Presiden Indonesian Petroleum Association (IPA), Tumbur Parlindungan.

Jakarta, Petrominer – Indonesian Petroleum Association (IPA) mengakui cadangan minyak dan gas bumi (migas) di Indonesia masih relatif besar di kawasan Asia Tenggara, bahkan di Asia. Cadangan ini bisa diwujudkan melalui kegiatan eksplorasi untuk mengembalikan kejayaan sektor hulu migas nasional.

“Kini, tinggal tugas Pemerintah lah untuk mengembalikan minat dan kegairahan investor global untuk melakukan eksplorasi dan eksploitasi migas. Meski begitu, Pemerintah optimistis akan hal tersebut, lantaran sudah ada komitmen beberapa kontraktor untuk melakukan kegiatan eksplorasi dan eksploitasi,” ujar Presiden IPA, Tumbur Parlindungan, Rabu (29/5).

Menurut Tumbur, perlu ada tambahan cadangan migas yang diwujudkan dengan eksplorasi. Sayangnya dalam 15 tahun terakhir aktivitas eksplorasi cukup minim terjadi di Indonesia. Padahal, negara lain yang cadangan migasnya di bawah Indonesia sudah banyak berbenah untuk menghadirkan investasi hulu migas.

Dia menyebukan bahwa Indonesia bisa meniru apa yang telah dikerjakan Malaysia dalam mendorong tambahan cadangan ataupun produksi minyak. Langkah yang ditempuh negara lain di antaranya adalah memperbaiki rezim fiskal. Dengan begitu, investor punya banyak opsi untuk berinvestasi.

“Kalau Indonesia dianggap kurang menarik dan sementara negara lain lebih menarik, tentu mereka akan masuk ke sana,” tegas Tumbur.

Berdasarkan data IEA, Malaysia telah berhasil menjaga tren produksi minyaknya berkisar 700.000 BOPD selama periode tahun 2000-2018. Berdasarkan data theglobaleconomy.com, produksi minyak Malaysia sebesar 755.700 BOPD pada tahun 2000, dan pada tahun 2018 sebesar 736.280 BOPD. Capaian produksi minyak di bawah 700.000 BOPD hanya terjadi pada kurun waktu tahun 2011 – 2014.

Terkait cadangan minyak Malaysia, tercatat adanya penurunan sebesar 20 persen dalam kurun waktu tahun 2000–2016, dari 4,5 miliar barel menjadi 3,6 miliar barel. Sementara itu, Indonesia mengalami penurunan cadangan minyak yang signifikan dari 5,1 miliar barel pada tahun 2001, menjadi sekitar 3,3 miliar barel pada akhir tahun 2016.

Hal ini, menurutnya, patut menjadi perhatian seluruh pemangku kepentingan, mengingat porsi migas dalam kebutuhan energi nasional masih tertinggi bila dibandingkan batubara ataupun energi baru terbarukan (EBT). Berdasarkan Rencana Umum Energi Nasional (RUEN), target bauran energi fosil pada tahun 2025 mencapai 47 persen, dan pada tahun 2050 sebesar 43,5 persen.

Berdasarkan RUEN, diproyeksi produksi minyak bumi nasional sebesar 567.000 barrel oil per day (BOPD) pada tahun 2025, dan pada tahun 2050 sebesar 698.000 BOPD. Sementara itu, untuk kebutuhan kilang minyak mentah nasional pada 2025 mencapai 2,19 juta BOPD dan meningkat menjadi 4,61 juta BOPD pada 2050.

“Dengan asumsi produksi minyak nasional diserap 100 persen untuk kebutuhan domestik, maka impor minyak mentah nasional pada tahun 2025 berkisar 1,67 juta BOPD dan 3,92 juta BOPD pada tahun 2050,” ujar Tumbur.

Bicara kondisi terkini terutama terkait cadangan migas, terjadi peningkatan cadangan di gas bumi, sementara cadangan minyak mengalami penurunan. Berdasarkan data SKK Migas tahun 2018, cadangan minyak sebesar 226,62 Million Stock Tank Barrels (MMSTB), atau menyusut sebesar 334,05 MMSTB dibandingkan tahun 2017. Sementara cadangan gas bumi sebesar 3.387,81 Billion Standard Cubic Feet (BSCF) pada tahun 2018, atau meroket dari cadangan tahun 2017 yang sebesar 578,47 BSCF.

Ke depannya, IPA berharap Pemerintah Indonesia bisa terus meningkatkan kualitas investasi hulu migas agar lebih banyak investor global yang datang ke tanah air untuk mengeksplorasi ataupun mengembangkan blok migas. Apalagi berbekal pengalaman bahwa kita pernah mampu menarik investor global, yakni era proyek LNG Bontang, Blok Rokan dan Blok Mahakam.

Meskipun investor memahami tingginya risiko bisnis di hulu migas, namun mereka tetap mencari tempat investasi yang bisa memberikan potensi reward lebih besar ketimbang risiko bisnisnya. Inilah tantangan pemerintah meyakinkan investor migas global untuk datang menanamkan modalnya.

“Mungkin risikonya sama, tapi bagaimana kalau potensi keuntungan keekonomian di sana lebih bagus? Contoh lain agar investor tertarik datang adalah dimulainya proyek-proyek besar yang sedang didiskusikan, seperti Indonesia Deepwater Development (IDD) dan Proyek LNG Abadi. Dengan begitu, investor yakin untuk melakukan eksplorasi ataupun pengembangan,” ucap Tumbur.

Dia optimistis masa depan industri hulu migas nasional akan cerah dengan dukungan segala pihak. Upaya memangkas kebijakan yang tidak pro-bisnis hingga melakukan promosi temuan-temuan di area migas nasional dapat menjadi jalan untuk investor masuk.

“Saya kira tidak hanya di ASEAN, di tingkat Asia pun kita masih dipandang penting untuk sektor migas. Tinggal sekarang bagaimana mengundang pemain besar datang,” tegas Tumbur.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here