Semester Pertama 2025, Kinerja Operasional Pertamina Meningkat

0
817
Direktur Utama Pertamina, Simon Aloysius Mantiri, Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VI DPR RI, Kamis (11/9).

Jakarta, Petrominer – PT Pertamina (Persero) mampu meningkatkan kinerja operasional dan menjaga kinerja keuangan tetap positif pada semester pertama tahun 2025. Penguatan kinerja operasional ini dilakukan dalam rangka mendorong tercapainya swasembada energi untuk mencapai pertumbuhan ekonomi Indonesia, sesuai target Asta Cita Pemerintah Indonesia.

Hingga Juli 2025, menurut Direktur Utama Pertamina, Simon Aloysius Mantiri, Pertamina menjaga produksi migas di atas 1 juta barel setara minyak per hari (BOEPD). Tidak hanya itu, badan usaha milik negara (BUMN) ini juga berhasil meningkatkan cadangan migas baru untuk mendukung ketahanan energi secara berkelanjutan.

“Pertamina mencatat beberapa capaian, di antaranya temuan cadangan migas baru sebesar 724 juta barel setara minyak (MMBOE) di wilayah kerja Rokan,” ujar Simon pada Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VI DPR RI, Kamis (11/9).

Pada periode paruh pertama tahun 2025, Pertamina telah berhasil menjalankan berbagai program strategis seperti memproduksi Sustainable Aviation Fuel (SAF) pertama di Asia Tenggara dengan kapasitas produksi 9.000 barel per hari, pengoperasian Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Lumut Balai dengan kapasitas 800 gigawatt hour (GWh) serta revitalisasi tangki Arun dengan kapasitas 127.200 m³ yang ditargetkan selesai akhir 2025 mendatang.

Pertamina SAF merupakan bahan bakar pesawat berkelanjutan yang dihasilkan melalui teknologi co-processing antara Kerosene (minyak tanah) dan minyak jelantah atau minyak goreng bekas pakai (Used Cooking Oil/UCO). “Ekosistem bisnis UCO SAF bukan hanya mendukung swasembada energi nasional namun juga mampu mendorong perekonomian mikro dan ekonomi sirkuler,” jelas Simon.

Program strategis lainnya adalah menjalankan proyek Palawan di Filipina dengan kapasitas 285 megawatt (MW) serta meluncurkan Pertamax Green 95 di 160 outlet dengan volume penjualan 4,83 ribu kiloliter (KL) sampai dengan Juli 2025.

Pertamina juga berhasil menjaga kinerja keuangan tetap positif meskipun menghadapi penurunan parameter yang signifikan pada harga minyak mentah, solar, dan kurs Dolar AS dibandingkan periode yang sama tahun 2024.

Hingga Juli 2025, Pertamina mencatat pendapatan US$ 40,9 miliar atau setara Rp 672 Triliun, dengan EBITDA US$ 6,2 miliar (setara Rp 102,8 Triliun).

“Pertamina mampu mempertahankan kinerja keuangan dan operasional yang handal melalui berbagai upaya dan respon strategis,” papar Simon.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here