaruhi daya beli masyarakat terhadap industri makanan dan minuman. Namun demikian kami yakin pada kuartal kedua, pertumbuhan industri sudah bisa masuk teritori positif, seiring dengan meningkatnya aktivitas ekonomi. Artinya, Pemerintah sangat optimistis terhadap pertumbuhan ekonomi ke depan,” ujarnya.

Optimisme itu didukung dengan capaian gemilang sektor industry belakangan ini. Misalnya, pada bulan Maret 2021, tercatat Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur Indonesia berada di level tertinggi sepanjang sejarah, yaitu 53,2. Di bulan April, naik menjadi 54,6.

Sejalan dengan kenaikan PMI tersebut, utilisasi industri pengolahan nonmigas pada bulan Maret 2021 sebesar 61,30 persen. Angka ini meningkat dibandingkan dua bulan sebelumnya.

Menurut Agus, sektor industri pengolahan nonmigas masih menjadi motor penggerak roda perekonomian nasional pada kuartal I tahun 2021. Terlihat dari kontribusinya terhadap PDB nasional sebesar 17,91 persen, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun 2020 yang tercatat 17,86 persen.

Nilai ekspor sektor industri pada Januari-Maret 2021 mencapai US$ 38,95 miliar dan menghasilkan neraca surplus senilai US$ 3,69 miliar. Tiga industri yang memberikan nilai terbesar, yakni industri makanan US$ 9,68 miliar, industri logam dasar US$ 5,86 miliar, serta industri bahan kimia, farmasi dan obat tradisional US$ 4,30 miliar.

Sementara nilai investasi sektor industri pada periode Januari-Maret 2021 sebesar Rp 88,3 triliun, naik 37,97 persen jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Nilai investasi terbesar diberikan oleh industri logam, mesin dan elektronik Rp 31,2 triliun, industri makanan Rp 21,8 triliun, serta industri kimia dan farmasi Rp 9,4 triliun.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here